
Pagi yang cerah dan dilengkapi suara cicitan beberapa burung membuat pagi ini semakin sempurna. Namun suasana tenang itu tak dihiraukan oleh seorang perempuan yang hatinya tengah dilanda kemarahan.
"Mah! Kayanya Adam bener-bener ngejauhin aku deh" Natasya melempar majalah yang berada ditangannya keatas meja dengan keras.
"Ya mamah gak tau sayang. Mamah udah nyoba beberapa kali telefon Adam tapi gak diangkat" jawab mamahnya berbohong, sebenarnya ia tidak menelfon Adam, sekarang ia sudah sadar kalau semua ini salah.
"Palingan HP Adam disita sama cewe kasar itu!" gerutu Natasya, ia masih ingat bagaimana sikap dan perkataan Nabila padanya minggu lalu.
"Cewe kasar? Maksud kamu istrinya?"
"Ihh Mamah! Gak usah nyebut cewe itu istri Adam. Aku gak suka ah mah"
"Tasya sayang. Apa gak sebaiknya kamu lupain Adam? Dia udah berkeluarga sayang" kini tangan mamah nya mengelus kepala Natasya lembut. Natasya menggeleng keras.
"Gak bisa mah! Aku udah pernah lupa sama Adam gara-gara amesia dan sekarang aku harus ngelupain Adam lagi? Gak bisa mah, gak bisa" teriak Natasya.
"Sttt sayang. Ia mamah ngerti, kamu tenang ya" mamahnya memeluk tubuh Natasya lembut, mencoba menghentikan amukan Natasya, entah kenapa semenjak Natasya amesia sering sekali Natasya melampiaskan amarahnya dengan amukan.
"Kamu suka anak kecilkan sayang?" tanya mamah Natasya saat melihat anaknya sudah sedikit tenang. Natasya mengangguk.
"Gimana kalo kita ke taman deket rumahnya Adam, pagi-pagi gini biasanya banyak anak kecil yang lagi main. Kali aja Adam ada disana juga" mendengar nama Adam Natasya langsung mengangguk semangat.
"Tapi.. Emangnya Mamah tau rumah Adam dimana?" tanya Natasya ragu.
"Ya taulah sayang. Kita sekeluarga pernah makan malem dirumah Adam, dia tinggal sama mamah papa nya" Natasya mengangguk mengerti. Tanpa disuruh ia langsung masuk kedalam kamarnya, memakai cardigan hitam dan tasnya.
Sesampainya ditaman bermain anak-anak Natasya langsung memandang wajah lucu para anak kecil satu persatu sedangkan mamahnya memilih duduk dikursi panjang sisi taman, para orang tua mendampingin anak mereka. Saat Natasya hendak menghampiri bayi kembar yang sedang bermain diatas jungkat-jungkit seorang anak perempuan menubruk kakinya.
__ADS_1
"Aww" pekik anak kecil itu sambil memegang lututnya. Tampaknya lutut anak itu sedikit lecet. Natasya berjongkok dan mengusap-usap lutut anak itu lembut, membersihkan sisa-sisa pasir yang menempel dilutut anak itu.
"Putri" suara berat dan tegas dari seorang pria yang Natasya yakin kini tengah menghampiri mereka membuat Natasya sedikit takut, apa ayah anak ini galak? Apa Natasya akan dimarahi oleh ayah anak ini? Eh, tapi ini bukan salahnya. Anak ini sendiri yang menubruk kakinya hingga terjatuh. Namun tetap saja Natasya tidak berani melihat wajah pemilik suara tegas itu, dari suara nya saja sudah sangat menakutkan apalagi wajahnya.
Pria itu berjongkok sama seperti dirinya.
"Putri? Sayang kamu gak apa-apa kan? Papa udah bilangin Putri tadi, jangan lari-lari" pria yang sangat perhatian pada anaknya. Batin Natasya. Perlahan Natasya mengangkat wajahnya, menatap wajah ayah dari anak itu. Dari pinggir wajahnya terlihat sangat tampan dan berkarisma.
"Maafin Putri pah. Putri cuma mau ngejar kucing lucu, tapi kakak ini malah ngehalangin jalan Putri. Putri gak sengaja nabrak kakak ini, jadi Putri jatoh" adu Putri. Natasya mengerutkan keningnya bingung, apa anak ini tengah menyalahkan dirinya?.
"Aduh maaf ya pak saya gak liat-liat dulu, tadi saya mau kesana" Natasya menunjuk kearah bayi kembar.
"Iya, anak saya juga salah"
"Putri harus minta maaf sama kakak nya" Putri tak menghiraukan ucapan papanya dan fokus pada lutut nya yang kini mengeluarkan sedikit darah. Pria itu mengangkat wajahnya menatap Natasya, mata mereka beradu.
"Maafin anak saya ya" ucapnya tanpa ekspresi. Deg! Wajahnya! Kenapa wajah pria ini sangat tampan, seperti Adam. Namun bedanya pria dihadapannya saat ini dengan Adam adalah ia memiliki suara tegas, cuek, dan seperti suka memerintah sedangkan Adam jika berbicara selalu lemah lembut. Pria ini juga memiliki wajah yang tegas dan sepertinya pelit tersenyum, auranya pun sangat dingin beda dengan Adam yang selalu bersahabat.
"Nak Safiq?" Natasya menengok kearah kiri, ia baru menyadari Mamah nya ternyata sudah berdiri disampingnya. Pria itu tampak berpikir sejenak lalu tersenyum, membuat kadar ketampanannya bertambah 90°.
"Tante Silmi?" gumamnya Mamah nya tersenyum sambik menganggukan kepalanya. Pria itu langsung menyalami tangan mamahnya.
"Siapa mah?" bisik Natasya.
"Apa kabar Tan?" tanya laki-laki itu.
"Baik. Sayang, ini Safiq kakaknya Adam" mamahnya mengelus bahu Natasya lembut.
__ADS_1
"Safiq, ini Natasya. Kamu masih inget kan?" pria itu mengangguk.
"Natasya yang waktu itu suka Adam ajak kerumah? Saya inget lah Tan, kirain saya cuma mirip aja. Soalnya tambah cantik ya sekarang" blus, pipi Natasya merona. Baru saja ia berfikir tentang aura pria ini sangat dingin, tapi sekarang ia dapat merasakan sikap bersahabat yang di keluarkan pria ini.
"Saya mau ngobatin Putri dulu ya tan. Tante sama Natasya mau mampir? Kebetulan ada Anisa sama Mamah di rumah"
"Papa sama Adam kemana?" tanya Mamah Natasya.
"Adam udah gak tinggal disini sekarang tinggal di rumah yang dulu, kalo papa lagi pergi ke Jakarta tan"
"Gimana sayang? Mau mampir?" tanya mamahnya pada Natasya. Natasya melihat kearah Safiq.
"Mampir aja. Udah lamakan gak kerumah?" lagi-lagi Safiq tersenyum membuat jantungnya semakin berdebar, apa itu artinya ia jatuh hati pada suami orang? Tidak!. Ia mungkin hanya mengangumi sosok Safiq yang sangat mirip dengan Adam, Laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya pada orang yang sama. Natasya pun mengangguk mengiyakan permintaan Safiq yang menyuruh mereka untuk mampir, ia ingin tau Mamah Adam seperti apa 'baik' atau 'cuek' dan ia juga ingin tau Anisa. Mungkin Anisa itu istrinya. Jangan sampai ia suka lagi pada suami orang.
°°°
Natasya masuk kedalam rumah Safiq, ia melihat ada dua perempuan yang sedang duduk memunggunginya sedang menonton drama korea di Televisi.
"Mamah" panggil Safiq. Kedua perempuan itu menoleh bersamaan.
"Safiq?" Mamah menatap Safiq, seolah bertanya siapa yang ia bawa.
"Inget mantannya Adam gak mah?" jawab Safiq yang seolah mengerti.
"Eh? Tasya sama mamahnya ya?" tanya Mamah Safiq. Natasya hanya melemparkan senyuman sebagai jawaban.
"Saya Silmi, alhamdulilah masih inget sama kita" sahut Mamah Natasya. Anisa dan mamahnya berdiri menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ah iya, jeng Silmi. Tasya kemana aja sayang? Jeng Silmi apa kabar?" Mamah Safiq memeluk mereka hangat bergantian.
°°°°