Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
41


__ADS_3

Sahabatku, ada yang kangen lho sama kamu... πŸ’•


Ini bukan soal manusia.


Ini tentang Rabbmu, yang kangen melihat tegaknya kamu di heningnya malam.


Mungkin Ia membangunkanmu lewat perantara nyamuk, tapi tak kau gubris....


Mungkin juga Ia membangunkanmu lewat jatuhnya selimut yang kau pakai, tapi lagi lagi tak kau gubris....


Mungkin juga Ia membangunkanmu lewat mimpi buruk....


πŸ’•


Sahabatku, AllahΒ  kangen sama kamu, kangen ngeliat kamu ibadah lagi kepadanya.... πŸ’•


Sahabatku, Allah mungkin akan memanggil kamu lagi nanti pagi, jangan diabaikan ya... πŸ’•


Allah SWT berfirman β€œDan pada sebagian malam hari bershalat ta-hajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengang-katmu ke tempat yang terpuji.” (Al-Israa ayat 79)


πŸ’•


Sahabatku, semoga Allah terus memudahkan kita semua ya πŸ˜‡


πŸ’•


***


'Apa bener Adam Gay?' batin Nabila sambil terus mengamati gerak-gerik Adam.


"Jangan ngeliatin saya terus Bil. Nanti kamu suka ke saya" canda Adam.


"Suka kesuami sendiri kan ga apa-apa" jawab Nabila santai. Adam hanya diam dan tersenyum lalu mulai melanjutkan makannya kembali. Hati Nabila kembali risau. 'Ga ada niatan jawab gitu Dam! Hello, kamu tinggal jawab iya Bil, ga salah. Saya juga udah suka ko ke kamu dari awal, kamu tuh cantik, saya aja jatuh cinta pandangan pertama sama kamu' Nabila meletakkan kepalanya di sebelah tangan kanan yang ia tumpu di atas meja. Mengamati wajah Adam yang tenang dan tampan. 'Iya juga ya, Adam kan ganteng. Masa ga punya pacar sebelum nikah sama gue, tapi kan Adam pernah pacaran sama yang namanya Tasya, berarti Adam ga gay dong. Ihh gara-gara si Harry nih! Bilang Adam gay, jadi kepikiran!'


"Nabila kamu kenapa sih?" tegur Adam. Tubuh Nabila langsung tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Emang aku kenapa?" tanya Nabila polos. Adam menyimpan sendok diatas piring dan memutarkan badannya berhadapan langsung dengan tubuh Nabila. Membuat tubuh Nabila tegap dalam duduknya.


"Makanan kamu masih utuh, kenapa ga makan?"


"Iya, Nanti juga aku makan kok Dam"


"Kamu sakit?" tangan Adam menyentuh kening Nabila, memeriksa suhu badan Nabila. Namun normal.


"Ga panas" gumam Adam.


"Ihh Adam. Aku tuh ga sakit"


"Ya udah. Kamu jawab jujur. Kenapa tadi jam 4, waktu saya pulang kamu ngawasin saya terus?"


Nabila menautkan kedua alis nya bingung.


"Ngawasin apa sih Dam?"


"Iya ngawasin. Liat saya kaya yang curiga, terus ngelamun. Kamu kenapa?"


"Ya"


"Emm, apa bener.. Eh, kita abisin makanan dulu deh Dam" Nabila tersenyum garing membuat Adam semakin bingung dengan sikap Nabila. Saat pulang dari restoran Nabila mengikuti nya terus bahkan saat akan mengganti baju Nabila terus memandang nya, jujur itu membuat Adam jengah dan memutuskan mengganti pakaiannya di kamar mandi karena Nabila sepertinya enggan meninggalkan kamar mereka. Setelah keluar dari kamar mandi Adam malah melihat Nabila sedang melamun sambil sesekali menggelengkan kepalanya. Dan sekarang, saat makan pun Nabila menatap Adam dengan wajah curiga sampai-sampai nasi yang berada di piring Nabila masih utuh.


"Mau nanya apa Bil?" tanya Adam saat mereka berdua sudah menggabiskan makanan diatas piring mereka.


"Kita ngobrolnya di ruang tengah aja deh Dam" jawab Nabila gelisah. Adam mengangguk, hatinya terus bertanya. Adaapa?.


"Sebenernya ada apa Bil? Kenapa sikap kamu aneh?" tanya Adam saat mereka sudah duduk di sofa putih yang menghadap kearah tv.


"Aku mau nanya. Tapi kamu jangan marah ya" Adam mengangguk.


"Menurut kamu nih ya Dam. Apa yang kamu tau soal gay?" ucap Nabila pelan, namun membuat Adam menatap Nabila tak percaya.


"Kenapa kamu nanya itu? Kamu tau cerita tentang Nabi Luth A.S.?" Nabila menggeleng.

__ADS_1


"Aku cuma mau nanya aja Dam. Aneh aja gitu denger cowo yang ga tertarik sama perempuan, terus lebih tertarik sama cowo lagi"


"Itu dosa besar Bil. Itu sudah ada sejak dulu dan sangat kuno, bejad, mesum dan sesat lebih hina daripada binatang, karena binatang saja hanya mau menggauli lawan jenisnya. Saya sendiri ga ngerti Bil jalan pikir mereka" mendengar itu Nabila menghembuskan nafasnya lega. Itu artinya Adam masih berada dijalan yang benar. Tidak seperti tuduhan Harry!.


"Syukurlah. Kamu ga mungkin gay kan Dam?" ucap Nabila entah sadar atau tidak, membuat Adam menatap Nabila tajam.


"Apa maksud kamu Bil? Jadi Kamu ngira saya Gay?!"


"Eh? Bukan gitu Dam. Aduh gimana ya.." Nabila mengigit bibir bawahnya cemas. Merutuki kebodohannya, Nabila jadi merasa bahwa dirinya sama dengan Harry yang menuduh Adam gay, dan dengan polosnya mengatakan hal itu langsung kepada Adam.


"Jadi ini alesan kamu ngeliatin saya terus? Saya normal Bil. Apa yang ngebuat kamu mikir kalo saya gay?" tanya Adam serius. Nabila semakin bingung harus menjawab apa.


"Nabila jawab" perintah Adam.


"Okeoke. Jadi gini, kemaren Harry yang ngasih tau aku. Dia bilang kamu itu gay, ga tertarik sama perempuan"


"Dan kamu percaya?" Nabila terdiam.


"Ihh Adam. Maafin aku, jangan marah" rengek Nabila merasa bersalah.


"Saya ga marah Bil, lain kali jangan dengerin apa kata orang lain sebelum kamu sendiri ngeliat langsung ya" Ucap Adam lembut. Nabila menunduk.


"Soal Harry. Saya bukannya ga normal atau ga tertarik sama perempuan Bil, tapi saya ga mau menyentuh perempuan selain kamu, istri saya . Sebenernya saya mau cerita ini dari kemaren, tapi ga ada kesempatan buat cerita"


"Cerita apa?"


"Jadi gini Bil, kemaren Harry dateng ke masjid. Katanya Kakak dia mau bunuh diri. Ya udah saya ikut aja waktu Harry ngajak saya ke Apartment kakaknya, buat ngebantuin" Nabila mengerutkan keningnya bingung.


"Kakak dia tinggal di Jakarta Dam. Malah serumah sama Harry" komentar Nabila.


"Iya, saya kan ga tau Bil. Mau di terusin ga ceritanya?" Nabila mengangguk. Adam mulai bercerita tentang kejadian kemarin dan Nabila semakin kesal kepada Harry.


"Terus kamu kegoda?" tanya Nabila menghentikan cerita Adam saat Adam menceritakan 'perempuan itu mengalungkan tangannya di leher saya'.


"Maaf ya Bil. Jujur saya sempet kegoda, tapi untungnya ada yang ngetuk pintu waktu itu. Saya jadi sadar, saya terus nolak ajakan perempuan itu"

__ADS_1


__ADS_2