
Satya terlihat cemas dan gelisah saat mendengar ungkapan Dirga yang akan melakukan visum kepada Hilya.
"Dirga?"
Terdengar suara lirih Satya memanggil pria yang hendak meninggalkan ruangannya itu.
"Ya. Apa?"
"Mmm... Aku... Aku, aku sudah melakukan sebuah kesalahan."
"Maksudmu?"
"Aku tidak sengaja melakukannya. Aku dalam pengaruh alkohol malam itu. Aku tidak sengaja melakukan semuanya pada Hilya," jelas Satya dengan suara gemetar.
"Maksudmu, kamu sudah?...."
"Ya, aku sudah menggauli gadis itu," ucap Satya dengan suara lirih.
Pria itu tampak lemas setelah menjelaskan semuanya pada Dirga.
"Hmmmh!!"
Dirga membuang nafasnya keras. Pria yang semula hendak keluar dari ruang kerja sahabatnya itu, kini mengurungkan niatnya.
"Lalu bagaimana?" tanya Dirga kemudian.
"Mmm... Aku sudah pikirkan semuanya. Aku harus segera mengakhiri pernikahan konyol ini. Aku sudah tidak memperdulikan resikonya. Aku tetap akan menceraikan dia, dan aku juga yakin kamu adalah pengacara hebat yang bisa menyelesaikan masalahku ini," ungkap Satya.
Meskipun cemas, Satya tampak berbicara lebih tenang dari pada sebelumnya.
"Aku akan jelaskan semua pada Hilya, kalau pernikahan ini adalah sebuah kesalahan yang harus segera diakhiri," kata Satya lagi.
"Apa kamu tidak ingin mempertimbangkannya?" tanya Dirga mencoba mempengaruhi keputusan Satya. "Hilya adalah gadis yang baik, coba pikirkan lagi!" tambahnya.
"Hmmmh!!"
Satya membuang nafasnya.
"Aku mencintai Clarissa, dan kamu juga tahu itu. Jadi tolong, berhenti mengatakan hal itu padaku!" kata Satya. "Saat ini juga, aku akan menemui Hilya dan mengungkapkan semuanya."
Terlihat setelah mengatakan hal itu, Satya berjalan cepat keluar dari ruang kerjanya.
"Ayo!" ajaknya pada Dirga.
Akhirnya dua laki-laki bersahabat itu pergi bersama menuju apartemen yang ditempati Hilya.
Terlihat keduanya sama-sama bergeming saat berada di dalam mobil. Sepertinya ada beban berat di hati mereka masing-masing
Dirga begitu mencemaskan perasaan Hilya. Bagaimana terlukanya hati Hilya setelah mendengar ungkapan yang begitu menyakitkan dari suaminya yang selama ini dia anggap laki-laki baik.
__ADS_1
Sementara satya tampak mengumpulkan kekuatan untuk mengungkapkan sebuah kebenaran pada Hilya, agar Hilya tidak lagi mengharapkannya.
Tidak lama setelah itu mereka berdua sampai di tempat yang dituju.
"Sudah sampai pak!" kata seorang sopir kantor yang mengantarkan dua laki-laki itu.
Seketika lamunan dua orang laki-laki itu terhenti.
"Terimakasih!" jawab Satya dan Dirga seraya bergegas keluar dari mobil mewah yang dinaikinya.
Dengan langkah berat mereka berdua berjalan menuju apartemen yang ditempati Hilya.
"Kreek!!"
Satya mulai membuka pintu apartemen.
Hilya yang saat itu entah melakukan apa di dapur, bergegas menghampiri dua orang laki-laki itu.
"Assalamualaikum Mas!"
Hilya segera meraih tangan Satya dan menciumnya.
"Mas Satya dan Mas Dirga tumben datang bersama?" tanya Hilya dengan tersenyum. "Mari Mas, silahkan duduk! Aku buatkan kopi dulu ya!" lanjut Hilya dengan ramah.
"Tidak usah!" sahut Satya. "Kamu di sini saja, aku ingin bicara denganmu!" lanjutnya.
"Mau bicara apa?" tanya Hilya dengan menoleh ke arah Satya, mengurungkan niatnya menuju dapur.
"Mmmh!..."
Satya mulai mengatur nafas ketika hendak berbicara kepada Hilya.
"Aku akan menceraikanmu! Dan Dirga akan mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu setelah urusan perceraian kita selesai! Dirga adalah pengacaraku, dia akan mengurus semuanya."
Satya mengatakannya dengan tenang.
"Maksud Mas Satya?"
Hilya terperanga mendengarkan ungkapan suami yang hampir tiga minggu dinanti kedatangannya itu.
"Hilya, pernikahan ini adalah sebuah kesalahan. Aku tidak pernah mencintai kamu, dan aku menikahimu hanya karena mengharapkan sesuatu. Kamu ingat orang asing yang ingin membeli tanah ayahmu?... Dia adalah rekan bisnisku. Sejujurnya, aku menikahimu hanya untuk mendapatkan tanah itu. Dan saat ini aku sudah tidak menginginkan tanah itu lagi, karena kamu pun tidak ingin menjualnya."
Mata Hilya mulai berkaca-kaca saat mendengar penjelasan dari Satya.
"Aku sudah memiliki seorang tunangan, aku sangat mencintainya, dan aku berencana untuk menikah dengannya delapan bulan lagi. Jadi aku harus mengakhiri pernikahan konyol ini."
Terlihat air mata Hilya mulai menetes saat Satya melanjutkan penjelasannya.
"Dan... Untuk kejadian malam itu, aku minta maaf! Aku melakukannya bukan atas dasar cinta, aku berada di bawah pengaruh alkohol, aku sedang mabuk, hingga aku tidak bisa mengendalikan diriku," jelas Satya lagi. "Tapi kamu tidak perlu khawatir! Aku bukanlah laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Aku akan menebus semua kesalahanku itu," lanjutnya. "Ini, kamu bisa tuliskan berapa nominal jumlah yang kamu inginkan, satu milyar, dua milyar, tiga milyar, terserah, tuliskan saja, aku pasti akan memberikannya untukmu!" kata Satya dengan menyodorkan cek yang dia ambil dari saku jasnya kepada Hilya.
__ADS_1
Hilya meraih cek itu sembari mengusap air matanya.
"Tunggu!" sahut Hilya lirih, seraya melangkah menuju almari yang ada di sudut kanan ruangan itu.
Terlihat Hilya mengemasi barang-barangnya. Dia mulai memasukkan beberapa helai pakaiannya ke dalam tas.
Setelah selesai Hilya berlahan menghampiri dua orang laki-laki yang masih berdiri di depan pintu apartemen itu.
"Tidak perlu menunggu perceraian selesai untuk mengantarku pulang, karena aku bisa pulang sendiri."
Hilya berbicara dengan tenang, dan menatap sendu laki-laki yang hendak menceraikannya.
"Soal malam itu. Tidak perlu repot-repot membayarku, karena aku bukan wanita murahan yang menjual tubuhku seharga milyaran rupiah dalam satu malam," tandas Hilya dengan masih menatap Satya. "Malam itu aku adalah seorang wanita yang menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, dan aku tidak butuh bayaran untuk itu, karena aku melakukannya dengan orang yang telah menghalalkanku." Terlihat air mata Hilya menetes saat mengatakan semua itu. "Jadi, aku tidak butuh uangmu!" lanjut Hilya dengan merobek cek itu dan melemparkannya ke wajah Satya.
Setelah mengungkapkan semua itu, Hilya bergegas keluar dari apartemen, melewati Satya dan Dirga yang masih berdiri di depan pintu.
"Apa kamu sengaja ingin keluar dari apartemen ini untuk mencari dukungan, dan kemudian melawanku di pengadilan untuk mempersulit proses perceraian?" ucap Satya lantang.
Seketika langkah Hilya terhenti. Wanita berkerudung maroon itu membalikkan tubuhnya, dan kembali melangkah ke arah Satya.
"Dengan ya tuan Satya Agung Wijaya! Silahkan urus perceraian ini secepatnya! Dan satu hal yang perlu tuan tahu. Aku bukanlah wanita yang tidak punya harga diri, yang akan membuang waktuku, untuk mempertahankan hubungan, dengan seorang laki-laki yang tidak pantas untukku!" tegas Hilya dengan menegakkan kepala dan menatap tajam mata Satya.
Wajah Satya seketika memerah. Kata-kata Hilya seolah menampar mukanya.
Setelah mengungkapkan hal itu, Hilya segera membalikkan badan. Tak terasa air mata Hilya mulai tumpah. Dia berjalan cepat meninggalkan dua orang laki-laki yang telah begitu tega menghancurkan perasaannya.
Tampak Satya dan Dirga memperhatikan langkah Hilya yang berjalan cepat meninggalkannya. Entah apa yang mereka berdua pikiran, namun terlihat ada binar rasa bersalah yang terpancar di mata dua orang laki-laki itu.
"Aku akan mengejar Hilya," kata Dirga kemudian saat melihat langkah Hilya sudah menghilang.
"Untuk apa?"
Satya menghalangi langkah sahabatnya itu dengan menarik lengannya.
"Satya! Hilya sama sekali tidak tahu daerah ini. Dia tidak pernah keluar, dia selalu ada di dalam apartemen, dia juga tidak membawa uang sepeserpun. Bagaimana dia bisa pulang?"
"Hilya adalah wanita yang pintar. Jadi, biarkan dia pergi, karena dia pasti bisa pulang dengan caranya sendiri," sahut Satya.
"Hmmmh..."
Dirga membuang nafasnya kesal saat melihat sikap Satya yang seolah tidak memiliki hati nurani.
Namun tiba-tiba handphone di saku jas Dirga bergetar.
"Hallo!" Dirga segera menerima telepon tersebut. "Apa???" Dirga seolah kaget saat mendengar kabar yang disampaikan seseorang dalam telepon tersebut, dan kemudian menyerahkan telepon seluler tersebut pada Satya.
"Iya. Apa???" terlihat Satya juga kaget saat berbicara dengan seseorang di dalam telepon tersebut.
"Ayo kita segera kesana!" ajak Satya pada Dirga dengan wajah cemas setelah menutup telepon tersebut.
__ADS_1
Dan dua orang laki-laki itu, berjalan dengan tergesa-gesa.
Bersambung