
Harry terdiam sesaat, ia lepas kontrol. Perlahan ia menatap Mikha yang tengah menatapnya kesal, matanya mulai berkaca-kaca. Dengan cepat Mikha memalingkan wajahnya menatap keluar melalui kaca jendela mobil.
"Mik" Harry mencoba memanggil Mikha.
"Maafin gue Mikha, ini sifat asli gue. Sekarang terserah apa keputusan lo tentang perjodohan ini. Maaf selama ini gue munafik sama sikap asli gue, ya lo liat sendiri sekarang. Gue suka ke clubbing, gue gak pernah puasa bahkan ini hari pertama gue puasa dan sholat lagi, hidup asli gue bebas, urakan. Gue bukan cowo baik-baik, bukan cowo yang lo dan keluarga lo harepin" gumam Harry pelan. Mikha melirik Harry yang sedang menggenggam stir mobilnya kencang.
"Besok pagi aku pulang sendiri" Harry menggelengkan kepalanya dan menepikan mobilnya dipinggir jalan.
"Gak ada kata pulang sendiri, gue anterin" kini tatapan Harry sepenuhnya ke Mikha, Mikha tak menjawab perkataan Harry dan lebih memilih menatap kearah luar jendelan.
"Mikha gue minta maaf" Lagi-lagi Mikha tak menjawab. Ingin rasanya Harry menarik rambutnya sendiri, ia gemas dengan sikap Mikha yang kekanakan.
"Mikha, jawab gue" Harry menarik bahu Mikha agar fokus kepada Harry.
"Pulang Her, ayah kamu nanti nungguin" ucap Mikha terdengar seperti menahan tangis.
"Ayah malah bingung kalo kita langsung pulang sekarang, gue ajak jalan-jalan ya?" tawar Harry, Mikha menggelengkan kepalanya lalu menunduk, menghindari kontak mata dengan Harry.
"Mik jangan gini dong, gue tau gue salah, gue kasar, maaf Mik maaf, gue emang gak pantes buat lo, sekarang lo udah tau aslinya gue gimana"
"Apa susahnya sih jadi diri sendiri?" Tanya Mikha mengangkat wajahnya. Harry mengerutkan keningnya bingung
"Maksudnya?"
"Aku juga bukan perempuan sempurna yang mengharapkan laki-laki yang sempurna Her. Aku perempuan biasa yang selalu berharap ada laki-laki yang mencintai aku apa adanya" Harry semakin mengerutkan keningnya bingung.
"Jadi lo mau tetep ngelanjutin perjodohan ini?" Tanya Harry tak percaya, kenapa ada perempuan yang masih menerima laki-laki yang sudah jelas-jelas hanya menganggapnya sebagai pelampiasan?.
Mikha menggigit bibir bawahnya sendu sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku mau pikir-pikir lagi. Bukan cuma keputusan aku yang dibutuhin, keputusan kamu juga dibutuhin. Ini perjodohan kita berdua, aku pingin laki-laki yang bener-bener terima aku apa adanya, laki-laki yang hatinya masih kosong dan bisa aku tempati, buka hati yang masih dimiliki orang lain"
"Hati gue masih ditempatin Nabila" ucap Harry, ia tau kalo saat ini ia sangat brengsek dimata Mikha. Lagi-lagi Mikha menundukkan wajahnya, ingin rasanya Mikha keluar dari mobil ini, sakit hati adalah ungkapannya untuk malam ini.
"Kenapa kamu gak ungkapin aja? Kali aja dia mau balikan sama kamu. Oh iya, batalin perjodohan ini sama kamu, aku gak siap ngomong ke orangtua aku" ucap Mikha. Air matanya turun perlahan melewati pipinya, hatinya seakan sesak. Bagaimana tidak? Dari awal perjodohan ini Mikha sudah menaruh hati pada Harry, perasaan nya semakin bertambah besar saat mendapat perilaku lembut dari Harry selama dua hari ini, walaupun pada kenyataannya semua itu hanya sandiwara.
"Udah gak ada kesempatan, Nabila udah punya Suami" gumam Harry lesu. Mikha menatap kearah Harry terkejut.
"Kenapa?" Tanya Harry. Mikha menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa, pulang sekarang aja. Udah malem" ucap Mikha mengalihkan pembicaraan. Harry menganggukkan kepalanya setuju lalu menghidupkan mesin mobil, melanjutkan perjalanan.
___
Bandung
pukul 13.45
"Bil, sore jalan-jalan yuk" ajak Adam.
"Yuk, kemana?"
"Punclut, kita bukber berdua" jawab Adam, sedetik kemudian Nabila tersenyum menggoda Adam.
"Ceritanya kita kencan nih" Adam mengangguk.
"Oh iya, ini saya beliin baju buat kamu" mata Nabila berbinar, dengan senang hati ia mengambil paper bag yang diberikan Adam.
"Wahh, suami yang baik" puji Nabila.
"Sekarang kamu cobain dulu, pas gak di badan kamu" Nabila mengangguk dan dengan semangat ia langsung masuk kedalam kamar mandi.
"Kita cuma berdua kan Dam?" tanya Nabila ragu, Adam mengangguk.
"Kenapa beliin aku gamis? Kita gak akan bukber lagi sama anak yatim atau anak masjid kan?" Adam mengangguk.
"Saya pingin liat kamu dikerudung buat saya, mau ya" bujuk Adam, mengelus rambut Nabila lembut.
"Ya udah buat kamu aku mau. Tunggu ya, aku cobain dulu" ujar Nabila kembali masuk kedalam kamar mandi. 'Padahal masih ada baju gamis yang belum aku pake waktu beli di mall' batin Nabila.
Adam menatap layar ponsel nya yang terus bergetar, dilihatnya pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Assalamualaikum pah"
"Waalaikumsalam Dam. Minggu depan acara ngelamar Nabila udah siap ya"
"Beneran pah?"
"Bener Dam. Kamu udah ngasih tau orang tua Nabila?"
__ADS_1
"Udah pah. Mamah Nabila juga ngebantuin buat ngundang temen-temen Nabila yang ada di Bandung"
"Alhamdulillah kalo gitu Dam"
"Iya pah, makasih banget pah udah bantuin Adam bikin kejutan ini"
"Sama-sama Dam. Papa doain yang terbaik buat pernikahan kamu"
"Amin pah"
"Ya udah, cuma itu yang mau papa omongin. Papa sendirian di mall nungguin mamah sama Anisa belanja Dam, lama banget. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Sabar ya pah" Adam memutuskan panggilan tersebut, tak lama Nabila keluar dengan rambut yang ia gulung asal dan mengenakan gamis yang sudah Adam pesan di teman mamahnya, berhubung tubuh Nabila dan Anisa sama kecilnya hanya beda di tinggi badan jadi Adam menjadikan tubuh Anisa untuk ukuran gamisnya.
"Gimana Dam?" tanya Nabila kurang semangat.
"Pas, cantik lagi" ucap Adam yang langsung membuat senyum Nabila mengembang.
"Mamah udah pulang?" Tanya Nabila.
"Belum Bil mamah, papa, sama Anisa belum pulang dari mall. Bang Safiq sama Putri lagi pergi sama temen Bang Safiq"
"Temen Bang Safiq?" Adam menganggukan kepalanya.
"Iya, katanya sih perempuan Bil. Mungkin calon mamah buat Putri" jawab Adam santai.
"Kalo tadi pagi kita gak pulang, pasti sepi banget ya disana" Adam tersenyum jahil.
"Kalo sepi kenapa? disini juga sepi" goda Adam.
"Apaan sih Dam ekspresi nya kok gitu ih, kalo sepi gak rame, bosen" Nabila sedikit memukul tangan Adam pelan.
"Eh udah jam segini. Saya berangkat dulu kemasjid ya, jam 5 saya pulang" Nabila ikut melihat jam dinding lalu mengangguk.
"Aku anterin sampe depan ya" Adam mengangguk dan berjalan keluar kamar. Sesampainya di pintu depan Adam mencium kening Nabila lembut.
"Assalamualaikum. Saya pergi dulu ya" Nabila tersenyum lalu mencium tangan Adam.
"Waalaikumsalam, hati-hati yang Dam" Adam membalas senyuman Nabila sambil mengangguk.
__ADS_1