Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 12


__ADS_3

Hari itu telah berlalu, dan satu minggu telah terlewati.


Siang ini Satya meluangkan waktu untuk menemui Dirga di kantornya, karena sudah beberapa hari ini pengacara muda itu tidak datang menemuinya.


"Kamu dimana?"


Satya mulai menelepon dan bertanya tentang keberadaan sahabatnya itu, saat sampai di depan kantor konsultan hukum yang di papanya bertuliskan Dirgantara Prawira Dirja S.H M.H.


"Aku di kantor."


"Aku di depan kantormu."


Terlihat Satya masuk ke dalam kantor pengacara muda itu, dan menuju ruangannya.


"Kenapa tidak pernah muncul di kantorku?" tanya Satya saat melihat temannya itu sibuk dengan berkas-berkas hukum di mejanya.


"Aku sibuk," jawabnya datar.


"Jane, Vany, Jessy, Sarah, mereka semua meneleponku, mereka bilang akhir-akhir ini kamu susah dihubungi," kata Satya kemudian.


"Hmm..." Dirga membuang nafas keras sembari menatap pria berjas hitam dengan kemeja putih yang duduk di hadapannya. "Aku sedang tidak ingin bertemu dengan mereka," katanya tanpa semangat.


"Mmm... Aneh, apa kamu sudah punya yang baru lagi?" tanya Satya dengan senyum menggoda.


"Mmm..."


Dirga tersenyum tipis, seraya merapikan berkas-berkas yang memenuhi mejanya.


"O ya, bagaimana kabar Clarissa?" tanyanya kemudian mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Dia sudah kembali ke Jepang, hanya empat hari dia di sini, dia bilang dia ingin segera menyelesaikan tugas akhirnya."


"Oooh..."


"O, ya Dirga, tiga bulan lagi pendidikan Clarissa selesai. Saat pulang nanti aku ingin berikan kado spesial buat dia. Aku ingin membangun sebuah Beutik yang desainnya cantik untuk menunjang karirnya." ucap Satya dengan tersenyum. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya kemudian. "Aku ingin Clarissa tahu, kalau aku sangat mendukung karirnya, jadi aku ingin kamu membantuku dalam proyek ini!"


Satya menatap heran wajah sahabatnya yang hanya bergeming.


"Kita hanya punya waktu tiga bulan kawan," kata Satya lagi.


"Hmm... Aku rasa kamu sangat ahli dalam urusan desain-mendesain, dan bangun-membangun," sahut Dirga tak bersemangat. "Jadi, untuk apa aku membantumu?"


"Ya aku tahu. Tapi selama ini, ide kamu selalu brilian, dan kamu satu-satunya sahabat yang selalu mendukungku," jawab Satya.


"Hmmmh..."


"Okey!" sahutnya. "Lalu sekarang, apa kamu tidak ingin menanyakan kabar Hilya padaku?" tanya pengacara muda itu kemudian.


Sejenak Satya terdiam.


"Mmm... Iya, bagaimana kabar gadis itu?"


"Dia menunggumu datang." Dirga menatap mata Satya sendu. "Tapi aku sudah bilang padanya kalau proyekmu yang ada di luar kota, tepatnya di pedalaman yang tidak terjangkau jaringan telepon sedang memiliki masalah besar. Dan baru Satu bulan lagi kamu akan datang." Terang Dirga. "Sekarang satu Minggu telah lewat, jadi tiga minggu lagi proyek kamu selesai. Aku mohon, datanglah menemui gadis itu tiga minggu lagi!"


Sejenak Satya bergeming.


"Hmm... Aku usahakan, tapi jika aku tidak bisa, tolong kamu cari alasan lagi kenapa aku tidak bisa menemuinya."


Jawaban Satya yang datar seolah mewakili perasaannya kalau dia sama sekali tidak ingin menemui Hilya.

__ADS_1


"Satya, aku mohon temui gadis itu sebentar saja! Dia sangat mengharapkanmu, dia selalu berdoa untukmu, dia berfikir kalau kamu adalah suaminya yang benar-benar ada," ungkap Dirga. "Jujur, ketulusan hati gadis itu padamu, membuat aku merasa bersalah," ucap Dirga lirih penuh beban.


"Lalu aku harus bagaimana?" sahut Satya dengan bertanya.


"Kenali dia, mungkin dia bisa membuatmu jatuh cinta, dia adalah wanita yang baik, dan kadang aku merasa dia adalah bidadari spesial yang sengaja dikirimkan tuhan untukmu."


"Omong kosong, kamu ini bicara apa? Ingat aku sudah bertunangan dengan Clarissa, aku mencintai Clarissa, dan tidak mungkin ada wanita lain di hatiku," tandas Satya.


"Kalau begitu, ceraikan saja dia sekarang! Sebelum harapannya semakin besar untuk menjadi istri terbaikmu!"


"Maksudmu?" seketika Satya meninggikan suara.


"Satya! Hilya adalah gadis yang baik. Kita minta maaf padanya, kita ungkapkan kekhilafan kita karena sudah memanfaatkannya. Aku rasa dia akan memaafkan kita, dan urusan kita dengannya akan selesai," ujar Dirga.


"Menurutmu begitu? Dengar ya! Siapa yang menjamin kalau pemikiranmu itu benar? Waktu itu kamu bilang padaku, kalau putri pak tua itu gadis kampung, bodoh, jelek, dan tidak berpendidikan. Kenyataannya apa? Pemikiranmu itu salah besar."


Satya mulai menekan suaranya dan mulai berdiri dari tempat duduknya.


"Dan sekarang aku harus menuruti keinginanmu lagi! Tidak! Semua tetap seperti rencana awal. Mungkin jika dia memaafkanku masalah akan selesai. Tapi jika sebaliknya, dia menuntutku, dia meminta bantuan advokat pembela hak perempuan? Karirku jadi taruhan. Para pemegang saham, relasi, lawan bisnisku? Kamu bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan?"


Wajah Satya terlihat memerah.


"Lakukan seperti rencana awal, seperti saran kamu waktu itu!" putus Satya. "Aku tidak akan mencerahkan gadis itu sekarang."


"Bagaimana jika Clarissa tahu tentang pernikahanmu dengan Hilya?" tanya Dirga menghentikan langkah Satya yang hendak membuka pintu ruang kerjanya.


"Clarissa mencintaiku, aku yakin dia akan memahami penjelasanku kenapa aku melakukan semua ini, lagi pula aku tidak pernah mengkhianatinya, aku tidak pernah mencintai gadis itu, dan kamu saksinya!" ucap Satya. "Dan aku yakin, kamu pasti akan mendukungku!" lanjutnya seraya membuka pintu ruangan itu meninggalkan Dirga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2