
Sesampainya didalam Safiq duduk diruang tamu, duduk berhadapan dengan Nabila dan Adam. Alis Safiq terangkat, seakan meminta penjelasan dari Adam.
"Kalian tidur bareng?" tanya Safiq mulai menintrogasi. Nabila menggelengkan kepalanya cepat. Adam menggenggam tangan Nabila.
"Gini bang, sebenernya" ucap Adam tergantung karena Safiq terlebih dahulu bertanya.
"Anisa mana?"
"Anisa udah tidur sama Putri di kamar Putri" jawab Adam. Nabila menundukan kepalanya tak berani melihat Safiq.
"Jadi bener kalian tidur sekamar?" tanya Safiq ragu, karena ia sangat tahu bahwa rumah ini hanya memiliki dua kamar. Adam menganggukkan kepalanya.
"Hah!" pekik Safiq tak percaya. Bukannya Adam sudah berubah? Kata mamah Adam sering ke Masjid bahkan menjadi ketua anggota remaja masjid. Tapi kenapa ia berani membawa seorang wanita kerumahnya?.
"Astaga kalian"
"Gini bang. Sebenernya ada sesuatu yang sampai saat ini belum saya kasih tau sama keluarga kecuali Anisa"
"Apa itu Dam?" tanya Safiq pening.
"Sebenernya" Adam menggenggam tangan Nabila semakin erat.
"Nabila itu istri saya" Safiq menampilkan wajah terkejutnya tak jauh berbeda dengan Nabila yang kita tengah menatapnya.
"Serius? Kapan? Tapi kenapa kalian gak ngasih tau dari awal? Waktu Putri ulangtahun kalian udah nikah?" mereka mengangguk bersamaan.
"Astaga. Kenapa gak bilang ke keluarga? Apa kamu udah ngehamilin Nabila Dam?" Adam menggeleng dengan cepat.
"Bukan bang. Ini semua salah paham awalnya. Waktu itu Nabila.." Adam melirik Nabila terlebih dahulu meminta persetujuan. Nabila mengangguk pelan dan Adam mulai menceritakan kejadian waktu itu. Saat pak RT, Abi, dan anak-anak remaja masjid memergoki mereka didalam rumah.
"Jadi kapan kalian ngasih tau ini ke mamah papa?"
"Secepatnya bang. Kita juga akan mengadakan resepsi pernikahan setela lebaran nanti" Safiq mengangguk mengerti walaupun hatinya masih belum sepenuhnya tenang, masih banyak yang ia ingin tahu.
"Yaudah, nanti Abang bantuin ngomong ke mamah papa ya, gak baik kalo mamah papa tau berita ini dari oranglain"
"Makasih bang" ucap Adam.
"Bang Safiq mau minum?" tawar Nabila. Safiq menggelengkan kepalanya.
"Tadi udah di kantor" tolak Safiq halus.
"Oh ya. Niat awal Abang kesini mau ada yang Abang omongin sama kamu" lanjut Safiq.
"Ada apa bang?" tanya Adam.
"Soal Putri" Safiq mengambil nafas panjang.
"Abang rasa abang udah terlalu lama ngenelantarin Putri. Abang pingin bawa Putri lagi, Abang pingin nebus kesalahan abang. Gak apa-apa kan Dam?" sebenarnya Safiq tidak enak mengatakannya. Namun Adam tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulilah. Saya seneng dengernya Bang. Saya ikhlas ngembaliin Putri bang, lagi pula saya tetep bisa ketemu Putri kan?"
"Pastinya lah Dam. Ohiya, apa gak sebaiknya kalian pindah aja ke rumah Mamah. Mamah nyuruh Abang buat ngebujuk kamu tinggal lagi disana Dam. Sekalian kalian jelasin status kalian" Adam menggelengkan kepalanya.
"Untuk sementara kami tinggal disini dulu Bang. Sampe rumah beres"
"Oh iya. Rumah kamu udah selesai?" Adam mengangguk.
"Alhamdulilah udah. Tinggal halaman, cat terus perabotannya Bang. Insyaallah lebaran selesai"
"Alhamdulilah. Ah iya, sekali lagi abang makasih banget ya Dam udah ngejagain Putri" Nabila yang dari tadi hanya diam tak tau harus berbicara apa sekarang ia hanya memandang Adam bingung. Rumah apa?.
"Saya udah nganggep Putri anak saya juga Bang. Jadi udah kewajiban saya ngejaga Putri" Safiq melirik jam tangannya.
"Udah jam 12 Dam. Abang pamit pulang ya Dam, Bil maaf ngeganggu malem-malem gini"
"Gak ngeganggu Bang. Cuma bikin degdegan aja hehe"
"Abang pamit ya Bil" ucap Safiq pada Nabila yang dari tadi hanya diam. Nabila tersenyum.
"Iya Bang. Sering-sering mampir ya"
"Insyaallah Bil. Eh Dam, gak apa-apa kan kalo besok Abang kesini jemput Putri?" Adam mengangguk.
"Iya Bang" mereka berdiri dan berjalan kearah pintu.
"Assalamualaikum"
"Hati-hati dijalan Bang" pesan Adam yang dijawab anggukan oleh Safiq.
Adam menutup pintu rumah.
"Yuk tidur lagi" Adam merangkul bahu Nabila lembut. Nabila mengangguk.
"Dam" panggil Nabila pelan.
"Hemm" gumam Adam sambil menatap Nabila.
"Tadi kok ngomongin rumah. Rumah apaan?" Nabila membuka pintu kamar.
"Kepo" sahut Adam lalu membaringkan tubuh nya diranjang sambil memejamkan matanya.
"Ihh Adam. Jawab" Nabila duduk disisi ranjang sambil menggoyangkan lengan Adam. Adam membuka matanya pelan.
"Rahasia dong Bil. Anggep aja hadiah saya buat kamu setelah resepsi nikah kita" Adam kembali memejamkan matanya mencoba tidur dengan tenang, mengabaikan teriakan Nabila yang terus melontarkan pertanyaannya.
"Ih kok malah tidur sih Dam" dengan Jahil Nabila menggelitiki pinggang Adam, membuat Adam mau tak mau bangun dari tidurnya.
"Geli Bil, nih cobain" Nabila tertawa saat tangan Adam sudah berada dipinggangnya. Adam terus menggelitiki Nabila, mengabaikan Nabila yang tersiksa dengan gelitikan Adam.
__ADS_1
"Dam ih, udah haha" Nabila mencoba melepaskan tangan Adam dan berdiri disisi ranjang, memperhatikan wajah Adam yang sepertinya bahagia itu.
"Jahat pembalasannya" gerutu Nabila. Adam masih duduk dengan santai diatas ranjang sambil menepuk tempat sebelahnya.
"Makannya jangan jail. Sini duduk" Nabila menggelengkan kepalanya.
"Gak mau. Cape ah dikelitikin kayak gitu" Nabila cemberut sambil membenarkan rambutnya.
"Gak akan, ini udah malem Bil, nanti pagi saya jawab pertanyaan kamu ya. Sini peluk" ucap Adam jahil, sambil membentangkan tangannya, namun siapa sangka Nabila naik keatas ranjang sambil menyilakan kakinya lalu menyambut pelukan Adam, membuat Adam menjadi salah tingkah.
"Harus baik ya ke istri, kalo istri ngejailin gak boleh ngejailin balik" bisik Nabila ditelinga Adam.
"Gak bisa, kalo istri ngejailin harus dijailin balik, biar rame" jawab Adam.
"Rame apaan, jahat" Nabila meletakkan dagunya dibahu Adam.
"Reaksi orangtua kamu nanti gimana ya kalo tau" gumam Nabila sedih. Melihat reaksi bang Safiq tadi saja sangat tidak percaya, apa lagi kedua orangtua Adam, pasti sangat kecewa. Ini semua memang salahnya, seharusnya ia menuruti perkataan Adam waktu itu, jujur pada saat ulangtahun Putri. Nabila merasa Adam mengelus rambut nya pelan.
"Nanti kita bicarakan baik-baik ya Bil, insyaallah mereka bisa mengerti. Lagian saya pengen banget ngadain resepsi pernikahan beres lebaran nanti, biar mamah gak terlalu sedih karna gak liat kita akad" Nabila membuang nafasnya kasar.
"Tetep aja sedih dan pastinya kecewa" gumam Nabila.
"Ya udah kita jelasinnya besok, jangan nunggu lama buat ngejelasin semua ini" usul Adam. Nabila terdiam sesaat.
"Jangan besok, lusa deh, biar aku siapin dulu mental" jujur Nabila tidak enak jika nantinya kedua orangtua Adam marah.
"Besok sama lusa sama aja Bil, lebih cepat lebih baik" Nabila akhirnya mengangguk setuju, lalu melepaskan pelukan Adam.
"Kalo masalah rumah tadi apaan? sekarang aja jawabnya" tanya Nabila sedikit semangat.
"Nanti pagi" Nabila berdecak mendengar jawaban Adam.
"Sekarang sama pagi sama aja Dam, lebih cepat lebih baik" kekeh Nabila mengikuti ucapan Adam sebelumnya.
"Udah jam 12 lebih Bil, nanti sahur kesiangan" Adam cepat-cepat membaringkan tubuhnya sambil menarik selimut.
"Ayo Bil tidur, baca doa dulu"
"Berisik" gumam Nabila kesal, Nabila melihat Adam sudah memejamkan matanya.
"Ih Adam beneran tidur? jawab dulu" Nabila kembali mengguncang tangan Adam.
"Dam ih, rese"
"Adam, kamu bikin rumah ya?" tanya Nabila, namun Adam tetap tidak membuka matanya.
"Tau ah!" Nabila pun membaringkan tubuhnya dengan kesal, menatap Adam sekilas lalu membalikkan badannya memunggungi Adam.
...°°°...
__ADS_1
Maaf temen-temen kamaren lupa up✌️