Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 75


__ADS_3

Tiba-tiba mobil Dirga berhenti di halaman rumah Satya.


Sopir Dirga keluar, dan memasukkan barang-barang Hilya ke dalam mobil.


Hilya pun bergegas ikut masuk ke dalam mobil itu.


"Apa ini maksudnya?" tanya Satya heran.


"Saat ini aku pengacara istrimu," sahut Dirga dengan menghalangi langkah Satya yang ingin menarik lengan Hilya agar tidak masuk ke dalam mobil.


"Kamu menghianati aku?" tanya Satya dengan menatap mata Dirga kecewa.


"Kalian butuh waktu untuk sendiri, sendiri, okey!"


Dirga mengatakan dengan menepuk lengan Satya. Kemudian masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan halaman rumah mewah itu.


"Aaaaaaagh!!"


Satya terlihat marah saat melihat mobil itu pergi. Dia mengepalkan tangannya kemudian memukulkannya ke dinding rumahnya.


"Auuuuuw!" Pekiknya saat merasakan rasa sakit yang sangat di tangannya.


*****


Waktu terus berjalan. Hari telah berganti. Dengan bantuan Dirga, kini Hilya telah sampai di rumahnya.


"Kenapa nggak diantar suamimu?" tanya Hajjah Halimah saat Hilya mulai memasukkan pakaian dari koper ke dalam almari.


"Suamiku sibuk, Mi," sahut Hilya dengan menoleh ke arah umminya yang duduk di atas ranjang tidur.


"Oooh.... Memangnya suamimu mengizinkan, kamu melahirkan di rumah ini?" tanya Hajjah Halimah.


Hilya menjawabnya dengan senyum sembari menghampiri umminya.


Hilya berencana untuk menggugat cerai Satya setelah melahirkan. Namun saat ini, Hilya sengaja tidak mengatakan hal tersebut, karena Hilya masih ingin berkonsentrasi terlebih dahulu dengan kehamilannya. Dia ingin menenangkan diri, hingga kelahiran anaknya nanti.


Ummi Hilya menatap dalam wajah Hilya, seolah-olah mengetahui, kalau saat ini, putrinya sedang menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya.


*****


Di sisi lain tampak seorang laki-laki dengan wajah kesal masuk ke dalam ruang kerja seorang pengacara tanpa permisi.


"Apa maksudmu membawa Hilya keluar dari rumahku, tanpa izin dariku?"

__ADS_1


Laki-laki itu menarik dasi yang menempel di kerah baju sang pengacara.


"Kamu bersekongkol dengan Hilya untuk menghianati aku?" tanya laki-laki itu kesal.


"Satya! Sabar!"


Sang pengacara tidak melawan, dia berusaha meredam emosi sahabatnya.


"Kalian butuh waktu untuk sendiri, sendiri," kata sang pengacara.


"Aku tidak bisa membiarkan Hilya dalam keadaan tertekan berada di rumahmu. Itu sangat membahayakan kehamilannya. Lagi pula, kamu perlu merenungi semua kesalahanmu semala kamu tidak berada di dekat Hilya," nasihat sang pengacara.


"Ayolah kawan! Ini semua aku lakukan demi kalian," kata sang pengacara dengan menatap Satya penuh ketulusan.


"Hmmmmh!"


Satya membuang napas kesal sembari melepaskan cengkramannya dari leher Dirga.


"Hilya ingin menggugat cerai setelah dia melahirkan nanti. Tapi, itu tidak akan terjadi, jika kamu menunjukkan kalau kamu sungguh-sungguh mencintainya."


"Hmmmh!" Satya tersenyum sinis seraya keluar dari ruang kerja Dirga tanpa permisi.


Dirga yang melihat sikap sahabatnya yang masih tampak kesal itu, hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala.


****


Setelah rapat usai, semua orang berhamburan keluar dari ruang rapat.


"Aku tunggu di ruanganku!" kata Satya pada Dirga. Saat Dirga masih berbincang dengan salah satu peserta rapat.


Setelah urusan Dirga selesai, Dirga pun bergegas masuk ke dalam ruang kerja Satya.


Tampak Satya sedang berjibaku dengan laptopnya.


"Ada apa?" tanya Dirga saat masuk ruangan itu, sembari duduk di hadapan Satya.


"Aku ingin kamu urus rekening baru untuk Hilya. Kirimkan uang setiap bulan untuknya! Dan jangan lupa siapkan dana juga untuk persalinannya nanti!"


"Maksudmu?"


"Dia ingin bercerai denganku kan, setelah melahirkan nanti? Jadi, aku sudah harus pikirkan, dana yang nanti akan aku keluarkan, untuk anakku setelah kita bercerai."


"Kamu akan menceraikan Hilya?" tanya Dirga dengan mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Bukan aku yang ingin menceraikan dia. Tapi dia yang ingin bercerai dariku."


"Kamu benar-benar tidak bisa memahami wanita," gumam Dirga kesal. "Mungkin itu yang membuat Hilya ingin meninggalkan kamu. Karena kamu sangat egois," tambah Dirga.


"Maksudmu apa? Siapa yang egois? Dia meninggalkan rumahku tanpa izin dariku. Kamu pikir itu tidak egois?"


"Satya! Ingat! Hilya bersikap seperti itu karena kamu!" Dirga menekan suaranya seraya berdiri.


"Dan, ingat juga! Hilya begitu sabar mencintai kamu! Rasa sakit apa yang tidak kamu berikan padanya? Rasa kecewa apa yang tidak kamu berikan padanya? Semua rasa sakit dan kecewa itu selalu kamu berikan. Tapi dia tetap bersabar. Dia tidak egois seperti dirimu!" Dirga marah dengan menunjuk muka Satya.


"Aku tahu, kenapa kamu tidak mau berusaha memenangkan hati Hilya. Pasti karena Clarissa, kan? Kamu sengaja mengabaikan Hilya pergi dari rumah kamu, karena kamu ingin kembali pada Clarissa?" teriak Dirga.


"Tutup mulut kamu!"


Satya spontan berdiri dari tempat duduknya, dan menunjuk wajah Satya.


"Hilya yang memintaku untuk mengejar Clarissa! Dan setelah aku melakukan apa yang dia inginkan. Dia meninggalkanku begitu saja. Kamu tahu apa yang sudah aku lakukan untuk mempertahankan dia. Aku melawan mama, Aku juga menghancurkan hubunganku yang sudah aku bangun sekian lama dengan Clarissa. Tapi, apa dia menghargai pengorbananku itu. Dia malah meninggalkanku begitu saja. Istri macam apa dia, yang keluar dari rumah suaminya tanpa izin?"


"O, iya. Jadi kamu menyalahkan Hilya atas semua kesalahan yang kamu lakukan. Dan kamu merasa cukup punya alasan untuk meninggalkan Hilya?" tanya Dirga dengan wajah semakin kesal.


"Kalau begitu segera temui Hilya. Pasrahkan dia pada orang tuanya, dan urus segera perceraianmu!" kata Dirga dengan menunjuk dada Satya.


"Hmmmh!" Satya tersenyum sinis.


"Bukan aku yang ingin bercerai dari dia, tapi dia yang ingin bercerai dari aku. Jadi, aku tidak akan mengurus perceraian apa pun."


"Kamu...." Dirga tampak geram mendengar jawaban Satya.


"Sudah! Sekarang keluar dari ruanganku! Lakukan saja apa yang aku perintahkan!" kata Satya kemudian.


"Hmmmh!" Dirga tersenyum sinis seraya keluar dari ruangan kerja Satya tanpa permisi.


"Huuuuuu!"


Satya membuang napas keras saat Dirga sudah tidak berada di dalam ruangannya.


Satya melirik ponselnya. Dan tampak gambar Hilya yang terpasang di layar ponselnya itu.


Satya menatap lekat gambar Hilya seraya meremas jari-jarinya.


"Aaaaagh!!!" teriaknya seraya menghantamkan tangannya di atas meja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2