Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
68


__ADS_3

-Nabila Adam libur dulu ya haha-


°°°


Tepat jam delapan malam Mikha dan Harry baru sampai dirumah. Harry menahan tangan Mikha yang hendak membuka pintu mobil.


"Jam sepuluh kita pergi ya, kumpul sama temen-temen aku" ajak Harry, Mikha hanya menganggukan kepalanya setuju tanpa menanyakan tempat apa yang akan ia datangi untuk kumpul.


°°°


Mikha sudah mandi dan mengganti bajunya. Harry hanya mengenakan pakaian santai.


"Sekarang aja perginya ya" ajak Harry.


"Iya Her"


"Yah, Harry mau kumpul dulu sama temen-temen" pamit Harry.


"Malem-malem gini bawa Mikha?" Tanya ayahnya ragu.


"Cuma nongkrong yah"


"Tapi ayah gak kasih ijin Mikha keluar. Jangan ngerusak anak gadis orang Harry!" suara Ayah dengan sedikit meninggi, ia takut Harry memberi pengaruh bukur pada Mikha.


"Ayah kenapa sih nuduh Harry yang gak bener terus? Pilihan Harry ayah anggep salah, kegiatan Harry ayah anggep salah"


"Kamu ini susah di kasih tau sama orangtua Harry!" Bentak ayahnya. Mikha yang menyaksikan jadi tak enak sendiri, keributan ini karena dirinya.


"Ayah, ayah. Mikha kok yang minta Harry ngajak ke tempat temennya. Kan Mikha cuma seminggu disini, Mikha pingin punya temen sama kegiatan juga Yah" bujuk Mikha.


"Ya udah, jangan kemaleman ya" jawab ayah pasrah. Mikha mengangguk.


Mereka masuk kedalam mobil dan Harry menjalankan mobilnya dengan santai lalu berhenti didepan gedung sepi dan redup.


Mikha menatap Harry bingung, kenapa ia dibawa ke dalam gedung sepi?. Ingin bertanya pada Harry namun Mikha mengurungkan niatnya.


Mereka berhenti saat seorang pria berkepala botak meminta KTP Mikha, tanpa pikir panjang Mikha memperlihatkan KTPnya.


"Bimo udah kesini belum?" Tanya Harry.


"Udah masuk kedalem dari tadi Her. Sama pacarnya" jawab pria botak. Harry mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Oh iya, kenalin nih pacar gue" Harry memegang bahu Mikha kencang.


"Ck, kenapa gak bilang dari tadi. Tau gitu gue gak usah meriksa KTP dia"


"Kan gue mau ngenalin dulu. Gue masuk duluan ya" ucap Harry.


"Yoi"


Kening Mikha semakin mengerut saat Harry akan membuka sebuah pintu, ini dimana? Harry mau apa ngajak kesini? Batin Mikha.


"Ini mau kemana sih Her?" Bisik Mikha memberanikan diri.


"Nanti juga kamu tau, Rilex aja" Harry mengelus punggung tangan Mikha.


Saat mereka sudah masuk kedalam. Mikha tampak risih dengan bau rokok dan minuman alkohol yang menyengat, pencahayaan yang minim dan suara musik yang kencang disertai suara bising orang-orang yang berbicara.


"Ini club?" Tanya Mikha setengah berteriak sambil menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan.


"Iya, lo harus biasain ketempat kaya gini. Disini asik" jawab Harry.


"Bukannya dilarang buka ya kalo bulan puasa?" Harry menatap Mikha malas sambil berdecak.


"Ck, jangan kuno deh. Kamu liatkan di depan tadi sepinya kaya apa? Gak akan ada yang nyangka bar ini buka. Tenang aja, gak akan ada rajia kok" ucap Harry santai lalu menarik tangan Mikha ke tempat dimana Bimo dan teman-temannya berkumpul.


"Yoi, kenalin mereka semua temen-temen aku" bisik Harry. Mikha tersenyum namun tak bisa terlihat oleh mereka semua karena telapak tangannya menghalangi hidung dan mulutnya.


"Lepas aja tangannya, nanti juga kebiasa kok cium bau kaya gini" ucap Bimo sambil berdiri lalu meniupkan asap rokok tepat diwajah Mikha. Mikha menggelengkan kepalanya.


"Her aku pulang ya" ucap Mikha tak tenang.


"Kenapa sih?" Hary mulai risih dengan Mikha, menurut perempuan ini sangat berlebihan, hidungnya ia tutup dengan tangan, sangat susah bersosialisasi dengan teman-teman nya.


"Aku gak kuat disini" Mikha membebaskan tangannya yang sedari tadi ia gunakan untuk menutup hidung.


"Gak kuat nya kenapa? satai aja Mik, jangan kayak anak kecil gini" ucap Harry sedikit keras. Bimo tertawa melihat tingkah gelisah Mikha.


"Kalo mau sama Harry harus biasa ditempat yang ginian cantik" goda Bimo kembali meniupkan asap rokok pada wajah Mikha, Mikha menepis-nepiskan asap rokok yang saeakan mengumpul mengelilinginya. Seakan belum puas Bimo kembali meniupkan asap rokoknya ke Mikha.


"Hikk" Mikha menepuk dadanya sesak. Tangan kirinya memegang kencang lengan Harry seakan meminta bantuan.


"Eh, lo kenapa?" Tanya Bimo panik.

__ADS_1


"Mikha, kamu kenapa?" Harry menepuk pipi Mikha pelan.


"Tas" ucap Mikha susah payah.


"Ck, dia asma. Cepet liat tasnya, kali aja ada inhaler" teriak Cindy tak kalah panik.


"Her, lo bawa Mikha keluar aja. Kasian, takut nya tambah parah" ujar Riko. Harry mengangguk dan membantu jalan Mikha menuju luar bar diikuti Bimo dan Cindy.


Sesampainya diluar Harry langsung membuka pintu mobilnya, mendudukan Mikha di kursi mobil. Cindy mengecek tas Mikha dan mengeluarkan sebuah benda berukuran kecil, dengan cepat Cindy mendekatkan inhaler dimulut Mikha.


"Tarik nafas" seru Cindy. Mikha menarik nafasnya berat lalu mengeluarkannya dengan pelan. Terus berulang-ulang sampai Mikha nafas sudah membaik.


"Harusnya lo bilang ke Harry kalo lo punya asma, jangan coba-coba lagi masuk kedalem ya" ucap Cindy lembut. Mikha mengangguk lemah.


"Thanks ya"


"Lo udah gak apa-apa Mik?" Tanya Bimo.


"Udah baikan kok"


"Bener" tanya Bimo kembali.


"Iya, beneran"


"Duh sorry ya, gara-gara gue, gue gak tau" ucap Bimo menyesal. Mikha mengangguk lemah, ia kesal dengan dirinya yang lemah.


"Ya udah Her, Mik. Gue sama Cindy balik kedalem ya. Her, mending lo langsung balik, suruh Mikha istirahat" ucap Bimo.


"Oke thanks ya Sin, Bim" mereka mengangguk dan kembali masuk kedalam bar.


Harry menatap Mikha kesal.


"Lo kenapa sih nyusahin?" Gumam Harry. Mikha yang sedang terpejam langsung membuka matanya, menatap Harry tak percaya. Yang ia tau Harry itu orang yang lemah lembut, tapi kenapa ucapan pria ini sekarang malah kasar.


"Maksudnya?" tanya Mikha tak mengerti.


"Ck, pake nanya maksudnya segala. Lo nyusahin, diajak ke bar malah asma kambuh"


"Apaan sih Her? Kamu kok malah marah-marah ke aku? Emang ada, orang yang mau punya penyakit asma? Gak ada Her!" Ucap Mikha kesal, ia kecewa pada sikap Harry.


"Ck, lo tuh lemah. Gak kaya NABILA!" Teriak Harry sambil memukul stir nya. Mikha terdiam sesaat, siapa Nabila? Apa harus ia di sama kan dengan wanita lain?. Ah Mikha ingat, Nama yang Harry pernah sebutkan saat mereka dijodohkan dirumahnya.

__ADS_1


"Denger ya Her. Mungkin kamu mikirnya aku penyakitan, nyusahin atau apalah. Tapi kamu harus inget satu hal ya, Aku sama Dia itu BEDA!" Teriak Mikha, mulutnya seakan enggan menyebut nama Nabila. Mungkin perempuan itu lebih sempurna dibanding dirinya. Mungkin perempuan itu yang sudah mengisi hati Harry selama ini. Lalu untuk apa harry menerima perjodohan ini. Mikha berusaha sekuat mungkin tidak menangis saat ini juga.


__ADS_2