Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
13


__ADS_3

Happy Reading



***


"Sah?" tanya Penghulu.



"Sah" jawab semua.



"Alhamdulilah" Adam mencium kening Nabila lembut, begitupun sebaliknya, Nabila mencium tangan Adam. Kau, Wanita pertama yang aku cium kening nya dan kau juga yang pertama mencium tangan ku sebagai seorang istri.



***


Sang penghulu sudah pulang.



"Selamat ya ka Adam, ka Nabila. Kami pamit duluan ke masjid. Mau sholat Dzuhur" ucap Rizky.



"Abi juga mau solat dulu ya Dam"



"Bapa juga sekalian" ucap Pa RW.



"Eh iya. Nanti saya nyusul Pa, Abi. Akbar, share ke grup line. Rapat nya kita undur setelah Isya" ucap Adam.



"Iyah ka. Siap" ucap Akbar. Mereka pun pergi meninggalkan rumah Adam.



"Papa sama Mamah pergi dulu ya Bil. Inget pesen Papa sama Mamah barusan. Jadi Istri yang solehah. Nurut sama suami. Nak Adam, jaga Nabila ya" ucap Papa Nabila. Sedangkan Mamah nya terus memeluk Nabila.



"Baik pa. Saya akan menjaga Nabila dengan baik" ucap Adam.



"Yuk mah" ajak Papa. Mamah Nabila melepaskan pelukannya.



"Saya titip Nabila ya Nak Adam. Kalo dia nakal, hukum aja" ucap Mamah Nabila. Sedih namun bahagia. Sedih karena anak satu-satu nya mereka harus menikah dengan cara ini. Tanpa persiapan dan pesta. Bahagia karena yang menjadi suami Nabila ialah Adam. Lelaki sholeh.



"Insyaallah bu"



"Panggil papa Mamah aja Adam. Kami mertua mu sekarang. Orang tua mu juga" ucap Mamah Nabila.



"Iyah Mah"



"Ya udah. Mamah pulang dulu ya. Nabila inget pesan mamah barusan"



"Iyah Mamah" jawab Nabila lesu.


Adam dan Nabila mengantarkan kedua orang tua Nabila sampai pintu. Lalu menutupnya.


__ADS_1


"Pesan apa?" tanya Adam penasaran.



"Emm. Urusan cewe" cengir Nabila. Adam bingung harus bicara apa lagi.



"Sebaiknya kamu mandi dulu. Tadi baru bangun kan?" tanya Adam.



"Gue gak sejorok itu Dam. Sebelum pake kebaya ini juga gue mandi dulu" Jawab Nabila.



"Emm. Ngomong-ngomong maafin gue ya. Lo jadi harus nikahin gue gara-gara gue di sini. Emang keterlaluan tuh si Harry. Udah nitipin gue ke lo, nomor nya ga aktif"



"mungkin sudah takdir, untuk bertemu dengan jodoh saya melalui kejadian ini. Saya juga yakin temen kamu lagi ada urusan penting. Soalnya dia buru-buru pergi lagi waktu udah nitipin kamu" ucap Adam sambil tersenyum manis.



"Lo udah makan belum?" tanya Nabila malu.



"Belum. Kamu laper? Ayo kita ke dapur" Adam berjalan diikuti Nabila. Adam membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa sayuran.



"Tapi.. Gue gak bisa masak Dam" gumam Nabila pelan. Adam menahan diri untuk tidak tertawa, namun gagal.



"Kamu gak bilang pun Saya udah tau" Nabila cemberut menatap Adam yang berbicara seenak nya.



"Maaf, jangan marah ya, saya bercanda. Nih liatin saya, kita buat sayur sop aja dulu yang gampang. Biar kamu ga terlalu susah ngapalin nya" Nabila mengangguk. Adam mulai memotong-motong sayuran di bantu Nabila. Di masukannya Sayuran tadi kedalam wadah air yang sudah di panaskan di atas kompor. Di masukannya bumbu siap saji lalu mengaduk nya. Setelah selesai matang kompor di matikan dan panci sayur sop ditutup.




"Tapi gue lagi gak solat Dam" ucap Nabila spontan.



"Oh ya udah kalo gitu. Saya ke masjid sekarang ya. Nanti sore kita ke rumah Abi, ambil baju-baju kamu"



"Iyah Dam" Nabila mengantarkan Adam sampai pintu keluar.



"Hati-hati di rumah ya. Kalo bosen, tidur lagi aja" pesan Adam. Nabila mengangguk. Adam membuka jas hitamnya dan masih berdiri menunggu Nabila mencium tangan nya, tapi sepertinya Nabila belum tau tentang kebiasaan suami-istri. Adam tidak ingin terlalu memaksakan Nabila. Adam pun tersenyum kearah Nabila, di cium nya kening Nabila lembut dan memberikan jas hitam ke tangan Nabila lalu pergi ke masjid.



Nabila menutup pintu dengan cepat. Bersandar di balik pintu dengan kedua tangan menutupi wajah nya.


"Mamah sih pake nitip pesen melayani suami yang bener. Gue jadi salting sendiri kan!. Mana gue ngebohong soal dateng bulan. Aduhh, dosa gak ya?" tanya Nabila entah pada siapa.



***


Seusai Adam solat Dzuhur sendiri di masjid karena telat. Adam masuk kedalam sekre yang hanya ada Akbar sedang tidur. Adam membuka kopiahnya, disimpannya di meja dekat lemari buku lalu duduk dekap Akbar. Di pejamkan matanya. Adam mulai memikirkan tentang  pernikahan nya. Mungkin Adam akan mengenalkan Nabila pada Anisa terlebih dahulu lalu ke kedua orang tuanya.



"Ka Adam?" Adam membuka matanya. Di lihatnya Akbar yang sudah duduk di sebelah nya.



"Bar, saya bingung"


__ADS_1


"Ga usah bingung ka. Saya percaya ka Adam ga mungkin ngapa-ngapain tuh cewe kota"



"Bukan masalah itu Bar, saya bingung bilang ke orangtua saya. Mereka pasti malu"



"Mereka pasti ngerti ka. Kakak juga udah siap berkeluarga kan? Ka Adam udah punya restoran sendiri, udah punya rumah yang lagi di renovasi, udah punya mobil"



"Emang untuk materi saya udah siap, tapi hati saya belum siap. Saya masih terlalu canggung sama Nabila"



"Lama kelamaan juga bakalan engga kok ka. Percaya sama Akbar"



Mereka terus mengobrol dan Tanpa terasa waktu sudah menunjukan untuk solat Ashar. Akbar dan Adam solat berjamaah bersama dengan yang lain nya. Setelah solat berjamaah Adam memutuskan langsung pulang.



"Assalamualaikum" ucap Adam saat membuka pintu lalu masuk.


"Waalaikumsalam. Hey Abi" ucap Anisa meniru suara anak kecil sambil memain kan tangan Putri yang kecil di pangkuan nya. Adam tersenyum dan melangkah duduk di dekat Anisa.


"Hey putri, kangen ga sama Abi sayang?" tanya Adam memainkan kedua tangan Putri. Putri tertawa.



Tiba-tiba Adam teringat Nabila.


"Dari kapan pulang?" tanya Adam.


"Dari jam 2"


"De, kamu udah ketemu Nabila?" tanya Adam.


"Nabila siapa? Pacar Abang?" tanya Anisa.



Adam langsung berdiri. Sudah satu jam lebih berarti Nabila di dalam kamar. Apakah dia sedang tidur?


"Abang ke kamar dulu ya" buru-buru Adam berjalan kemarnya. Anisa hanya memandang Adam bingung.



Adam membuka pintu nya pelan lalu masuk. Di lihatnya Nabila yang sedang tidur memunggungi nya sambil memeluk guling. Adam pun duduk di sisi ranjang, bahunya disandarkan di sandaran ranjang. Namun ada yang aneh saat melihat Nabila tidur. Bahu nya bergerak naik turun seperti sedang menangis.



Adam memegang bahu Nabila pelan.


"Nabila, kamu nangis?" tanya Adam. Tak ada jawaban dari Nabila. Adam berdiri, memutar ranjang dan mendekati Nabila.



"Nabila kamu kenapa?" Adam berjongkok di lantai samping ranjang sambil memegang bahu Nabila. Nabila semakin memeluk erat guling sambil menangis.



"Nabila. Saya punya salah?" tanya Adam sambil tetap memegang bahu Nabila. Diturunkannya sedikit gulingnya dan tampak matanya yang sebab.



"Dia siapa? Anak sama istri lo? Hah!" tanya Nabila sesegukan.


"Siapa? Anisa sama Putri?" tanya Adam.



"Mana gue tau! Kenapa lo ga ngomong dari awal kalo lo udah punya keluarga? Gue pasti bakalan nolak kawin paksa ini. Gue ga mau jadi penghancur keluarga kecil lo" Nabila langsung duduk di sandaran ranjang dengan hidung merah dan mata sembab. Adam berdiri.



"Kamu perempuan pertama yang saya nikahin. Putri emang anak saya. Tapi Anisa.."


"Siapa Anisa?!" Nabila menatap tajam Adam.

__ADS_1



***


__ADS_2