
Kini Satya telah berada di kantornya. Wajahnya tampak gelisah.
"Kamu kenapa?" tanya Dirga mengejutkan pria tampan yang bersandar di meja kerjanya dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
"Mmm..." Satya tersenyum saat menoleh ke arah laki-laki yang baru saja masuk ke dalam ruangannya itu.
"Ini ada beberapa berkas yang harus kamu pelajari!" kata laki-laki itu dengan meletakkan beberapa file di atas mejanya.
"Iya," jawab Satya dengan raut wajah masih gelisah.
"Okey!" sahut Dirga seraya berbalik untuk meninggalkan ruangan sahabatnya itu.
"Tunggu!" tiba-tiba Satya menghentikan langkahnya.
"Apa?" spontan Dirga menoleh ke arah Satya.
"Aku ingin bicara sebentar."
"Bicara apa?"
Satya mengajak Dirga untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya itu.
"Aku berniat untuk mengembalikan Hilya pada keluarganya. Aku menyerah, aku tidak mau melanjutkan niatku untuk mengambil alih tanah milik keluarganya. Aku juga merasa sudah tidak tertarik lagi dengan tanah itu." Satya mulai mengungkapkan perasaannya. "Jujur aku lelah dengan pernikahan konyol ini. Aku lelah berpura-pura menjadi suami gadis itu. Selain itu, sebentar lagi Clarissa juga akan pulang, pendidikannya sudah akan berakhir di Jepang," sambung Satya dengan nada suara melemah.
"Masalahnya banyak yang harus kamu pikirkan sebelum memutuskan hal ini. Belum satu Minggu kamu menikahi gadis itu, tiba-tiba tanpa sebuah kesalahan kamu akan menceraikannya. Pikirkan hal buruk yang bisa terjadi jika gadis itu menuntutmu dan menyebarkan isu yang dapat merugikan karirmu, pikirkan investor kita, para penanam saham, dan musuh bisnis kita. Ingat! Gadis itu memang gadis yang penurut, tapi dia bukan gadis yang bodoh, dan dia juga bukan orang miskin yang mungkin bisa kita tindas, dan tidak bisa berbuat apa-apa." Jelas Satya dengan tenang. "Menurutku bersabarlah dulu! Kita tunggu sampai empat bulan atau enam bulan. Setelah itu aku akan urus perceraian kalian. Aku akan buat keluarga gadis itu bungkam dan tidak menuntut apa-apa darimu, bahkan mungkin akan minta maaf padamu," lanjutnya.
"Maksudmu?"
"Aku akan ajukan tuntutan, selama kamu tinggal bersamanya, dia selalu menolakmu. Bayangkan jika selama kurang lebih enam bulan kamu bersabar menunggu gadis itu menerimamu, orang tuanya pasti akan malu, dan pasti akan menerima putrinya tanpa menuntut apapun padamu. Namamu tetap akan bersih."
Mendengar penjelasan dari Dirga, Satya mulai mengangguk-angguk dan kemudian mulai mengernyitkan dahi.
"Hmm!!" Satya membuang nafas keras. "Bagaimana pengadilan akan percaya jika aku tidak menyentuh gadis itu?"
"Satya, tenang saja! Kita akan lakukan visum, aku yakin hasil pemeriksaan akan menunjukkan kalau gadis itu masih perawan. Itu artinya kamu tidak pernah menyentuhnya kan?"
__ADS_1
"Hmm!! Kamu yakin kalau gadis itu masih perawan?" tanya Satya ragu.
"Satya! Dia gadis yang berbeda, dia bukan gadis-gadis cantik yang biasa kita pacari."
"Maksudmu kamu pacari?" sela Satya saat mendengar penjelasan temannya yang play boy itu.
"Ya, anggap saja begitu. Dia berbeda dengan wanita-wanita cantik yang biasa aku pacari. Sejak kecil dia berada di pesantren, dan agamanya mengajarkan agar dia selalu menjaga kehormatan, pacaran sesudah menikah, dan hanya melakukan hal seperti itu dengan pria yang sudah menikahinya. Jadi artinya, gadis itu pasti masih perawan, dan aku yakin itu." Terang Satya. "Kecuali jika selama menunggu proses perceraian ini, kamu diam-diam menyentuhnya," tambah Dirga dengan senyum menggoda sahabatnya yang terlihat cemas itu.
"Itu. Jika aku play boy seperti kamu," sahut Satya dengan nada kesal.
"Hmm!!... Iya, aku percaya," balas Dirga dengan tersenyum.
"Mmm... Aku rasa untuk kali ini aku percaya sama kamu, urus semuanya dengan baik, selama menunggu proses perceraian mungkin aku tidak akan menemui gadis itu. Tolong urus dia agar dia tidak mati kelaparan!" kata Satya kemudian seraya merapikan jasnya, dan beranjak dari sofa menuju meja kerjanya.
Setelah percakapannya dengan Dirga, kini Satya menjalani hari-harinya tanpa sebuah beban, seolah tak ada Hilya dalam kehidupannya. Dan hampir tiga hari ini laki-laki itu membiarkan Hilya sendiri di apartemennya.
"Kamu dimana?" tanya Satya pada Dirga melalui telpon selulernya.
Laki-laki bernama Satya yang hendak keluar dari pintu ruang kerjanya itu tampak berkonsentrasi dengan handphone yang menempel di telinganya saat berjalan.
"Aku mau ke apartemenmu, maaf aku lupa, dari kemarin aku belum melihat istrimu, semoga dia tidak mati karena kelaparan," jawab Dirga saat Satya meneleponnya.
Dirga yang baru keluar dari lift, segera berlari menuju apartemen sahabatnya. Bergegas dia membuka pintu apartemen itu untuk melihat keadaan wanita yang ada di dalam sana, yang sudah tiga hari ini belum dia beri makan.
"Mas Dirga!"
Wanita yang baru saja bangkit dari atas sajadahnya itu menyapa Dirga dengan suara yang cukup kuat.
Dirga menatap wanita yang masih dibalut mukenah warna putih itu.
"Kamu sehat?" tanya Dirga dengan sorot mata heran saat melihat Hilya dengan tubuh sehat berjalan ke arahnya.
"Alhamdulillah," jawab Hilya dengan tersenyum.
"Aku bawa makanan untukmu," kata laki-laki itu dengan melangkah dan kemudian meletakkan box berisi makanan yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Terimakasih," sahut Hilya masih dengan tersenyum.
"Makanlah!" kata Dirga sembari duduk di sofa yang tidak jauh dari meja makan tempat Hilya duduk.
"Aku puasa," sahut Hilya singkat.
"Puasa?"
"Iya, tiga puluh menit lgi adzan magrib, setelah adzan aku akan makan," sahutnya.
"Puasa apa, bukankah ini bukan bulan ramadhan?"
"Aku bingung, tiga hari ini Mas Satya tidak menemuiku, aku takut terjadi apa-apa padanya, karena itu aku berpuasa, agar Allah selalu melindungi suamiku," jelas Hilya lembut.
"Oooh..." Dirga mengangguk-angguk.
Dipandanginya wanita berkulit putih bersih yang duduk tidak jauh di hadapannya itu. Wanita berwajah lembut yang dengan tulus telah mendoakan suaminya. Meskipun selama ini suaminya tidak pernah menganggap dia ada.
"Apa kemudian yang kamu rasakan setelah berpuasa dan berdoa untuk suamimu?" tanya Dirga penasaran.
"Mmm... Hatiku lebih tenang," jawab Hilya dengan tersenyum. "O ya. mas, kemana Mas Satya, kenapa tidak ke sini?" tanya Hilya kemudian.
"Mmm... Suamimu sibuk, dia keluar kota, mungkin dua atau tiga minggu dia di luar kota, dan dia titip salam untukmu, dia minta maaf tidak bisa berpamitan langsung, dia juga berharap kamu selalu mendoakannya setiap waktu."
Dirga mengatakannya dengan tersenyum.
"O ya, aku pulang dulu, jaga dirimu ya! Besok aku akan ke sini lagi membawa makanan," pamit Dirga kemudian seraya beranjak dari sofa.
"Mas Dirga, boleh aku minta tolong sesuatu?"
"Apa?"
"Bawakan aku bahan-bahan makanan mentah saja, aku ingin memasak sendiri, agar tidak merepotkan Mas Dirga, dan aku juga bisa memasak untuk Mas Satya, ketika besok dia datang."
"Oooh, tentu, besok aku akan belanja banyak untukmu," sahut Dirga seraya beranjak keluar dari apartemen itu.
__ADS_1
Dirga menghelan nafas panjang setelah menutup pintu apartemen. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Dirga, sesuatu yang mengoyak-oyak perasaan dan pikirannya, tentang sebuah rasa, rasa bersalah dan berdosa, karena sudah menyakiti seorang wanita yang tidak sedikitpun berprasangka buruk ataupun menganggap dirinya adalah orang jahat.
Bersambung