
"Aw" pekik Monik saat merasakan kerasnya tembok saat punggungnya terbentur.
"Kalo ko gak percaya, gue buktiin" Monik membulatkan matanya tak percaya saat tiba-tiba Danial mencium bibirnya secara paksa. Monik terus memukuli dada bidang Danial dengan keras agar pria itu melepaskan ciumannya. Air mata Monik sudah tidak bisa ia tahan, ia menangis sejadi-jadinya. Ia merasa benar-benar sudah seperti sampah diperlakukan seperti ini, tak ada harga dirinya.
Seorang pria didalam mobil yang dari tadi sudah terparkir tak jauh dari tempat Monik saat ini hanya tersenyum mengejek sambil menyesap rokok.
"Makannya jangan berani-benarinya lo ngehianatin gue. Makan tuh akibatnya"
Harry menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari tempat itu. Ia tidak perduli Danial akan pulang naik apa. Ia juga tidak perduli jika ada warga yang memukuli Danial, itu pun jika ada warga yang memergoki Danial memperkosa Monik. Ia pun jadi tidak usah repot-repot terbawa dalam kasus itu.
°°°
Rangga mengunci pintu belakang restoran, tangannya dimasukan kedalam jaket tebalnya. Udara malam ini sangat dingin sama seperti malam sebelum-sebelumnya.
"Hemmb" ia seperti mendengar suara orang yang sedang dibekap, Rangga mempercepat langkahnya. Apa sedang ada penculikan? Pikirnya.
Dengan hati-hati ia memelankan suara langkahnya. Saat ia berbelok, tubuhnya menegang. Astagfirullah, sepasang kekasih sedang bercumbu mesra. Tapi tunggu, tangan wanita itu terus memukuli dada sang pria. Astaga, apa pria itu sedang melecehkan seorang perempuan? dibulan ramadhan?. Dengan hati-hati Rangga mendekati kedua orang itu, tangannya sudah ia kepal kuat-kuat bersiap memberikan pukulan pada pria kurang aja itu.
'Bhuk' Sekuat tenaga Rangga memukul kepala belakang pria itu, membuat pria itu melepaskan ciumannya dan memegang kepalanya nya kesakitan. Matanya membola saat ia melihat perempuan yang dilecehkan itu menangis, perasaannya bertambah kesal pada pria itu saat Rangga tau perempuan itu adalah Monik, wanita yang sudah menempat di hatinya saat pertama melihat Monik.
Danial menatap geram kearah Rangga. Kepalanya terasa berkedut dan nyeri bersamaan.
"Lo siapa hah?! Gak usah ikut campur! Dia pelacur gue!" bentak Danial. Rahang Rangga mengeras, dengan amarah yang memenuhi hatinya Rangga mendaratkan satu tinjuan lagi di sudut bibir Danial. Membuat darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya.
"Lo!" mata Danial menyalang marah menatap Rangga, ia menyusut darah disudut bibirnya terlebih dahulu. Tangannya mengepal kuat saat melihat Rangga merangkul bahu Monik yang terlihat lemas dengan airmata yang terus mengalir deras dipipinya. Tanpa menunggu lama Danial mengangkat tangannya hendak memberikan pukulan dibahu kanan Rangga, Monik yang melihat itu langsung memeluk tubuh Rangga agar menghindari pukulan Danial.
"Awas Rangga" pekiknya. Namun hap!. Seorang pria menahan tangan Danial dari belakang.
"Siapa lo? Hah!" bentak Danial mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman tangan pria itu. Rangga dan Monik menatap pria itu.
"Ilham?" pekik mereka berdua. Rangga merangkul bahu Monik menjauhi tempat itu.
"Lo tunggu disini oke, jangan kemana-mana. Gue mau bantu Ilham dulu" Monik mengangguk. Rangga mencium kening Monik dalam namun singkat lalu menghapus air mata Monik.
"Lo jangan nangis, coba tenang oke" tanpa menunggu jawaban Monik, Rangga langsung mendekati Ilham yang kini tengah sibuk menghalau pukulan bruntal dari Danial.
__ADS_1
___
Nabila membuka matanya pelan, ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul setengah satu malam. Senyumnya mengembang dan matanya terus menatap Adam yang sedang sujud menghadap kiblat. Nabila kembali mengingat-ingat kapan terakhir ia shalat Tahajud. Pikirannya kembali mengingat kejadian tak terduga tadi siang.
Flashback
"Udah agak sehatan kan Bil?" Adam menempelkan tangannya didahi Nabila yang panasnya sudah normal.
"Udah Dam. Obatnya ampuh" Nabila tersenyum.
Drett..Drett..
Adam mengambil poselnya yang bergetar diatas meja.
"Assalamualaikum. Bang Safiq, ada apa?" tanya Adam.
"Dam. Kamu sama Nabila mendingan ke rumah mamah sekarang. Ada yang mau mamah omongin katanya" Adam menatap Nabila yang tengah memandangnya penasaran.
"Tapi jam 1 saya harus ke Masjid dulu bang. Paling beres Magrib saya kesananya bang" jawab Adam ragu.
"Astagfirullah. Apa mamah udah tau masalah pernikahan saya sama Nabila?"
"Dateng aja dulu Dam. Biar semuanya jelas. Oh iya, disuruh nginep juga.
" Assalamualaikum" Safiq memutuskan panggilannya sepihak.
"Kenapa Dam? Mamah kamu udah tau?" Tanya Nabila was-was.
"Saya juga gak tau Bil. Sekarang kita siap-siap dulu aja, nanti kerumah mamah. Oh iya, bawa baju salin kamu. Kita nginep semalem"
"Aku takut Dam. Kalo mamah kamu gak setuju gimana?" Adam tersenyum.
"Jangan takut, kita akan selalu bersama Bil" Nabila mengangguk.
°°°
__ADS_1
Sesampainya mereka berdua dirumah orangtua Adam, ternyata didalam ruang keluarga sudah berkumpul mamah, Safiq, Anisa dan Putri.
"Adam sayang, apa kabar nak?" Sambut mamahnya. Adam sebenarnya tau ini bukan sambutan, melainkan sindiran.
"Alhamdulillah, baik mah" ucap Adam ragu, Nabila sedikit menundukkan kepalanya. Mereka duduk di sofa yang langsung berhadapan dengan mamahnya. Adam melirik Safiq dan Anisa. Keduanya tengah berusaha menyibukan diri mereka sendiri. Safiq sibuk pada ponselnya sedangkan Anisa sibuk dengan Putri.
"Putri kan mulai tinggal disini lagi Dam. Emang kamu gak kesepian dirumah lama sendirian?" Tanya mamahnya. Nabila memainkan jarinya sendiri tak berani menatap Mamah Adam.
"Engga kok mah. Adam gak ngerasa kesepian disana. Adam betah" jawab Adam jujur. Mamahnya memberikan senyuman gemas pada Adam.
"Gak kesepian? Betah? Ya iya lah, kamu tinggalnya berdua yah sekarang. Betah, oh mungkin karena sekarang udah ada yang ngurusin kamu ya" sindir mamah Adam. Nabila mengangkat kepalanya merasa tersindir. 'Tuhkan beneran ketahuan' batin Nabila.
"Ah bang Safiq, kenapa dibilangin dulu" ucap Adam yang sudah tak bisa menjawab pertanyaan mamahnya.
"Bukan abang yang ngasih tau mamah" jawab Safiq. Adam mengalihkan pandangannya pada Anisa.
"Ih apaan, bukan Anisa juga" jawab Anisa cepat.
"Ekhem" mamah Adam bersuara.
"Mah, Adam sebenernya mau ngejelasin ini dari kemaren, tapi kemaren Nabila sakit. Sekarang Adam bisa jelasin, mamah jangan marah dulu"
"Coba Nabila yang jelasin" Nabila mengangkat wajahnya lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nabila gak berani mah" Cicit Nabila.
"Jadi mamah udah tau kalo Adam sama Nabila.." ucap Adam menggantung.
"Kalian kenapa? coba bilang ke mamah" ucap mamah semakin gemas.
"Itu mah, serumah" jawab Adam terbata.
"Kenapa bisa serumah?" tanya mamahnya terus menekan.
"Kita, udah nikah mah" jawab Adam akhirnya.
__ADS_1
"Mah maafin Adam ya, Adam beneran mau bilang kok dari kemaren, cuma Nabila sakit jadi gak kesini"