
Pagi telah menjelang, Hilya dan Satya saat ini telah berada di meja makan.
"Clarissa sudah keluar dari rumah ini," kata Ibu Diana yang baru saja menuju meja makan.
"Bagus," sahut Satya dengan menoleh ke arah mamanya.
Ibu Diana menghela napas sembari duduk di hadapan Satya.
Wajah ibu Diana tampak muram.
Terlihat handphone yang Ibu Diana letakkan di mejanya bergetar.
Berlahan Ibu Diana mengangkatnya.
"Apa?.... Iya, iya, aku akan segera ke sana," kata Ibu Diana di dalam telepon.
Setelah menutup teleponnya, Ibu Diana melihat ke arah Satya.
"Satya! Clarissa mau melakukan percobaan bunuh diri," kata Ibu Diana.
Satya hanya bergeming.
"Tante Erika yang menelepon mama," terang Ibu Diana dengan menyebutkan nama orang tua Clarissa.
"Hmmmh!"
Satya tersenyum kecut sembari terus mengabaikan kabar yang diberikan mamanya.
"Dari semalam dia duduk di balkon lantai dua puluh kantor kamu," kata Ibu Diana lagi.
Satya yang semula mengacuhkan perkataan mamanya berlahan mendongakkan kepala.
"Satya, sampai saat ini Clarissa masih duduk di sana. Polisi dan pemadam kebakaran juga sudah berada di sana."
"Hmmmmh! Ada-ada saja!" desah Satya seraya bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan cepat keluar dari rumahnya.
Terlihat Hilya juga mengikuti langkah Satya. Begitu juga dengan ibu Diana.
Mereka bertiga bergegas menuju kantor Satya.
Masuk ke dalam lift menuju lantai dua puluh tempat di mana Clarissa hendak melakukan percobaan bunuh diri.
Kini, mereka sudah sampai di tempat itu. Sudah terlihat banyak orang di sana.
Orang tua Clarissa tampak dihujani air mata memohon putri semata wayangnya untuk turun dari balkon.
Pemadam kebakaran juga tengah melakukan evakuasi untuk menyelamat Clarissa.
Tapi usaha masih belum berhasil.
Satya tampak memperhatikan wanita yang pernah menjadi manta kekasihnya itu duduk di balkon dengan air mata yang terus menetes dengan tatapan mata kosong. Wanita itu terlihat sangat frustasi.
Hilya yang saat itu berdiri di samping Satya, juga memperhatikan Clarissa yang tampak kacau.
"Clarissa! Ayo turun!" teriak Satya.
Clarissa berlahan menoleh ke arah Satya.
Clarissa tidak menjawab apa pun, Clarissa hanya menoleh ke arah Satya dengan air mata yang masih berlinang di pipi.
"Ayo turun!" kata Satya lagi.
Clarissa hanya menatap Satya dengan tatapan kosong dan air mata yang terus berlinang.
"Clarissa ayo turun!" kata Satya lagi dengan lembut, seraya melangkah mendekat ke arah Clarissa.
__ADS_1
Clarissa masih tetap duduk di balkon dengan menatap Satya ditemani air mata yang terus berlinang.
"Sayang.... Ayo turun!" bujuk Satya memanggil Clarissa dengan sebutan sayang.
Hilya seketika menoleh ke arah Satya. Dia melihat binar mata yang tulus di mata Satya saat meminta Clarissa untuk turun dari tempatnya duduk saat ini.
"Sayang ayo turun! Kamu mau apa? Kita bisa bicarakan baik-baik, nanti!" rayu Satya.
Clarissa masih bergeming dan hanya menjawabnya dengan air mata.
Tidak terasa Hilya yang melihat Clarissa seolah mengalami depresi berat mulai meneteskan air mata.
"Mau bicara baik-baik apa? Bukankah tidak ada hal baik dariku yang perlu dibicarakan?"
Tiba-tiba Clarissa mulai mengeluarkan suara.
"Aku tidak baik kan, di matamu? Hanya dia yang baik, hanya wanita itu yang baik."
Clarissa berkata dengan menunjuk ke arah Hilya.
"Hanya wanita itu yang ingin kamu jaga, kan? Hanya wanita itu yang ingin kamu bahagiakan, hanya wanita itu yang saat ini ada dalam hatimu, dan hanya dia yang ingin kamu jaga perasaannya," kata Clarissa.
"Kamu tidak pernah perduli padaku sekalipun kamu sudah menyakiti hatiku, menghancurkan hidupku!" pekik Clarissa dengan air mata yang terus menganak sungai.
"Kamu! Kejam!" teriak Clarissa lagi, dengan kondisi tubuh yang berguncang. Membuat semua orang yang berada di tempat itu berteriak histeris, karena melihat Clarissa yang seolah akan terjatuh.
"Auuuw!!!"
"Sayang! Aku minta maaf! Kita bicarakan semua nanti! Ayo turun!" bujuk Satya lagi dengan melangkah lebih mendekat kepada Clarissa.
"Jangan mendekat!"
Clarissa memberi peringatan pada Satya untuk tidak mendekatinya dengan tiba-tiba berdiri di atas balkon.
"Atau.... Kamu ingin mendekat, karena ingin mati berdua bersamaku?" kata Clarissa dengan senyum psikopat yang tiba-tiba terlukis di bibirnya.
Air mata Hilya semakin deras menetes saat melihat keadaan Clarissa yang begitu terpuruk.
"Sayang! turunlah! Kita bicarakan semua baik-baik!" rayu Satya lagi.
"Kamu mau apa? Ayo turun!" pinta Satya lembut.
"Aku akan berikan semua apa yang kamu inginkan!"
Satya masih merayu Clarissa dengan suara lembut.
"Hmmmh!"
Clarissa membuang napas dan kemudian meneteskan air mata.
"Aku benci kamu!" kata Clarissa dengan menunjuk ke arah Satya.
Berlahan Hilya mendekat menjejeri Satya, yang berusaha menghampiri Clarissa.
"Clarissa!"
Hilya terdengar memanggil Clarisa dengan suara lantang.
"Katakan padaku, di mana seorang wanita cantik dan cerdas yang dulu sangat dikagumi oleh kekasihnya?" tanya Hilya dengan menatap mata Clarissa.
"Dimana gadis yang begitu pintar dan anggun itu, yang menjadi kebanggaan orang tuanya dan kebanggaan semua orang?" tanya Hilya lagi.
"Dia hilang. Dia hilang karena dia tidak mampu menyayangi dirinya sendiri, bahkan dia tidak mampu menjaga harga dirinya yang begitu istimewa itu!" tambah Hilya.
"Kamu tau kenapa dia hilang? Dia hilang karena, dia terlalu memuja cinta seorang laki-laki yang jelas-jelas menghianatinya."
__ADS_1
"Kamu tahu siapa dia? Dia itu adalah kamu! Yang rela bunuh diri demi seorang penghianat!"
Hilya terdengar menekan suaranya dengan menunjuk ke arah Clarissa.
"Kumu tahu setelah kamu mati apa yang akan terjadi? Semua orang akan tertawa, karena kebodohan kamu yang terlalu memuja cinta sang penghianat!" ucap Hilya.
"Bangga kamu berada di atas balkon itu, dan ingin melakukan bunuh diri?" tanya Hilya.
"Bodoh! Dungu! Dan sangat tolol tindakan kamu itu!" tanah Hilya dengan memaki.
"Dan neraka adalah tempat kamu! Tempat para wanita putus asa seperti kamu, yang tidak pernah bisa melihat kasih sayang Tuhannya, dan kasih sayang orang yang sangat mencintai kamu!" tambah Hilya dengan wajah penuh emosi.
"Bunuh diri saja, kamu! Silahkan bunuh diri! Loncatlah dari gedung ini agar kamu langsung mati! Pastikan kamu mati agar kamu tidak menjadi lumpuh dan menyusahkan orang tuamu!" teriak Hilya dengan amarah yang semakin menjadi.
Semua orang yang ada di tempat itu pun melihat ke arah Hilya.
Dan, berlahan Clarissa turun dari tempatnya berdiri. Wanita itu menatap Hilya dengan wajah geram, kemudian mendekat ke arah Hilya, dan menampar kuat pipi Hilya.
Plak!
Hilya menerima tamparan kuat itu dengan tenang.
Setelah menampar Hilya, tanpa berkata apa pun Clarissa melangkah pergi.
"Ikuti Clarissa pergi, sebelum dia memutuskan untuk bunuh diri lagi!" pinta Hilya kemudian pada Satya.
Dengan sigap Satya pun mengejar langkah Clarissa yang entah hendak pergi kemana.
Semua orang di tempat itu pun seketika berhamburan pergi setelah Clarissa turun dari balkon.
Hilya berlahan menyeka air mata yang tiba-tiba menetes di pipi.
Berlahan Hilya membalikkan badan, dan turun dari lantai dua puluh yang sudah terlihat sepi itu.
Kemudian dia kembali ke rumah orang tua Satya dengan mengendarai taksi.
Suana rumah itu masih tampak sepi. Sepertinya mertuanya dan Satya masih belum pulang. Mungkin saat ini masih menemani Clarissa.
Hilya mulai naik ke lantai dua rumahnya, menuju ke kamarnya.
Dia mulai merapikan barang-barangnya. memasukkan semuanya ke dalam koper.
Setelah itu terlihat Hilya menelpon seseorang. Setelah menutup telepon Hilya mulai memanggil bibi.
"Bibik!" seru Hilya.
Hilya mulai membuka pintu kamar, meminta bibi untuk membantunya menurunkan barang-barangnya.
Dengan mengusap-usap perut buncitnya Hilya berlahan turun dari tangga lantai dua rumah itu.
"Terima kasih ya, Bi!" kata Hilya setelah bibi membantunya mengangkat barang-barangnya menuju ke teras rumah.
Kini, Hilya tampak berdiri sendirian di teras rumah, menunggu mobil yang hendak menjemputnya.
Namun tiba-tiba mobil Satya masuk ke dalam halaman rumah itu.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Satya dengan memperhatikan koper dan tas pakaian milik Hilya di teras rumahnya.
"Aku akan pulang! Setelah melahirkan nanti, aku akan ajukan gugatan cerai," sahut Hilya.
"Sayang! Kamu ini bicara apa?" tanya Satya dengan menyentuh lengan Hilya.
Hilya seketika menepis tangan Satya.
"Jika setelah aku pergi dari rumah ini, kamu ingin mengajukan gugatan cerai terlebih dahulu, silahkan!" kata Hilya datar tanpa melihat Satya.
__ADS_1
Bersambung