
Terasa tangan lembut seorang wanita menyentuh pundak Hilya.
"Dokter!" gumam Hilya saat menoleh ke arah wanita tersebut. "Ini handphone dokter!" kata Hilya kemudian dengan menjulurkan handphone kepada dokter Melvina.
"Ada apa?" tanya dokter Melvina dengan kembali duduk di kursi yang ada disebelah kanan bad Hilya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Hilya lirih dengan mengalihkan pandangannya dari dokter Melvina. Menatap ke depan dengan tatapan mata kosong.
"Jika kamu butuh teman untuk bercerita, kamu bisa ceritakan semuanya padaku!" kata dokter Melvina lembut.
Hilya menoleh ke arah dokter Melvina seraya tersenyum. Kepalanya mengangguk-angguk.
"Istirahatlah! Aku keluar dulu!" kata dokter Melvina seraya beranjak pergi.
"Dokter!" seru Hilya kemudian. "Jika aku bercerita kepada dokter, apakah dokter akan percaya padaku?"
Hilya menatap dokter Melvina dengan mata berkaca-kaca.
"Mmm..."
Dokter Melvina menoleh sembari tersenyum dengan berlahan melangkah kembali menghampiri Hilya.
Terlihat tangan dokter Melvina menggenggam tangan Hilya.
"Ceritakanlah agar hatimu lebih tenang!" ucap dokter Melvina lembut sembari di tepi bed Hilya.
Hilya tidak dapat menahan genangan air matanya. Air bening itu tumpah begitu deras saat dokter Melvina menatapnya dengan penuh empati.
Mulut Hilya mulai terbuka, dia menceritakan kisah pernikahannya pada dokter Melvina, hingga bercerita tentang kondisi orang tuanya saat ini.
"Aku harus bagaimana dokter? Aku tidak bisa pulang ke rumah orang tuaku dalam keadaan seperti ini, aku ditalak suamiku saat kondisiku sedang hamil," kata Hilya dengan menunduk.
Terasa tangan dokter Melvina menyeka lembut air mata yang mengalir di pipi Hilya.
"Jangan cemas! Kita bisa tuntut laki-laki itu, ibu punya banyak teman seorang advokat pembela perempuan, dengan begitu kamu bisa memperoleh hakmu dan hak anakmu." Ucap dokter Melvina.
Hilya mulai mengangkat kepalanya.
"Tidak dokter, aku tidak ingin lagi berurusan dengan pria itu. Aku sudah katakan padanya, kalau aku, bukanlah wanita yang tidak punya harga diri, yang akan mempertahankan dirinya dan menuntut apapun darinya. Aku akan bekerja keras untuk anakku. Aku akan berusaha menjadi wanita yang mandiri. Dan untuk semua kejahatannya padaku, biarlah Allah saja yang menghukumnya."
"Tapi Nak!" dokter Melvina seolah tidak rela jika Hilya tidak menuntut laki-laki itu.
"Dokter, aku mohon! Aku tidak ingin bertemu lagi dengan laki-laki itu, karena rasanya, hatiku sangat sakit, Dok!" kata Hilya dengan menyentuh dadanya sembari meneteskan air mata.
Akhirnya dokter Melvina mengangguk-angguk. Wanita cantik ini berusaha memahami perasaan dan keputusan Hilya.
"Dokter, apakah dokter berkenan menolongku! Aku mohon, Berikan aku pekerjaan dan tempat tinggal, Dok!" kata Hilya kemudian dengan mengatupkan kedua tangannya lagi. "Aku akan pulang ke rumah orang tuaku setelah aku hidup lebih mandiri. Aku berjanji, aku akan bekerja dengan baik, dan jika uangku sudah cukup, aku akan mencari tempat tinggal, dan tidak akan menumpang pada Dokter lagi!" ucap Hilya dengan memelas.
__ADS_1
"Mmm..."
Dokter Melvina tersenyum dengan menyentuh pundak Hilya.
"Istirahatlah, dan cepatlah sembuh! Setelah itu aku akan berusaha mencarikan kerja untukmu!" kata dokter Melvina seraya beranjak dari kursinya meninggalkan Hilya.
*****
Waktu terus berjalan dan akhirnya hari itu pun berlalu, berganti dengan pagi hari yang cerah dengan sinar matahari yang menghangatkan badan.
Kesehatan Hilya sudah jauh lebih baik, dan dokter Melvina kembali mengunjungi kamar rawat inapnya.
"Dokter! Keadaanku sudah lebih baik, bahkan aku lebih sehat dari sebelumnya," kata Hilya dengan wajah lebih cerah.
"Iya. Apa kamu mau pulang sekarang?"
Hilya mengangguk menjawab pertanyaan dari dokter Melvina.
"Ya sudah, setelah perawat melepas jarum infusmu, kamu rapikan barang-barangmu, ya! Aku akan antar kamu pulang ke rumahku," kata dokter Melvina.
Beberapa menit kemudian, perawat klinik umum dan KIA milik dokter Melvina ini telah selesai melepas jarum infus yang menancap di punggung tangan kanan Hilya.
Hilya pun segera mengemasi barang-barangnya, dan ikut bersama dokter Melvina untuk pulang ke rumah dokter cantik tersebut.
Terlihat dokter Melvina mengemudikan mobil, sementara Hilya duduk di sebelahnya.
"Dokter! Terimakasih ya, dokter sudah membantu saya!" kata Hilya memulai percakapan dengan dokter cantik itu.
"Aku berjanji, akan bekerja dengan baik di rumah dokter. Dan jika aku sudah dapat rezeki, aku akan mencicil semua biaya rumah sakit," kata Hilya dengan wajah penuh kesungguhan.
Dokter Melvina menoleh ke arah Hilya dengan tersenyum.
"Memangnya kamu bisa kerja apa?" tanya dokter Melvina kemudian dengan terus berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.
"Mmm... Aku bisa menyapu, Dok! Aku juga bisa mengepel, aku bisa memasak. Dan Insha Allah aku bisa melakukan semua pekerjaan rumah dengan baik," sahut Hilya penuh semangat, berusaha meyakinkan dokter Melvina.
Dokter Melvina kembali menoleh ke arah Hilya dengan tersenyum.
"Selain mengepel dan menyapu, kamu bisa apa lagi?"
"Mmm..."
Hilya bergumam sembari berpikir. Tampak gadis berkerudung maroon ini menundukkan kepala dan menggigit bibir bagian bawahnya.
"Apa kamu punya pengalaman kerja?" tanya dokter Melvina kemudian.
"Mmm... Tidak Dokter. Setelah lulus dari pesantren orang tuaku langsung menikahkan aku," sahut Hilya dengan menunduk.
__ADS_1
"Ooo, jadi kamu lulusan pesantren?"
"Iya." Hilya tersenyum dengan menoleh ke arah dokter Melvina. "Aku juga menempuh S1 di pesantren," lanjutnya.
"O, iya?"
"Iya Dokter. Aku belajar di fakultas tarbiyah, jurusan sastra Arab," terang Hilya. "Mungkin, aku bisa mengajar privat bahasa Arab jika ada anak yang ingin belajar padaku," kata Hilya kemudian dengan tersenyum. "Tapi masalahnya saat datang ke kota ini, aku tidak membawa serta ijazahku." Hilya kembali menunduk.
"Mmm..."
Dokter Melvina menoleh ke arahnya dengan tersenyum.
"Mmm... Dokter mau mendengarkan aku berbicara dengan bahasa Arab?" tanyanya kemudian.
" اسمي حليا كنت طالبة في كلية التربية في القسم تعليم اللغة العربية"
( Ismi hilya, kuntu tholibah fii qulyah attarbiyyah fiilqismi ta'liimillughoti 'arobiyyah)
Kata Hilya dengan menggunakan bahasa Arab.
"Mmm... Apa itu artinya?" tanya dokter Melvina.
"Nama saya Hilya, dulu saya menempuh pendidikan S1 di fakultas tarbiyah jurusan bahasa Arab."
Hilya tersenyum malu saat menjawab pertanyaan dokter Melvina.
Terlihat setelah itu dokter Melvina menyentuh tangan Hilya.
"Ibu percaya kamu anak yang pintar dan cerdas. Nanti ibu akan berusaha carikan kamu pekerjaan yang pas dan cocok buat kamu," kata dokter Melvina dengan tersenyum.
"Dulu aku pernah punya mimpi. Aku ingin melanjutkan pendidikan S2 KIIFAL. Tapi orang tuaku bilang. Lebih baik aku menikah," cerita Hilya dengan pandangan mata kosong ke depan.
"KIIFAL? Khartoum Internasional Institute for Arabic Language Sudan?"
"Iya dokter, aku mendapatkan beasiswa S2 di sana," sahut Hilya. "Andai aku menentang keinginan orang tuaku, dan memilih melanjutkan pendidikan S2 di KIIFAL, mungkin nasibku tidak akan seperti ini," ucap Hilya seolah menyesali jalan hidupnya.
Seketika tangan dokter Melvina menyentuh tangan Hilya.
"Manusia hanya bisa berencana, dan Allah tetap sebagai penentunya. Selalu ada rencana di balik cobaan yang Allah berikan pada hambanya. Bisa jadi Allah sedang menguji keimananmu, kesabaranmu, dan kedewasaanmu. Jika dengan cobaan ini membuat kamu lebih dekat dengannya, lebih sabar, lebih bijak dan dewasa dalam menyikapi persoalan, mungkin nantinya hidupmu akan lebih bahagia." Nasihat dokter Melvina. "Percayalah, selalu ada matahari yang bersinar terang, setelah gelapnya malam."
Hilya menoleh dengan tersenyum saat mendengarkan nasihat dari dokter Melvina.
"Coba ingat! Apa selama hidupmu kamu selalu mendapatkan kesusahan? Tidak kan? Jika setelah menikah ini Allah berikan kamu cobaan, mungkin karena Allah sudah mengukur kemampuanmu, dan Allah tau, kamu mampu mengatasi masalahmu ini."
Hilya kembali tersenyum seraya mengangguk-angguk.
"Insha Allah!" ucap Hilya dengan menggenggam tangan dokter Melvina yang menyentuhnya.
__ADS_1
Dan tidak lama kemudian mobil yang mereka naiki telah sampai di rumah dokter Melvina, rumah yang asri, sejuk, dengan tanama-tanaman hijau di halamannya.
Bersambung