Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 56


__ADS_3

Satya masih tampak berlutut di ujung kaki Ibu Diana.


Ibu Diana masih bergeming dan terisak tangis.


"Keluarga pasien Hilya!" panggil seorang perawat rumah sakit.


Seketika Satya bangkit dan menoleh ke arah suara itu.


"Saya suaminya!" kata Satya dengan menghampiri perawat perempuan itu.


"Pasien Hilya masih kritis. Dia kehabisan darah yang cukup banyak. Kita sudah melakukan donor darah, dan persediaan darah di bank darah, tidak mencukupi. Tolong! Mungkin ada keluarga atau sanak saudara yang memiliki golongan darah sama, dan bisa mendonorkan!" kata perawat itu.


Terlihat kemudian, perawat itu menjelaskan tentang golongan darah Hilya di depan Satya dan Ibu Diana.


Setelah perawat itu pergi. Satya mulai menoleh ke arah mamanya.


"Ma, tolong Hilya dan anakku, Ma!" kata laki-laki itu dengan mengatupkan kedua tangan.


Ibu Diana yang masih di selimuti rasa kesal dan kesedihan segera meraih handphonenya dari dalam tas kecilnya, dan mulai menghubungi entah siapa untuk meminta pertolongan donor darah.


Sementara Satya juga segera mengambil ponselnya dari dalam saku dan menelepon sahabatnya, sekertarisnya, managernya, untuk meminta tolong mencarikan donor darah.


Selang beberapa menit kemudian mereka telah mendapatkan pendonor darah.


Satya dan mamanya kini duduk di kursi tunggu pasien. Menunggu berita dari dokter tentang kondisi perkembangan Hilya.


Terdengar Satya mulai menceritakan tentang kisah pernikahan rahasianya dengan Hilya kepada mamanya. Dengan menggenggam kedua tangan mamanya, laki-laki itu memohon ampun atas perbuatan jahat yang telah dia lakukan.


"Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong seperti ini! Untuk menipu seseorang, dan berbuat jahat!"


"Ma! Satya tidak sengaja," sahut Satya dengan merajuk.


"Tidak sengaja? Membuat wanita itu sampai hamil kamu bilang tidak sengaja?"


Ibu Diana menghempas tangan Satya yang menggenggam tangannya.


"Malam itu, aku dalam pengaruh alkohol ma. Aku tidak pernah berfikir kalau semuanya akan berakhir seperti ini."


Di tengah obrolan serius mereka, tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri Satya.


"Bagaimana keadaan Hilya?" tanya laki-laki yang tidak lain adalah sahabat Satya.


Seketika Ibu Diana menoleh ke arah laki-laki itu dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Jika sampai terjadi apa-apa pada Hilya dan bayinya, kalian berdualah penyebabnya!" kata Ibu Diana seraya beranjak dari tempat duduknya, berjalan mendekati pintu ruangan tempat Hilya ditangani oleh dokter.


Terlihat tangan Ibu Diana memijit-mijit keningnya. Tampak jelas jika Ibu Diana sangat tertekan dengan keadaan ini. Sesekali dia memejamkan mata, dan menghelan nafas panjang, memikirkan kondisi yang sedang dialami Hilya.


Tidak lama kemudian seorang laki-laki dan perempuan datang menghampiri mereka.


"Dokter Melvi!" gumam Ibu Diana, sembari memeluk dokter Melvina yang berjalan menghampirinya. "Maafkan aku dokter!" kata Ibu Diana kepada wanita yang masih mengenakan jas putih itu.


Tampak di sisi lain.


"Plaaak!!"


Dokter Candra tiba-tiba menarik kerah baju Satya, dan memukul laki-laki itu dengan tangan kekarnya.


"Candra!" seru dokter Melvina kaget. "Sudah! Sudah! Jangan ribut di rumah sakit!"


Dokter Melvi dan Ibu Diana bergegas menghampiri Candra dan Satya.


Satya yang berkali-kali dipukul oleh dokter Candra hanya terdiam.


"Dengar ya! Jika sampai terjadi apa-apa dengan Hilya dan bayinya, aku akan buat perhitungan denganmu! Aku bisa bayar loyer mahal untuk menjebloskan kamu ke penjara!" kata dokter Candra geram.


Satya hanya mengusap darah yang mengalir di bibirnya tanpa menjawab apa-apa.


"Keluarga pasien Hilya!"


Tiba-tiba suara perawat yang keluar dari ruang tempat Hilya diperiksa mengalihkan konsentrasi mereka semua.


Dokter Melvi, Candra, Satya, Ibu Diana, dan Dirga bergegas menghampiri perawat dan seorang dokter yang baru keluar dari ruangan itu.


"Alhamdulillah! Meski pasien belum sadar, tapi masa kritisnya sudah lewat! Bayi dan ibunya bisa diselamatkan," terang dokter kepada mereka semua. "Dan, setelah pasien siuman nanti, harap keluarga menjaga pasien dengan baik, pasien benar-benar harus dijaga kestabilan emosinya, dan harus bad rest kurang lebih satu bulan."


"Baik, Dok!" sahut Satya dengan mengangguk.


Mendengar sahutan Satya, dokter Candra seketika melirik laki-laki itu dengan sinis.


"Suaminya siapa?" tanya dokter kemudian.


"Saya, Dok!" sahut Satya.


"Jaga istrimu baik-baik ya!" pesan dokter kemudian dengan tersenyum dan menepuk pundak Satya seraya berbalik meninggalkan Satya dan beberapa orang yang lainnya.


Tidak lama kemudian Hilya dipindahkan ke ruang rawat inap. Ruang V-VIP rumah sakit yang di pesan oleh Satya untuknya.

__ADS_1


Satya tampak mengurus Hilya dengan baik. Menyeka wajahnya, menyeka tubuhnya, ketiga wanita ini belum sadarkan diri.


Ibu Diana tampak duduk di kursi tanpa sepatah kata. Wanita paruh baya ini hanya memandangi sikap putranya yang begitu perduli pada Hilya.


"Ma! Setelah Hilya sadar. Aku akan bawa dia pulang ke rumah mama. Apa mama mengijinkan?" tanya laki-laki itu kemudian lirih.


"Hmmmmh!"


Ibu Diana terdengar menarik nafas dalam.


"Jika mama tidak mengijinkan, aku akan cari rumah baru untuk kita tempati. Aku takut jika aku membawa Hilya di apartemenku, Hilya akan trauma, karena aku pernah menyekapnya beberapa bulan di sana," kata Satya.


"Hmmmmh!"


Ibu Diana kembali menarik nafas dalam, dengan memijit-mijit keningnya.


"Pulanglah ke rumah mama! Kita akan rawat Hilya bersama-sama!" sahut Ibu Diana seraya beranjak dari tempat duduknya. "Mama pulang dulu! Jaga Hilya baik-baik!" kata Ibu Diana seraya melangkah meninggalkan tempat itu.


Beberapa menit setelah Ibu Diana keluar dari ruangan itu, tampak Dirga sahabat baik Satya menyelinap masuk ke dalam kamar.


"Ada apa kamu ini? Seperti pencuri saja?" tanya Satya.


"Aku sedang merencanakan sesuatu," kata Dirga.


"Rencana apa?"


"Jangan anggap main-main ancaman dokter Candra! Bisa jadi setelah istrimu sadar, dia akan mempengaruhi Hilya untuk melawanmu. Menolak untuk ikut denganmu, bahkan langsung melayangkan gugatan cerai dan tuntutan padamu! Apalagi saat ini Hilya masih sangat marah padamu," terang Dirga.


"Lalu, aku harus bagaimana?"


"Aku sudah buat rencana. Aku akan buat setelah sadar nanti, wanita itu akan menurut padamu."


"Bagaimana caranya?"


"Aku sudah suruh orangku untuk menjemput orang tua Hilya. Yang mereka tahu kamu adalah suami Hilya yang paling baik dan perhatian. Dan Setelah sadar nanti, Hilya pasti akan mematuhi kata-kata orang tuanya, untuk menjadi istri yang baik dan penurut padamu," terang Dirga.


"Kamu yakin?"


"Tentu! Setelah mertuamu nanti datang berbuat baiklah! Jadilah menantu yang paling baik! Agar dia tidak ragu menyerahkan putri semata wayangnya itu padamu!" saran Dirga.


"Okey!" sahut Satya. "Aku akan berusaha. Semoga kali ini rencanamu berjalan dengan lancar!" kata Satya dengan mengangguk menyetujui rencana sahabatnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2