
Nabila membuka selimutnya saat mendengar suara pintu terbuka.
"Dam" gumam Nabila yang melihat Adam tersenyum mendekati nya.
"Baru bangun?" tanya Adam. Nabila menggelengkan kepalanya, bagaimana ia bisa tidur, hati dan pikirannya saja sibuk memikirkan Adam.
"Maaf ya saya lama. Cuci muka dulu yuk bentar lagi buka puasa, kita makan di bawah" ucap Adam lembut. Nabila mengangguk dan langsung menuruti perkataan Adam.
Mereka segera turun kebawah saat adzan Maghrib sudah berkumandang, Adam dan Nabila memakan masakan yang disediakan oleh hotel, tak ada satupun percakapan diantara mereka, Nabila masih ragu jika Adam sudah memaafkan nya.
"Dam" panggil Nabila pelan.
"Kita ke kamar lagi yuk, solat Magrib" ajak Adam. Nabila mengangguk dan berjalan membuntuti Adam.
Selesai wudhu Nabila mengenakan mukenanya dan menunggu Adam yang tengah mengenakan sarungnya, lalu peci.
"Udah siap Bil?" Tanya Adam menengok ke belakang.
"Udah" jawab Nabila. Mereka memulai solatnya.
°°°°°
Sementara disana Rendi langsung membuka linenya, mencari grup XII-Ips 3 yang sudah lama sepi bagaikan pemakaman umum. Saat Rendi hendak mengetik, ia baru ingat jika Nabila juga bergabung dengan grup ini.
"Sibuk banget sih sama hp" komentar Sheila yang tengah bermain dengan si kembar di atas ranjang.
"Iya yang, ini aku mau bikin grup baru buat ngundang temen-temen SMA ke acara lamaran Nabila" ujar Rendi santai tanpa mengalihkan tatapannya pada ponsel, menambahkan beberapa orang dalam grup itu.
"Kok lamaran? Bukannya udah nikah yah yang?" Tanya Sheila, tangannya memegangi botol dot di mulut sang bayi, sedangkan bayi yang satunya sudah terlelap kealam mimpi. Rendi menjelaskan nya pada Sheila sesuai dengan yang ia dengar dari mamah Nabila tadi.
"Ihh, sosweet banget suaminya Bila yang. Udah mah ganteng, romantis lagi" Rendi mengangkat wajahnya menatap Sheila tajam, bisa-bisanya sang istri memuji pria lain dihadapan suami.
"Emang aku kurang romantis apa yang?" Tanya Rendi dingin. Sheila menggelengkan kepala nya.
"Kamu gak romantis, masa aku setiap malem gak tidur gara-gara jagain si kembar, terus kamu gak nemenin aku, kamu malah asik jalan-jalan di alam mimpi kamu" jawab Sheila sinis.
"Sayang, niat aku tuh nemenin kamu jagain sikembar, tapi gak tau kenapa mata aku ngantuk banget. Eh pas buka mata udah adzan subuh aja"
"Alesan" delik Sheila.
"Beneran sayang, beres aku ngundang temen-temen nanti aku pijitin ya" bujuk Rendi. Sheila tersenyum.
"Beneran yang? Ya udah cepetan ya"
"Iya sayang" gumam Rendi, jarinya mulai mengetik dilayar ponsel. 'Assalamualaikum, apa kabar kalian? Masih inget Nabila kan? Yang dua bulan kemaren masih single? Hhe'
Mia: masih lah Ren
Karin: Masih, kenapa dia?
__ADS_1
Siska: Jangan sebut-sebut single_-
Rani: si Bila? Kenapa?
Feby: Waalaikumsalam, kabar baik. Bila kenapa?.
Fajar: Waalaikumsalam, what's up?
Devi: So, Inggris _-
Fajar: eh Devi, masih sirik aja wkwk.
Devi: apa sih Jar _-
"Ni anak dua berantem mulu" ujar Rendi membaca balasan grup.
"Siapa?" tanya Sheila penasaran.
"Devi sama Fajar yang. Udah pada tua tetep aja berantem"
"Hah kebiasaan" komentar Sheila.
Rendi: tanggal 27 nanti Nabila mau dilamar sama pacar nya, pada dateng ya, di restoran nanti gue kirim nama restorannya. Oh iya jangan bilang-bilang Nabila, soalnya ini kejutan.
Rendi terpaksa mengatakan pacar Nabila, jika Rendi mengatakan 'suami Nabila' pasti semua teman-teman akan bingung dan berfikiran aneh-aneh jika mengetahui Nabila sudah memiliki suami secara diam-diam.
Rendi: yahh :(, yang lain gimana?
Dina: gue bisa.
Devi: omg, sosweet
Vio: gue dateng, tapi ngajak suami gak apa-apa kan?
Rendi: gak apa-apa lah Vin
Nur: aduh aku gak bisa, tanggal 27 pernikahan ade ku.
Rendi: yahh, banyak yang gak dateng.
Selvi: gue dateng ah.
Kiki: ckck, padahal pas ketemu kemaren dia masih single, sekarang udah dilamar aja.
°°°°°
"Assalamu alaikum wa rahmatullah" Adam melakukan salam ke kanan dan ke kiri diikuti Nabila. Adam berdzikir lalu mengangkat kedua tangannya, memanjatkan doa kepada sang-Pencipta.
Setelah selesai Adam membalikkan badannya menghadap Nabila, dengan sigap Nabila mencium tangan Adam, lalu Adam membalas mencium kening Nabila, namun saat Adam menjauhkan wajah mereka Nabila menarik kepala belakang Adam, membuat kening mereka bersentuhan. Adam mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Kamu ngomong, jangan diemin aku" gumam Nabila.
"Saya cinta kamu Bil" Adam membalas gumaman Nabila.
Nabila menatap mata Adam dalam.
"Aku juga cinta kamu Dam, maafin kejadian tadi ya" gumam Nabila kembali, setelah terdiam beberapa detik. Adam menjauhkan kepalanya, sambil tersenyum.
"Iya, saya udah maafin kamu Bil" ujar Adam tulus.
"Aku mau ngejelasin" ucap Nabila dengan cepat. Adam mengangguk.
"Iya, nanti saya dengerin. Tapi kita beresin ini dulu ya" Adam berdiri sambil melipat sajadahnya. Nabila membuka mukena lalu melipatnya, disimpan diatas sajadah lalu dilipat sajadah itu.
Adam membuka kopiah nya diatas ranjang bersamaan dengan sajadah lalu duduk disofa dan diikuti Nabila.
"Sini Bil" Adam menepuk sisi sofa yang masih kosong.
"Jelasin sejujur-jujurnya ya Bil" ujar Adam saat Nabila sudah duduk dipinggirnya. Nabila mengangguk dan memulai cerita kejadian
tadi sore dengan sangat detail agar Adam tidak salah paham, tapi memang Adam tidak salah paham juga sih, Nabila dan Harry memang berpelukan. Gerutu Nabila dalam hati.
"Maafin aku ya Adam, jangan diemin aku lagi" Nabila memberanikan diri untuk memeluk tubuh Adam erat, seakan tidak ingin melepas Adam yang akan di ambil paksa oleh orang lain.
"Iya, untuk kejadian sore ini saya maafin, lain kali jangan kaya gitu lagi ya Bil. Pegangan tangan sama Harry aja kamu gak boleh, apa lagi pelukan Bil, karena dia kan bukan suami kamu. Jujur, saya tadi marah dan kecewa sama kamu Bil, tapi saya percaya hati kamu pastinya buat saya terus. Dan satu lagi, kalau tidak keberatan ada satu permintaan saya" Nabila melonggarkan pelukannya dan menatap Adam.
"Apa?" tanya Nabila. Adam mengelus rambut Nabila pelan.
"Rambut kamu juga aurat yang harus kamu tutupin Bil" Adam semakin mengelus kepala Nabila lembut, Nabila yang merasakan kelembutan Adam tersenyum dan kembali memeluk Adam.
"Iya nanti aku dikerudung Adam. Jangan marah lagi ya"
"Iya" gumam Adam.
"Mau sampai kapan kita saling panggil nama?" tanya Adam sangat pelan, hampir seperti bisikan.
"Emang mau dipanggil apa?" tanya Nabila sambil tersenyum malu, beruntung wajahnya kini tertutup oleh dada Adam, kalau tidak wajah Nabila saat ini pasti sangat merah menahan malu.
"Gak tau. Nanti aja deh kalo udah punya anak" jawab Adam. Terasa kepala Nabila bergerak, menandakan Nabila mengangguk.
"Mau jalan-jalan?" tawar Adam.
"Enggak, kasian kamu cape, tidur kita ngobrol aja, beres solat isya kita tidur" ucap Nabila.
"Taraweh dulu" ralat Adam.
"Emang gak cape?" tanya Nabila.
"Jadi cowok gak boleh gampang cape Bil" Adam membalas pelukan Nabila.
__ADS_1