Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
39


__ADS_3

"Ohh Adam, emang kenapa?"


"Gak, gue laper mau nyari makan dulu di luar" jawab nya. Harry mengangguk.


Keesokan harinya Monik memesan taksi untuk mengantarnya ke Masjid Al-Iqra dengan alamat yang Adam katakan kemarin, karena jujur saja Monik tidak terlalu hafal tempat-tempat di Bandung. Sesampainya di depan sebuah masjid yang dominan berwarna hijau ini Monik berjalan masuk ke halaman masjid. Hanya ada seorang pria yang berumur sekitar 40-an sedang menyapu halaman masjid. Di dalam masjid sepi, apa Monik kepagian? Jam 9.


"Permisi pak, bapa kenal sama yang namanya Adam?"


"Ohh kenal mbak, yang bule?" tanya nya. Sontak Monik mengangguk.


"Ada di masjid?"


"Biasanya kalo Adzan dia kesini mbak, sore juga ngajar ngaji. Pas malem aja selesai rapat jam 11. Kalau ada urusan mending ke rumahnya aja mbak"


"Dimana pak?"

__ADS_1


"Dari sini lurus aja, deket ko mbak. Nanti belok kanan, rumah nya no 14" Monik mengangguk.


"Makasih ya pak"


Monik berjalan sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku jaket hitam nya yang dipasangkan dengan celana jeans hitam nya kemarin, karena Monik tidak membawa pakaian selain ini, ia tidak tau akan menginap.


Sesampainya di depan rumah Adam, Monik memperhatikan dulu rumah Adam. Sedikit aneh memang, Adam memiliki tempat makan tapi rumah nya sederhana dan tidak bertingkat namun memiliki halaman yang sedikit luas, pikir Monik. Tanpa babibu Monik melewati pagar milik rumah Adam yang terbuka lalu mengetuk pintu Adam sedikit keras. Pintu terbuka, Adam yang sekarang sangat beda dengan Adam yang kemarin hanya Karena Adam memakai kemeja biru muda yang di lipat tangannya sampai siku, entah di sengaja atau tidak dua kancing bagian atasnya terbuka. Membuat Adam terkesan 2 kali lebih tampan dari kemarin.


"Hai" sapa Monik.


"Di luar aja deh Dam" Adam mengangguk. Mereka berjalan dan duduk di kursi yang disediakan Adam di terasnya.


"Mau minum apa? Maaf, saya lupa hari ini saya gak ke masjid, jam 10 saya mau ke restoran" jelas Adam merasa bersalah.


"Ga usah, tadi gue udah minum ko. Lagi ada orang ya di dalem? Agak berisik soalnya" Adam tersenyum.

__ADS_1


"Istri saya lagi masak di dapur" Adam tersenyum geli mengingat kejadian tadi. Saat Adam akan memasak untuk sarapan tapi Nabila menolaknya, ia bilang akan mencoba masak sendiri dan menyuruh Adam untuk bersiap-siap saja berpakaian ke restoran dan dengan permintaan Nabila Adam memakai kemeja biru muda ini, saat Adam mengintip ternyata Nabila sedang memasukan bumbu sambil sesekali melirik ke ponselnya untuk melihat resep. Sebenarnya masakan itu hanya membutuhkan waktu 15 menit, tapi Nabila belum selesai sampai sekarang dan Adam memutuskan membantu mencuci piring kotor.


"Lo udah punya istri?" tanya Monik kecewa.


"Alhamdulilah, sudah. Jadi, apa kamu mau kerja di restoran saya?" tanya Adam.


"Engga. Gue ga bisa tinggalin keluarga gue di Jakarta. Tapi tenang aja, gue udah memutuskan berhenti jadi perempuan kaya gitu ko"


"Alhamdulilah, uang buat tebus obat ibu kamu jadi?"


"Aduhh, gue kaya gak tau diri banget ya minjem ke lo, padahal kemaren gue udah mau ngedzolimin lo. Tapi, kalo lo gak keberatan gue pinjemin uang ke gue sih" Monik menyebutkan nominal uang yang akan ia pinjam.


"Saya gak keberatan kok, saya ambil dulu uang nya ya"


Saat Adam keluar dari kamarnya sambil memegang amplop coklat, Nabila keluar dari dapur dengan senyum bahagia.

__ADS_1


"Adam, masakan nya udah jadi" Adam tersenyum.


__ADS_2