Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
58


__ADS_3

Karena tanggung kalo cuma 3 bab, aku crazy up aja deh wkwk. Jadi besok bisa liburan dengan tenang🤭


°°°°


Nabila menatap keluar jendela. Awan sudah menampakan mendung nya, namun hujan belum terlihat turun. Rumah kembali sepi saat Anisa dan Putri di jemput oleh Safiq, ditambah Monik yang menyusul kepergian yang lainnya.


Monik, sebenarnya ia tidak ingin sejahat itu menyambut kedatangan Monik, hanya saja hati Nabila selalu emosi jika itu berkaitan dengan Adam, setidaknya Monik menyampaikan maafnya, tidak seperti Natasya yang dengan terang-terangan ingin merebut Adam darinya. Mengingat Natasya selalu saja membuat hati Nabila panas, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri 'apakah Adam masih menemui Natasya?'. Lamunanya terhenti saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.


"Lagi ngelamunin apa Bil?"


"Engga Dam, aku bosen dirumah" jawab Nabila jujur.


"Ya udah mau kemana? jalan-jalan?" Nabila menggelengkan kepalanya.


"Nanti cape, kan lagi puasa"


"Ya udah nanti kita main congklak atau monopoli ya"


"Emang punya?" tanya Nabila semangat.


"Punya, dikamar Putri semua, nanti kamu yang pilih aja ya, banyak mainan disana, barbie juga ada" jawab Adam sambil tersenyum dan berjalan menuju lemarinya.


"Oke deh. Oh iya Dam, aku ke konter depan ya" Adam yang akan memilih baju langsung melihat kearah luar jendela.


"Mendung Bil. Takut nya hujan dijalannya. Nanti sore aja saya beliin" sahut Adam.


"Tapi aku mau beli kuota sekarang Dam. Lagian gak hujan kok, baru mendung" bujuk Nabila dengan suara lembut.


"Ya udah, kamu bawa payung aja, jaga-jaga kalo hujan dijalan. Payungnya saya gantungin dideket pintu da.." Nabila mengangguk semangat lalu keluar dari dalam kamar tanpa menunggu ucapan Adam selesai. Sedangkan Adam tak mengambil pusing kelakuan Nabila, ia memakai kopiah hitamnya lalu menggelarkan sajadah dan membaca niat sholat Ashar.


Nabila mencari-cari payung yang ditunjukan Adam didekat pintu rumah, tapi ia tak melihat apa-apa didekat pintu.


'Dimana sih? Ah lagian deket ini, gaakan keburu kayanya' gumam Nabila. Tanpa memikir dua kali Nabila langsung keluar rumah, baru saja ia melewati lima rumah gerimis mulai turun membuat Nabila segera berlari menuju Konter.

__ADS_1


Selesai Adam shalat ia menutup jendela kamarnya. Hujan di luar sana sangat deras. Matanya mulai mencari sosok Nabila, apakah Nabila sudah pulang atau belum? Untung tadi ia mengingatkan Nabila agar membawa payung, kalau tidak bisa-bisa Nabila kehujanan. Adam membuka sarung dan kopiahnya serta melipat kembali sajadahnya.


Adam sedikit cemas karena sudah 10 menit ia menunggu tapi Nabila belum juga kembali dari konter, padahal jarak rumah dan konter hanya menempuh waktu kurang lebih 5 menit. Adam segera keluar dari kamar, ia memutuskan untuk menjemput Nabila.


"Astagfirullah" pekik Adam saat melihat dua payung masih menggantung rapi dan lengkap didekat pintu dapur.


"Kenapa Nabila gak bawa payung?" dengan cepat Adam mengambil satu payung berukuran besar, ia yakin kini Nabila pasti sedang meneduh dikonter itu. Ia tidak mau Nabila menunggu lama.


"Nabila!" seru Adam. Ia baru saja menutup pintu rumah dan membuka payung tapi Nabila sudah berada dihalaman rumah sambil setengah berlari. Rambut dan bajunya sangat basah. Adam menghampiri Nabila dan memayungi mereka berdua sampai didepan pintu. Bibir Nabila menggigil dan tangannya memeluk tubuhnya sendiri.


"Kenapa gak pake payung?" Adam menatap tajam Nabila. Nabila hanya sersenyum garing sambil berkata.


"Tadi aku udah nyari payung dideket pintu tapi gak ada Dam" jawab Nabila sambil menggigil.


"Pintu mana?"


"Ini" Nabila mengetuk pintu rumah yang berada didepan mereka.


'Tuk' Adam menyentil kening Nabila gemas. Membuat Nabila mengelus-elus keningnya sambil cemberut.


"Dingin" Cicit Nabila tanpa dosa, menghiraukan ucapan Adam. Adam menutup payung sambil membuang nafasnya kesal karena Nabila tampaknya tak menghiraukan ucapannya, padahal ia hanya tidak ingin melihat Nabila sakit.


Adam membuka pintu rumah dan menyimpan Payung dilantai dekat pintu. Mereka masuk kedalam, Adam terlebih dahulu berjalan kedalam kamar, mengambil handuk milik Nabila.


"Lain kali jangan hujan-hujanan lagi Bil. Kalo sakit gimana?" Adam menyelimuti tubuh basah Nabila dengan handuknya. Nabila hanya mengangguk patuh.


"Sekarang kamu mandi, keramas. Saya mau bikin makanan buat buka nanti. Kamu masih kuat puasanya kan?" tanya Adam. Lagi-lagi Nabila mengangguk sambil menggigil. Adam mengantar Nabila sampai depan kamar, setelah Nabila masuk Adam berjalan ke dapur.


Selesai mandi dan berpakaian Nabila langsung berbaring diatas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Udara semakin terasa dingin, badannya terus mengigil.


°°°


"Bil" Nabila merasakan tangan Adam mengelus rambutnya. Dengan malas ia membuka matanya, kepalanya terasa pusing dan hidung nya pun mampet.

__ADS_1


"Dam. Jam berapa?" tanya Nabila dengan suara serak. Ia memegang keningnya dan merasakan ada benda yang menempel disana, handuk kecil yang sedikit basah.


"Jangan dilepas Bil. Badan kamu anget, jadi saya ngompres kamu. Lima menit lagi adzan magrib, masih kuat?" Nabila mengangguk.


'Hatcih' Nabila menggosok hidungnya yang sekarang sudah bewarna merah ditambah saat ia sangat kesulitan mengambil oksigen melalui hidungnya.


"Kalo gak kuat kamu buka puasa sekarang aja Bil. Jangan maksain" Nabila menggelengkan kepalanya.


"Tanggung Dam, bentar lagi" jawab Nabila gigih.


"Ya udah, saya siapin supnya dulu ya" Adam keluar dari kamar, sedangkan Nabila menarik selimut tebal sampai hidungnya, matanya kembali terpejam.


"Bil" lagi-lagi Nabila membuka matanya dengan malas. Adam sudah duduk disisinya.


"Adzan Magrib udah lewat. Makan dulu ya" Adam membantu Nabila duduk bersandar dikepala ranjang. Diambilnya mangkuk diatas meja.


"Aaaa" Nabila membuka mulut nya saat Adam memberikan sesendok sup hangat.


"Kamu udah makan?" tanya Nabila sambil sesekali menggosok hidungnya.


"Saya baru minum. Nanti aja makannya" Dengan telaten Adam terus menyuapi Nabila.


"Mau tidur lagi?" tanya Adam saat mangkuk sup sudah habis. Nabila pun hanya mengangguk dan kembali menidurkan tubuhnya dengan selimut tebal yang menghangatkannya. Adam mengelus-elus kepala Nabila sampai Nabila terlelap kembali.


"Jangan sakit yaa" gumam Adam lalu mencium kening Nabila. Adam mengambil jaket dan dompet dilemarinya, tujuannya saat ini adalah membelikan Nabila obat diapotek tanpa menghiraukan rasa laparnya.


Adam menghentikan langkahnya saat ponselnya berbunyi.


"Assalamualaikum Bar, kenapa?" tanya Adam kembali meneruskan langkahnya membuka pintu kamar.


"Wa'alaikumsalam kak. Abis taraweh nanti mau kumpul rapat gak kak? buat nentuin foto studio sama bukber anggota remaja masjid kalo udah khatam Al-Qur'an nanti?"


"Besok aja Bar, beres kuliah subuh anak-anak, kita rapat dulu sebentar. Istri saya lagi sakit, beres taraweh saya langsung pulang"

__ADS_1


"Siap kak. Nanti saya kabarin ke yang lainnya. Wassalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


__ADS_2