
Satu jam, dua jam, tiga jam, hingga akhirnya meeting Satya dengan klien di hotel miliknya selesai.
"Tolong kamu urus Clarissa di kamarnya. Aku akan segera pulang menyusul Hilya," kata Satya lirih pada pria yang duduk di sebelahnya saat di ruang meeting.
"Iya," sahut laki-laki berkulit sawo matang itu sembari menutup laptop yang ada di hadapannya.
Satya mulai melangkah keluar dari hotel megah berbintang miliknya, setelah acara meeting berakhir.
Dia terlihat masuk ke dalam mobil mewah, yang dikemudikan oleh seorang sopir, dan mobil itu melaju cepat keluar dari area hotel.
Sekitar tiga jam perjalanan, akhirnya mobil itu sampai tujuan.
Satya bergegas keluar dari mobil setelah sampai di depan rumah mewah milik orang tuanya. Laki-laki itu berlari masuk ke dalam rumah, dengan memanggil-manggil asisten rumah tangganya.
"Bibi! Bibi!" seru Satya dengan berjalan menuju koridor yang mengarah ke dapur.
Terdengar suara tangis dari kamar Clara saat Satya masuk ke dalam rumah
Satya mengurungkan niatnya menuju dapur. Berlahan kakinya melangkah menuju kamar Clara.
"Ada apa ini?" tanya Satya saat membuka pintu kamar itu, dan melihat Clara menangis tersedu-sedu.
Ibu Diana yang saat itu duduk di samping Clara dan memeluk gadis kecil itu, berlahan bangkit menghampiri Satya.
"Ada apa ini, Ma?" tanya Satya penasaran dengan sikap Bibi Rum, Mbak Ira, dan mamanya yang saat itu tengah menemani Clara di kamar.
Ibu Diana menggandeng tangan Satya, dan mengajak putranya itu untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Ada apa, Ma?" tanya laki-laki itu penasaran.
"Duduklah!"
Ibu Diana meminta putranya untuk duduk di hadapannya.
"Ma, mana Hilya? Kenapa dia tidak kelihatan menemani Clara?" tanya Satya kemudian.
"Itulah alasan Clara menangis. Karena Hilya pergi dari rumah ini."
"Maksud mama?"
Seketika Satya terperanjat.
"Sayang! Mama tidak bisa menahan Hilya untuk pergi, meski mama tahu Clara sangat membutuhkan dia."
Ibu Diana mulai menjelaskan tentang kepergian Hilya dari rumahnya.
Sementara Satya masih tampak bergeming.
"Hilya hamil!" ucap Ibu Diana memecah lamunan Satya.
Bibir laki-laki itu tampak menganga.
"Dokter Melvi datang, dan menceritakan pada mama, tentang keadaan Hilya yang sebenarnya. Hilya hamil dan kondisinya sangat kurang sehat saat ini, karena itu dokter Melvi menjemput Hilya."
"Kenapa mama tidak menahannya? Bukankah di rumah ini bnyak pembantu yang bisa merawat Hilya selama kondisi Hilya belum sehat. Dan mama juga tahu kan? Kalau Clara sangat membutuhkan Hilya."
__ADS_1
"Mama sudah katakan hal itu sayang, tapi Hilya menolak. Dia tetap bersikukuh untuk pulang ke rumah dokter Melvi, karena tidak ingin merepotkan kita."
"Hmmmh!"
Terlihat Satya membuang nafasnya keras.
"Sayang! Tadi pagi sebelum Hilya datang, dokter Melvi menceritakan semua masalah yang dialami Hilya."
Ibu Diana mulai bercerita.
"Ternyata Hilya adalah gadis yang malang. Sayang! Dia ditalak oleh suaminya disaat dia sedang hamil. Jujur, mama sangat bersimpati saat dokter Melvi menceritakan semua itu pada mama. Suami Hilya sudah menipu Hilya dan keluarganya," cerita Ibu Diana.
"Kamu tahu, saat ini, orang tua Hilya sedang sakit, dan itu yang membuat Hilya tetap bertahan di kota ini, agar kemalangan yang dia alami, tidak membebani keluarganya," lanjut Ibu Diana.
"Dokter Melvi bilang. Hilya memilih diam, karena enggan untuk berurusan dengan laki-laki jahat itu lagi. Dia berusaha menjadi wanita mandiri, agar dia tidak menjadi beban bagi keluarganya ketika mereka bertemu nanti."
Ibu Diana menceritakan kisah Hilya pada Satya dengan penuh simpati.
"Tapi sekarang, Hilya malah hamil dengan kondisi yang kurang sehat. Kasihan sekali, kan?" ujar Ibu Diana masih dengan wajah penuh simpati.
"Sayang! Mama jadi berpikir, untuk membantu Hilya, menuntut laki-laki jahat itu, dan menjebloskan dia ke penjara!" ucap Ibu Diana mengejutkan Satya.
"Kamu mau kan, bantu mama?"
Satya terlihat mengatur napasnya.
"Mmm... Aku pergi dulu, Ma!" kata satya dengan tersenyum ragu, seraya menyentuh tangan mamanya, dan beranjak pergi dari ruangan itu.
Satya bergegas keluar dari rumahnya menghampiri mobilLoxus LS warna sonic silver yang terparkir di garasi.
"Mau cari siapa, Mas?" tanya seorang wanita paruh baya saat membuka pintu rumah yang diketuk oleh Satya.
"Mmm... Dokter Melvi ada?" tanya Satya pada wanita itu.
"Ibu, masih di klinik."
"Kalau Hilya, apa ada di rumah?"
"Oooh! Ibu tadi memang bilang mau jemput Mbak Hilya, tapi sampai sekarang mereka belum pulang," terang asisten rumah tangga itu.
"Mungkin masih ikut Ibu, ke klinik."
"Mmm, iya. Terima kasih! Saya permisi dulu!" sahut Satya dengan berbalik meninggalkan rumah itu. Rumah dokter Melvina yang sengaja dia datangi untuk mencari tahu tentang keberadaan Hilya.
Satya bergegas menghidupkan mesin mobil, dan melajukannya kembali dengan kencang, menuju sebuah klinik yang ada di pinggiran kota. Sebuah klinik milik dokter Melvina.
"Dokter Melvi ada?" tanya Satya pada resepsionis yang ada di lobbi klinik tersebut.
"Dokter hari ini tidak ke klinik, Pak. Mungkin besok beliau ke sini," jawab resepsionis dengan ramah.
"Iya, terima kasih!" sahut Satya sembari keluar dari klinik.
Berlahan kaki laki-laki itu berjalan menuju mobilnya. Dia terlihat memijit-mijit kepalanya, sembari menghela napas kuat, dan kembali menghidupkan mesin mobil.
Kali ini, entah kemana mobilnya akan melaju. Ternyata mobilnya melaju menuju rumah dokter Melvina. Dia kembali menanyakan tentang keberadaan Hilya pada wanita separuh baya yang ada di rumah itu.
__ADS_1
Namun Hilya dan dokter Melvina masih belum ada rumah.
Laki-laki itu menghela napas panjang, sembari kembali menghidupkan mesin mobilnya.
Kini mobil itu menuju ke arah rumah sakit umum tempat dinas dokter Melvina.
Namun di sana, dia tidak juga bertemu dengan dokter Melvina dan Hilya.
Terlihat wajah laki-laki itu sangat kacau. Hampir delapan jam dia mondar-mandir memutari jalanan kota, dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari keberadaan Hilya. Namun, tidak juga dia temukan.
Akhirnya di dalam kekalutannya, dia memutuskan untuk menelepon sahabatnya.
"Aku ada Happy Start!" katanya, dengan menyebutkan nama sebuah klub malam. "Cepat kesini!"
Beberapa menit kemudian, seorang teman yang dia telepon datang menghampirinya.
"Kamu ini kenapa?" tanya laki-laki itu saat melihat sahabatnya yang bernama Satya tampak duduk termenung ditemani minuman beralkohol di hadapannya.
"Hilya pergi dari rumah!" sahutnya lirih, sembari menuang minuman beralkohol dari botol ke dalam gelasnya.
"Hmmm!"
Laki-laki bernama Dirga itu membuang napas keras.
"Kamu patah hati?" tanyanya dengan memperhatikan Satya yang kembali meneguk minuman beralkohol itu.
Laki-laki berjas abu-abu tua itu bergeming. Dia terlihat kembali meneguk sedikit demi sedikit minuman beralkohol yang ada di hadapannya tanpa menjawab pertanyaan dari sahabatnya.
Tida terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dan Satya masih juga duduk di bar, ditemani botol minuman beralkohol.
"Berhenti minum!" ujar Dirga yang sudah berjam-jam menemaninya. "Jika kamu mabuk berat, kamu mau pulang ke mana? Tidak ada Hilya di apartemenmu sekarang," ucap laki-laki itu kesal.
Satya masih saja bergeming. Laki-laki ini terus saja meneguk minuman beralkohol yang ada di hadapannya.
Hingga beberapa menit kemudian, Dirga membawa temannya yang terlihat mabuk berat itu, ke luar dari klub malam.
"Merepotkan saja!" ucap Dirga kesal dengan melirik sahabatnya yang terkulai lemas di kursi mobilnya.
Dirga terlihat menghidupkan mesin mobil, dan kemudian melajukannya dengan kencang.
"Hilya! Hilya, aku minta maaf!" ujar laki-laki yang tengah mabuk berat itu lirih, diantar keadaan sadar dan tidak sadar.
Seketika Dirga melirik sahabatnya itu dengan kembali menghela napas kasar, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak lama kemudian mobil yang mereka naiki sampai di area parkir sebuah apartemen.
"Dengar ya! Jangan sampai kamu muntah di apartemenku!" kata Dirga saat hendak membantu sahabatnya itu keluar dari dalam mobil.
Dengan susah payah, Dirga membopong laki-laki bertubuh atletis itu masuk ke dalam apartemennya.
"Astaga, kamu berat sekali!" kata Dirga dengan menghempaskan tubuh sahabatnya itu ke atas tempat tidur.
"Hilya! Hilya! Kamu dimana? Maafkan aku!"
Terdengar laki-laki itu kembali menyebut-nyebut nama Hilya dengan wajah dan suaranya yang kacau.
__ADS_1
Bersambung