
Sudah lima hari Hilya berada di rumah sakit, ditemani oleh ibunya. Satya menjaga dan merawat Hilya dengan baik saat di rumah sakit.
Kini dokter sudah mengijinkan Hilya untuk pulang.
Dengan suka cita Satya membawa Hilya pulang ke rumahnya, bersama ayah mertua dan ibu mertua juga.
"Abah tidak salah kan, Mi? Memilihkan jodoh untuk putri kita. Menantu kita benar-benar orang kaya!" ujar Haji Abdul Ghofur dengan wajah sangat bahagia ketika sampai di depan rumah Satya.
Tampak laki-laki tua itu memperhatikan sekeliling rumah menantunya dengan takjub.
"Masya Allah! Kaya sekali ya, Bah, Nak Satya!" sahut Hajjah Halimah dengan melihat sekeliling rumah Satya dari dalam mobil mewah yang mereka naiki.
Tidak lama kemudian mereka keluar dari dalam mobil.
Hilya yang mengendarai mobil berbeda dengan orang tuanya, keluar dari mobil terlebih dahulu.
"Abah bangga punya menantu kamu, Nak! Kamu benar-benar kaya!"
Terlihat Haji Abdul Ghofur menghampiri Satya dan menepuk-nupuk pundak menantunya dengan rasa bangga.
Hilya yang berdiri di sebelah Satya seketika melirik orang tuanya. Meski tidak berkomentar, namun ada perasaan tidak nyaman di hati Hilya saat melihat sikap abahnya yang berlebihan itu.
"Mari, Bah! Masuk!" kata Satya kemudian dengan mengajak mertuanya masuk ke dalam rumah.
Tampak di depan pintu rumah, asisten rumah tangga Satya sudah menyambut kedatangan mereka. Begitu juga dengan Ibu Diana, wanita itu juga berada di sana, ikut menyambut kedatangan Hilya dan orang tuanya.
Suasana terlihat berbeda, begitu juga dengan suasana hati Hilya. Wanita cantik berhijab itu, tampak ragu ketika masuk ke dalam rumah yang pernah ditempatinya. Bagaimana tidak, dulu dia masuk ke dalam rumah itu sebagai Nany dari keponakan Satya. Dan kini, dia masuk ke dalam rumah itu sebagai istri dari anak majikannya. Tentu, semua membuat Hilya merasa canggung, apalagi saat beberapa asisten rumah tangga yang biasa jadi temannya, kini melayaninya bak putri pemilik istana.
"Masya Allah! Abah! Lihat itu! Ada kolam renang di dalam rumah!" kata Hajjah Halimah takjub saat melewati ruang keluarga yang mengarah ke kolam renang dan taman yang cukup indah.
Ibu Diana menghela napas dalam ketika melihat orang tua Hilya yang bersikap sedikit kampungan.
"Satya sangat senang, kalau Ummi dan Abah, betah di sini," kata Satya dengan tersenyum. "Abah dan ummi boleh berkeliling melihat-lihat rumah Satya!" imbuhnya. "Pak Jun! Tolong antar mertua saya untuk keliling rumah, ya!" pinta Satya kemudian pada Pak Juned.
Setelah meminta tolong pada sopir keluarganya untuk mengajak mertuanya melihat-lihat sekeliling rumahnya, Satya bergegas menggiring Hilya untuk masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua.
Ceklek!
Satya mulai membuka pintu kamarnya.
"Ayo sayang!" Satya menggandeng tangan Hilya untuk masuk ke dalam kamarnya. "Ini adalah kamar kamu, kamar kita!" Satya tersenyum manis sembari merangkul Hilya.
Hilya terlihat bergeming, dan hanya melihat seisi ruangan itu tanpa berkomentar apa pun.
__ADS_1
Berlahan kaki Hilya melangkah dan duduk di tepi tempat tidur Satya.
"Sayang! Istirahatlah!" kata Satya kemudian dengan menghampiri Hilya dan menatakan bantal agar Hilya beristirahat.
Laki-laki itu, tampak melayani Hilya dengan lembut. Setelah membantu Hilya untuk berbaring, dia mulai menutupkan selimut lembut di tubuh wanita yang masih terlihat lemah itu.
"Sayang! Jika nanti kamu sudah sehat. Kita akan cari perlengkapan buat bayi kita! Sekarang kamu istirahat dulu! Aku akan ke kantor sebentar!"
Satya terlihat mengusap-usap kepala Hilya saat mengatakan hal itu. Sementara Hilya masih tetap bergeming tanpa sepatah kata.
"Saat ini, aku tidak sedang berpura-pura! Aku sungguh-sungguh ingin memperbaiki rumah tangga kita!"
Satya masih mengusap-usap lembut kepala Hilya, seraya kemudian mencium pipi wanita yang terlihat acuh itu.
Tidak lama kemudian saat keluar dari kamarnya. Dia mulai mencari Bibi Rum, dan berpesan agar asisten rumah tangganya itu menjaga Hilya.
"Tuan! Ditunggu Ibu di ruang kerja!"
Tiba-tiba seorang asisten rumah tangga yang lain datang, ketika Satya sedang berbicara dengan Bibi Rum di dapur.
Mendengar pesan dari asisten rumah tangganya, Satya bergegas menemui mamanya di ruang kerja.
Tok tok tok!
Satya mulai mengetuk pintu setelah sampai di depan ruang kerja mamanya.
Terdengar ibu Diana meminta putranya itu untuk masuk.
"Ada apa Ma?" tanya Satya kemudian setelah dia membuka pintu.
"Tutup pintunya!" pinta Ibu Diana kemudian.
Satya pun segera menutup pintu ruangan itu.
"Hmmm!"
Ibu Diana mulai menghela napas dalam ketika hendak berbicara kepada Satya.
"Dokter mengatakan kita harus menjaga Hilya dan kesehatan bayinya! Karena itu, mama tidak ingin kamu memberikan tekanan-tekanan kepada Hilya!" ujar Ibu Diana. "Jadi, jangan pernah memaksa Hilya untuk mengikuti semua keinginanmu!" pinta ibu Diana dengan menatap Satya.
"Maksud, Mama?"
"Satya! Hilya sama sekali tidak boleh tertekan, karena itu bisa mempengaruhi kesehatannya," jelas Ibu Diana dengan sedikit menekan suara.
__ADS_1
"Hmmmh!"
Satya tersenyum tipis.
"Mama tidak akan membiarkan kamu kembali bersikap sewenang-wenang kepada Hilya! Mama akan mendukung apa pun yang menjadi keinginan dan keputusan Hilya!" kata Ibu Diana. "Termasuk, jika dia ingin pulang ke rumah orang tuanya, dan ingin bercerai dari kamu!"
"Maksud, Mama?"
"Mama hanya ingin memberikan kenyamanan pada Hilya, untuk kesehatan Hilya, dan keselamatan bayinya. Jadi, mama akan mendukung semua sikap, keinginan, dan apa pun yang membuat dia merasa nyaman. Sekalipun itu sebuah perceraian."
"Hmmmh!"
Satya terdengar membuang napas keras.
"Kamu tidak perlu khawatir! Hilya adalah gadis yang baik. Dia tidak akan menuntut apa-apa sekali pun nanti kalian bercerai. Dan, mama juga akan tetap berikan, hak, kebahagiaan, dan kesejahteraan untuk Hilya dan cucu mama nantinya," jelas Ibu Diana.
"Mama! Apa ini artinya, sebenarnya mama menginginkan aku dan Hilya bercerai?"
Satya bertanya dengan mengernyitkan dahi.
"Dengar, Ma! Aku sama sekali tidak ingin menceraikan Hilya! Dan aku juga tidak ingin dia keluar dari rumah ini! Jadi aku mohon! Mama jangan pernah memprovokasi Hilya untuk meminta cerai dariku!" pinta Satya tegas seraya berbalik dan keluar dari ruang kerja mamanya.
"Satya!" seru Ibu Diana saat Satya hendak membuka pintu ruang kerjanya.
"Kamu selalu menjadi seorang pemenang! Kamu tidak pernah kalah! Dan mama tahu keinginan kamu untuk mempertahankan Hilya bukan karena keinginan tulus dari dalam hatimu. Melainkan karena sebuah obsesi semata. Karena harga diri. Karena kamu tidak mau dikatakan seorang pecundang, dan karena kamu, tidak mau kalah dari Dokter Candra, dan ustadz yang memperhatikan Hilya itu."
"Hmmmh!"
Terdengar Satya membuang napas keras.
"Mama kenal kamu, Nak!"
Berlahan Ibu Diana menghampiri Satya, menyentuh pundak Satya, dan membalikkan tubuh Satya.
"Kamu tidak pernah mencintai Hilya!" kata ibu Diana dengan menatap mata putranya tersebut.
"Hmmm!"
Satya tersenyum tipis.
"Jangan menyiksa diri kamu seperti ini, Nak! Lepaskan Hilya! Beri gadis itu kebebasan! Berdamailah dengan Hilya dengan sebuah kata pertemanan! Mama yakin, kehidupan kalian berdua nanti akan lebih tenang!" nasehat ibu Diana dengan menatap mata putranya dan mencengkeram kedua lengan Satya.
Berlahan Satya melepaskan kedua tangan Ibu Diana yang mencengkeram lengannya.
__ADS_1
"Aku ke kantor dulu, Ma!" jawab Satya dengan membalikkan badan dan membuka pintu ruang kerja mamanya.
Bersambung