Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
47


__ADS_3

"Assalamualaikum. Natasya?" perempuan itu mengangguk.


"Iya aku Natasya. Apa ada ya?" tanya lembut. Adam tersenyum ragu.


"Saya Adam, kamu apa kabar?"


"Baik" Jawab Natasya heran karena ia tidak mengenal laki-laki dihadapannya.


"Udah lama diBandung?" Tanya Adam lagi.


"Baru-baru ini sih. Kenapa ya?" Natasya berkata dengan hati-hati. Adam tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Gak ada apa-apa, mungkin kamu udah lupa, saya duluan ya"


"Eh tunggu" Panggil Natasya spontan saat Adam hendak pergi.


"Kalo boleh tau kamu kenal aku dimana ya? sekolah atau, dimana?" Adam mengerutkan keningnya heran. Bingung harus menjelaskan apa.


"Saya kenal kamu waktu saya ke sekolahan kamu dulu, saya perwakilan dari kampus waktu itu"


"Kita temen biasa, hanya beberapa kali ketemu" Jawab Adam. Sudahlah, saat ini ada Nabila yang harus ia jaga perasaannya, Adam juga tidak ingin ada kesalahpahaman antara dirinya dan Nabila nanti.


"Eh sorry, Tapi aku gak inget pernah kenal sama kamu. Tapi, biar gak salah paham kita ke Mamah aku aja ya" Adam sedikit ragu untuk mengangguk. Pikirannya tertuju pada Nabila sekarang, apakah Nabila sudah selesai? Apa Nabila mencarinya?.


"Ayo" ajak Natasya. Adam mengangguk, tidak ada salahnya bertemu mamah Natasya. Sekalian bersilaturahmi.


Adam mengikuti langkah Natasya dari belakang. Mereka memasuki toko tas dan sepatu, hanya berbeda dua toko dengan toko baju yang Nabila masuki. Dilihatnya dari kaca tembus pandang itu, Nabila masih memilih-milih pakaian tak lama masuk kedalam ruang ganti.


"Adam!" teriak seorang wanita membuat Adam membalikan badannya.


"Tante? Assalamualaikum, apa kabarnya tante sekarang?" Adam mencium tangan Mamah Natasya.


"Baik. Kamu sekarang udah berubah ya Dam. Tambah ganteng, dewasa, soleh, ramah" puji Mamah Natasya.


"Makasih tante" Adam tersenyum manis.


"Tasya, kamu milih-milih dulu aja ya. Mamah mau ngobrol dulu sama Adam" Natasya mengangguk lalu meninggalkan Kedua orang itu.


"Natasya juga jadi beda ya Tan. Gak keliatan manjanya lagi, tambah dewasa aja" ujar Adam. Raut wajah Mamah Natasya menjadi sedih, mengelus tangan Adam pelan.

__ADS_1


"Apa Natasya inget kamu Dam?" tanya nya tiba-tiba. Membuat Adam mengerutkan keningnya bingung.


"Maaf. Maksud tante apa?"


"Natasya inget kamu?" ulangnya.


"Engga. Kayanya Natasya udah lupa sama saya Tan, apa Natasya udah nikah?" Mamah Natasya menggeleng.


"Tasya bukannya lupa sama kamu Dam. Kita duduk dulu disana ya" Mamah Natasya menunjuk sofa yang memang disediakan didalam toko itu.


"Kapan terakhir kali kalian komunikasi?" tanya nya saat mereka sudah duduk di sofa.


"Aduh Adam lupa tan, udah lama. Ada apa?"


"Selama tiga tahun ini Natasya hilang mendadakkan?" Adam mengangguk.


"Gini Dam. Maaf gak ngabarin kamu, saya dulu panik, udah gak ada pikiran apa-apa lagi selain keselamatan Tasya. Saya syok banget waktu kecelakaan itu"


"kecelakaan?"


"Iya. Tiga tahun yang lalu Nenek Tasya nelepon saya, saat itu hati saya terasa remuk Dam. Nenek nya bilang kalau Tasya kecelakaan, tabrak lari. Saya langsung ambil penerbangan paling cepet ke Rusia sama suami saya, waktu nyampe disana saya liat Natasya koma. Dua minggu saya ngejagain dia tapi ga sadar-sadar. Hal yang paling buat hati saya sakit itu Dam, waktu Nabila sadar dari komanya dan Tasya liat saya datar banget. 'Kamu siapa?' saya lang.."


"Tahun kemarin saya bawa Tasya ke Indonesia lagi, saya pikir Tasya butuh pemandang dan lingkungan yang tenang. Jadi kita sekeluarga memutuskan pindah ke Bali. Tapi, sampai sekarang Natasya belum inget apa-apa tentang saya padahal saya udah berusaha ngingetin dia lewat cerita, foto bahkan kemaren saya ngajak dia ketempat-tempat yang biasanya dia datengin di Bandung"


Adam menatapnya sendu. Tangan Adam menggenggam tangan Mamah Natasya lembut.


"Sabar ya Tan. Saya yakin Natasya pasti bisa inget lagi Tan"


"Bantu tante ya Dam" Adam mengangguk.


"Insyaallah"


--


Nabila memberikan kartu kreditnya pada seorang perempuan yang bertugas dibagian kasir setelah berhasil memilih empat baju muslim.


"Terimakasih" ucap petugas kasir itu ramah. Nabila mengangguk dan membalas senyuman, matanya mulai mencari sosok Adam yang belum kembali dari toilet.


"Udah beres belanjanya?" tanya seseorang dibelakang tubuhnya. Nabila membalikan tubuhnya dan menemukan seorang laki-laki tengah tersenyum mengejek padanya.

__ADS_1


"Rendi?" tanya Nabila sumringah mendekati Rendi yang sekarang tersenyum manis.


"Ko ada disini sih?"


"Gue nganterin Shaila belanja perlengkapan si kembar. Lo tambah cantik aja"


"Ah lo bisa aja. Oh iya, Shaila nya mana?" Nabila sedikit mengedarkan pandangannya mencari istri Rendi.


"Shaila masih di toko perlengkapan bayi, udah satu jam belum beres-beres terus gue liat lo di sini dari tadi juga belum beres. Btw lo udah punya pacar kan? Masa umur udah tua belum nikah juga" canda nya.


"Bukan udah punya pacar lagi, tapi gue udah nikah" jawab Nabila dengan nada sombong.


"What? Perasaan gue dua bulan yang lalu lo masih jomblo. Ko udah nikah lagi?" Nabila menatap Rendi kesal, mulut temannya yang satu ini memang ceplas-ceplos. Dua bulan yang lalu Nabila dan teman-teman SMA lainnya menengok Shaila yang melahirkan bayi laki-laki kembar, memang saat itu Nabila tidak memiliki kekasih. Dan itu dijadikan bahan ejekan Rendi di depan teman-teman nya yang kebanyakan sudah menikah dan sebagiannya lagi baru bertunangan, hanya Nabila yang masih bertahan dengan status singlenya.


"Gue juga kan mau nikah Ren. Sirik aja lo kalo gue bahagia"


"Terus lo ga ngundang gue? Temen-temen SMA lo undang?" Nabila menggelengkan kepalanya.


"Gak ada yang gue undang Ren. Nanti gue undang kalian pas acara Resepsinya"


"Oke, gue pegang janji lo"


"Emm. Suami lo yang dari tadi nungguin lo bukan?" tanya Rendi membuat Nabila kembali mengingat Adam yang belum kembali dari toilet.


"Iya. Lagi ke toilet, tapi belum balik lagi"


"Ngantri mungkin Bil atau gak lagi ke toko lain" Nabila mengangguk.


"Eh, kita ke Shaila yuk. Nanti gue kasih tau suami gue"


"Boleh. Yuk"


Mereka berjalan tanpa memandang sekeliling, asik berbincang-bincang. Tanpa menyadari adanya sepasang mata yang mengamati mereka. Adam, yang duduk di samping dinding pembatas toko melihat Nabila dengan tatapan penasaran.


"Tante, maaf. Saya pamit duluan ya" ucap Adam memotong pembicaraan Mamah Natasya yang tidak ia dengar sepenuhnya. Pikirannya kini terfokus pada Nabila dan laki-laki itu.


"Kok buru-buru Dam, kenapa?"


"Saya mau ke Nabila dulu Tan"

__ADS_1


"Pacar baru kamu?" tanya Mamah Natasya sedikit kecewa. Ia pikir Adam masih setia pada anak perempuan nya.


__ADS_2