
Pagi ini di ruang kerja Satya.
"Aku dengar kemarin kamu mengunjungi Hilya?" tanya seorang pria yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
"Iya," jawab Satya dengan tetap berkonsentrasi pada file yang ada di hadapannya. "Aku katakan pada gadis itu kalau aku akan jarang menemuinya, karena proyekku di luar kota belum selesai," tambah Satya.
"Bagaimana? Apa kamu merasakan sesuatu setelah bertemu dengannya?"
"Tidak, tidak ada yang berbeda dari diriku," sahut Satya seraya menutup map file yang sudah dia pelajari. "O, ya. Ayo kita pergi sekarang!" Ajak pria itu kemudian pada sahabatnya.
Akhirnya mereka berdua pun pergi bersama dalam satu mobil. Tidak ada yang mereka bicarakan saat di dalam mobil, hingga kemudian sampailah mereka di sebuah tanah kosong yang ada di persimpangan jalan utama sebuah perumahan elite.
"Aku sudah temukan lokasi yang bagus untuk pembangunan Beutik Clarissa. Bagaimana menurutmu?" tanya pria itu pada sahabatnya saat memarkir mobil di tanah kosong seluas seratus meter persegi.
"Ya, bagus," sahut Dirga seraya mengikuti pria yang mulai keluar dari mobilnya. "Cukup strategis," tambahnya.
"Aku serahkan proyek ini padamu! Aku sudah desain bentuknya, dan aku ingin proyek ini selesai sebelum Clarissa datang," ungkap Satya. "O, ya. Clarissa tiba dua bulan lagi, ternyata ujian akhirnya dipercepat. Jadi, aku harap, proyek ini selesai dalam jangka waktu dua bulan!"
Satya menepuk-nepuk lengan sahabatnya yang hanya terdiam. Tampak wajah pria berkulit sawo matang itu datar tidak berekspresi.
"Hmmmmh..."
Kemudian pria bertubuh atletis berkulit sawo matang itu menghelan nafas panjang dan mengangguk-anggukkan kepala.
Waktu terus berlalu, satu bulan telah berakhir, pembangunan sebuah ruko berlantai dua milik Satya berjalan lancar. Dirga yang memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pembangun tersebut, cukup bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Meskipun sangat banyak tugas lain sebagai pengacara yang harus dia selesaikan.
Disela-sela kesibukan Dirga selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Hilya, seorang gadis cantik yang tinggal di apartemen sahabatnya.
Dirga terlihat sangat memperhatikan Hilya, semakin hari, laki-laki ini semakin merasa simpati pada Hilya. Dia menganggap gadis desa yang dinikahi sahabatnya itu sebagai saudara perempuannya.
Seperti siang ini, disela-sela kesibukan Dirga menyempatkan diri mengunjungi apartemen Hilya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dirga saat melihat gadis cantik berkerudung coklat muda itu sedang duduk di meja makan apartemennya.
"Baik, mas Dirga mau minum apa?" tanya Hilya sembari menutup sebuah Al Qur'an kecil yang tengah dia baca.
"Tidak usah, aku sudah minum tadi," sahut Dirga dengan tersenyum. "O, ya. Ini aku bawa sayur dan bahan makanan yang lain, simpan di kulkasmu!"
Hilya tersenyum seraya meraih bahan makanan yang disodorkan Dirga.
Berlahan gadis ini berjalan menuju kulkas dan menata bahan-bahan makanan tersebut.
Tiba-tiba terdengar handphone di saku Dirga berdering.
__ADS_1
"Ada dimana kamu?" tanya seorang laki-laki di dalam telepon, saat Dirga berada di apartemen Hilya.
"Aku di apartemenmu. Apa kamu mau bicara dengan istrimu?"
"Mmm... Boleh, berikan handphonemu padanya!"
Dirga mulai menurunkan handphone yang semula ditempelkan di telinganya.
"Hilya suamimu mau bicara!" seru Dirga kemudian.
Seketika Hilya melangkah menuju Dirga. Diambilnya handphone Dirga yang disodorkan padanya.
"Assalamualaikum mas!" kata wanita itu menyapa suaminya.
"Waalaikum salam," jawab Satya. "Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah aku sehat. Mas Satya bagaimana kabarnya?"
"Aku juga sehat."
"Alhamdulillah."
"O, ya. Kamu sudah makan?" tanya Satya pura-pura perhatian.
"Puasa apa? Bukankan ini bukan bulan ramadhan?"
"Mmm... Aku puasa agar Mas Satya selalu dilindungi oleh Allah, pekerjaan mas Satya lancar, dan bisnis Mas Satya semakin berkembang," ucap Hilya.
Terlihat mulut Satya bergeming saat mendengar kata-kata yang diucapkan Hilya. Meskipun kata-kata itu hanya dia dengar dalam telepon, namun cukup mampu mempengaruhi emosinya.
Jantung Satya tiba-tiba berdetak kencang, aliran darahnya naik turun. Sungguh ungkapan doa yang disampaikan Hilya mampu membuat hatinya bergetar.
"Ooh... Terimakasih, jaga kesehatanmu! Setelah pekerjaanku selesai aku akan segera pulang!" kata pria itu lirih, sembari menutup teleponnya.
Setelah percakapan itu berakhir, Hilya mengembalikan handphone yang dipegangnya kepada Dirga.
"Bicara apa suamimu?" tanya Dirga kepada Hilya.
"Dia bilang akan segera pulang kalau pekerjaannya sudah selesai."
"Oooh... Dia memang masih sibuk, kamu sabar ya!" ucap Dirga kemudian.
"O, ya. Mas Dirga mau aku buatkan makanan?" Hilya kembali menawarkan diri untuk membuatkan sesuatu yang bisa dinikmati tamunya.
__ADS_1
"Tidak usah, aku sibuk. Aku mau kembali ke kantor," jawab Dirga dengan tersenyum. "Jaga dirimu ya!" kata Dirga. "Jika butuh sesuatu, jangan sungkan bicara padaku!" lanjutnya sembari berbalik meninggalkan Hilya.
Siang itu telah berlalu, hari telah berganti, dan keesokan harinya, terlihat Dirga kembali menemui Satya di ruang kerjanya.
"Selamat ya kawan!" kata Dirga dengan menyalami sahabatnya itu seraya memeluknya.
"Terimakasih," jawab Satya sembari menyambut pelukan dari sahabatnya.
"Luar biasa, beberapa proyekmu di luar pulau Jawa sukses," kata Dirga.
"Ya, ini juga berkat bantuan dan dukunganmu," sahut Satya dengan sumringah.
"Tidak kawan, aku rasa, ini karena doa dari istrimu."
Ucapan Dirga seketika memudarkan senyum di bibir Satya.
Pria yang semula berdiri di depan sahabatnya itu, berlahan menghampiri meja kerjanya untuk duduk.
"Kita rayakan di mana kesuksesan kita ini?" tanya Satya kemudian seolah mengalihkan pembicaraan.
"Hmmmh..." Dirga membuang nafas panjang. "Aku masih sibuk menyelesaikan proyek Beutik Clarissa, jadi kita tunda dulu bersenang-senangnya," kata Dirga sembari tersenyum tipis. "Aku mau melihat proyekku dulu, sekalian aku mau kembali ke kantor," lanjut Dirga seraya meninggalkan ruang kerja sahabatnya.
Namun ketika hendak membuka pintu, tiba-tiba Dirga membalikkan badannya.
"Satya!" serunya.
"Apa?"
"Tidak ada salahnya jika kamu datang mengunjungi wanita yang mendoakan kesuksesan bisnismu!" ucap Dirga lembut.
"Hmmmh... Omong kosong!" sahut Satya lirih. "Sudah! Sana pergi!" katanya mengusir seorang teman yang hendak keluar dari ruangannya.
Satya mulai menghelan nafas panjang setelah sahabatnya itu pergi.
Pikirannya mulai gelisah. Matanya berkedip-kedip, hatinya terasa tidak tenang.
Berlahan pria tampan berkemeja navy itu mulai bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju jendela ruangannya yang terbuka lebar. Matanya tajam menatap awan putih yang terhampar di langit.
Kembali terlintas bayangan Hilya di pelupuk mata dan pikirannya. Suara gadis itu saat mengucapkan doa untuknya, wajah gadis itu saat mencium tangannya, dan senyum sumringah gadis itu saat menyambut kedatangannya.
"Tidak!!!" teriak Satya dengan memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bersambung
__ADS_1