Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 47


__ADS_3

Hari telah berganti. Kini, pagi telah menjelang. Terlihat Hilya sedang merawat tanaman yang ada di halaman rumah dokter melvina.


"Hilya! Jangan terlalu capek, ya!" kata Dokter Melvina, saat dia hendak berangkat ke rumah sakit.


Hilya menoleh ke arah dokter Melvina sembari mengangguk.


"Dokter!" seru Hilya saat dokter Melvina hendak masuk ke dalam mobil.


"Iya. Ada apa?"


Hilya bergegas meletakkan selang air yang dia pegang, sembari berjalan cepat menghampiri dokter Melvina.


"Bagaimana tentang pekerjaan baru saya, Dok?" tanya wanita cantik itu.


"Nanti, ibu tanyakan lagi ya. Sekarang kamu jaga kesehatan, yang banyak makan, terus jangan kecapean!"


Hilya mengangguk sembari tersenyum, saat mendengar pesan dari dokter cantik yang selama ini telah menolongnya.


"Hmmmh!"


Terdengar Hilya menghela napas panjang saat mobil dokter Melvina telah meninggalkan halaman rumahnya.


Kini, Hilya kembali merawat tanaman. Menyiram bunga-bunga, dan memotong daun-daun pada tangkai tanaman yang sudah tidak indah lagi dipandang.


Selang beberapa menit kemudian sebuah mobil sedan warna hitam, masuk ke halaman rumah Dokter Melvina.


"Assalamualaikum, Hilya!" sapa seorang laki-laki yang baru keluar dari dalam mobil.


"Waalaikum salam!" jawab Hilya sembari tersenyum dan mengangguk.


"Kamu lagi apa?" tanya laki-laki yang tidak lain adalah putra Dokter Melvina itu.


"Mmm... Ini, lagi merawat tanaman dokter Melvi."


"Memangnya kamu bisa?"


"Insya Allah! Dulu, di kampung saya sering merawat tanaman bersama ummi saya."


Tiba-tiba gerak tangan Hilya yang saat itu sedang memegang gunting terhenti. Tatapan matanya tampak kosong ke depan.


"Kamu kenapa?" tanya Dokter Candra kemudian.


"Mmm... Tidak apa-apa, hanya rindu ummi dan kampung halaman," sahut Hilya dengan menunduk sedih.


"Aku dengar dari mama, kamu tidak punya handphone. Kalau kamu rindu orang tuamu, kamu bisa menghubungi mereka. Kamu boleh pakai handphoneku!"


"Terimakasih dokter! Lain kali saja."


Hilya kembali menggunting daun-daun pada tanaman yang sudah terlalu rimbun.


"O, ya. Hilya! Kata temanku, kapan pun kamu mau, kamu bisa mulai masuk kerja!"


"Masya Allah! Benarkah, Dok?" tanya Hilya dengan wajah bahagia.

__ADS_1


"Iya."


"Kalau besok, bagaimana dokter? Saya ingin segera bekerja."


"Kamu yakin, sudah siap bekerja?"


"Mmm!" Hilya mengangguk-angguk.


"Kesehatan kamu bagaimana?"


"Saya sangat sehat," jawab Hilya penuh semangat.


"Ternyata mama benar. Kamu orang yang penuh semangat dalam bekerja," puji dokter Candra. "Ya, sudah. Besok pagi kamu siap-siap. Aku akan jemput kamu pagi-pagi sekali, agar kita tidak terlambat?"


"Siap dokter!" sahut Hilya dengan senyum bahagia.


"Tiiiin!"


Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil yang begitu keras.


Sebuah mobil mewah masuk di halaman rumah dokter Melvina.


Seorang pria berjas hitam keluar dari dalam mobil tersebut.


"Satya!" seru Dokter Candra sembari tersenyum dan menghampiri teman masa kecilnya itu.


"Ayo, duduk!" ajak Dokter Candra setelah dia bersalaman dengan pria yang sesekali memperhatikan Hilya itu.


Mereka berdua akhirnya melangkah menuju teras rumah, dan duduk di kursi yang ada di teras tersebut.


"Aku juga baru sampai. Sepertinya mama sudah berangkat ke rumah sakit."


"Memangnya kamu dari mana?"


"Ooh, begini. Sejak Hilya tinggal di rumah ini, mama memintaku, agar aku tinggal di apartemen. Karena aku dan Hilya bukan muhrim," jelas dokter Candra.


"Jadi, aku usahakan setiap pagi ke sini, untuk mengunjungi mama, dan melihat kesehatan Hilya."


"Oooh!" gumam Satya dengan tersenyum berat.


"O, iya. Tunggu ya! Aku buatkan kopi dulu!" kata dokter Candra sembari beranjak dari tempat duduknya masuk ke dalam rumah.


Setelah memastikan dokter Candra masuk ke dalam rumah. Satya bergegas menghampiri Hilya.


Dia mengambil sebuah keranjang buah dari dalam mobilnya, dan sebuah goodie bag.


"Hilya, aku bawakan buah-buahan segar untukmu! Ini juga ada susu untuk ibu hamil."


Dengan tersenyum Satya menyerahkan barang-barang itu kepada Hilya.


Hilya yang saat itu masih mengurus tanaman, hanya melirik Satya dengan wajah datar.


"Aku tidak kekurangan apa pun di rumah ini. Jadi, maaf! Aku tidak perlu barang-barang itu!"

__ADS_1


"Mmmmh! Ini untuk anak kita," kata Satya dengan membuang nafas keras.


"Anak kita?"


Seketika Hilya menekan suaranya.


"Iya, anakku! Aku beli semua ini untuk anakku."


"Hmmmh!"


Hilya tersenyum sinis.


"Anakku, tidak butuh apa pun, dari seorang ayah, yang hanya pura-pura perduli padanya."


"Maksud kamu apa?"


"Berhenti berpura-pura baik pada aku dan anakku!"


"Hilya! Stop bicara seperti itu! Aku benar-benar tulus melakukan semua ini! Aku tidak pernah berpura-pura!"


"O, ya? Di depanku, kamu bisa menjadi seorang ayah yang seolah-olah penuh perhatian, dan mengatakan kalau bayi dalam kandunganku ini adalah anakmu. Tapi bagaimana di depan orang lain? Bahkan kamu tidak mampu mengakui kalau aku adalah wanita yang pernah kamu nikahi dan sedang mengandung anakmu."


Mata Hilya terlihat penuh kebencian saat mengungkapkan isi hatinya pada Satya.


"Jadi, berhenti berpura-pura baik pada anakku! Karena aku sudah sangat muak!" ucap Hilya dengan bergegas meninggalkan laki-laki yang berdiri di sebelahnya itu.


"Hilya!" seketika Satya menghentikan langkah Hilya dengan mencengkeram kuat lengannya.


"Lepas! Aku sudah lelah berurusan denganmu! Jadi, tolong jauhi aku! Sebelum aku berubah pikiran, melaporkan kamu ke polisi, karena kamu sudah sangat jahat padaku!" ucap Hilya geregetan.


Berlahan Satya melepaskan cengkeraman tangannya.


"Aku minta maaf!" ucap Satya lirih.


"Hmmmh!"


Hilya tersenyum sinis tanpa menoleh ke arah Satya yang mengucapkan kata maaf untuknya.


"Segera urus perceraian kita! Kamu tetap bisa memegang kata-kataku waktu itu. Kalau aku tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu! Atau meminta pertanggung jawaban apa pun padamu! Jadi, tolong mulai sekarang, jauhi aku! Aku benci melihatmu!"


Ada air mata yang menetes saat Hilya mengatakan semua itu. Entah air mata kebencian, karena rasa benci yang begitu dalam pada Satya. Atau air mata kebencian, karena telah jatuh cinta pada orang yang telah melukai hatinya.


Dan setelah itu, terlihat Hilya melangkah meninggalkannya.


"Ada apa ini?" tanya Dokter Candra yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah, saat melihat Hilya mengabaikan Satya yang berdiri di sebelahnya dengan membawa keranjang buah dan sebuah goodie bag.


"Mmmm!"


Langkah Hilya seketika terhenti, wajahnya terlihat kikuk, bibirnya tersenyum berat saat melihat dokter Candra berdiri di depan pintu memperhatikannya.


"Oooh, ini. Aku bawa parcel buah dan susu ibu hamil dari mama untuk Hilya. Aku mau bawakan ke dalam, karena ini agak berat!" sahut Satya dengan tersenyum ke arah dokter Candra. Sembari melangkah melewati Hilya.


"Kamu! Sangat pandai berpura-pura!" ucap Hilya dalam hati, saat laki-laki berjas hitam itu berjalan melewatinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2