
Adam yang menunggu Nabila di depan pintu kamar mandi menatap Nabila bingung.
"Kenapa?"
"Dingin banget Dam"
"Seger Bil, bukan Dingin. Gak ngantuk lagi kan?" tanya Adam.
"Engga, tapi sumpah dingin banget Dam. Peluk kek" ucap Nabila asal. Nabila mangelus kedua tangannya sendiri mencari kehangatan. Sambil berjalan kearah pintu.
Deg, tubuh Nabila seketika membeku saat merasakan Adam memeluknya dari belakang, tubuh Adam hangat.
"Ihh Adam! Lepasin ah" Nabila melepaskan kedua tangan Adam yang memeluknya, wajah Nabila merona merah. Nabila tidak ingin Adam mendengar detak jantungnya yang tidak normal. Dengan cepat Nabila membuka pintu dan melangkahkan kakinya menuju meja makan 'Kok lebih takut kalo Adam yang inisiatif duluan ya' pikir Nabila ngeri. Adam ingin tertawa tapi di urungkan niatnya dan lebih memilih mengikuti Nabila sambil mengembangkan senyumnya, benar kata internet tadi, Adam harus memperbanyak kontak langsung dengan Nabila agar mereka tidak canggung.
Nabila duduk di kursi meja makam yang berbentuk bundar sambil mematap dua masakan yang terhidang.
"Masih dingin gak? Pake jaket aja Bil" tanya Adam kali ini serius. Nabila menggelengkan kepalanya. Adam tersenyum jahil.
"Apaan?" tanya Nabila sengit.
"Berarti pelukan saya anget ya Bil?" canda Adam.
"Ihh Adam, kamu kenapa sih dari tadi aneh banget"
"Aneh gimana?"
"Tau ah, mending kita mulai sahurnya" ucap Nabila mengalihkan pembicaraan nya.
Adam mengambilkan nasi keatas piring mereka berdua sedangkan Nabila yang memindahkan lauk pauk nya ke atas nasi mereka. Adam memimpin doa sebelum sahur, mereka pun makan dalam diam menikmati makanan.
"Mau ikut tadarusan gak?" tanya Adam sambil membersihkan piring yang sudah Nabila beri sabun.
__ADS_1
"Kapan? Siapa aja?" tanya Nabila memberikan gelas yang sudah ia bersihkan dengan sabun kepada Adam.
"Beres sholat subuh Bil, bareng anggota remaja masjid lainnya. Tapi perempuan di sekre, laki-laki di luar. Ngaji kamu juga udah lancar ko Bil" Adam mematikan kran air setelah mereka beres mencuci piring bersama. Di lapnya tangan basar ke handuk kecil yang menggantuk di tembok.
"Belum terlalu lancar Dam" koreksi Nabila. Dengan sabar Adam mengajari Nabila membaca Al-quran. Selama tiga Nabila belajar dengan iqra untuk mengingat-ingat huruf, lalu mulai membaca Al-Qur'an dan belajar Tajwid.
"Iya sambil ngelancarin lagi" bujuk Adam, Nabila pun mengangguk.
°°°
Sore, 17.00
Nabila mengusap perutnya yang sudah berbunyi sedari tadi. Ia memainkan Ponselnya dan mencari-cari resep makanan berbuka puasa, pilihannya tertuju pada kolak pisang dan sayur bayam yang menurutnya mudah.
Nabila mengambil dompet lalu berjalan menuju warung sayur yang tidak terlalu penuh pembelinya.
"Bu, saya beli bahan-bahan buat bikin kolak pisang sama sayur bayam ya" ujar Nabila. Seorang wanita menatap Nabila ragu-ragu.
"Eh, kenalin bu nama saya Nabila dari Jakarta. Istrinya Adam" Nabila tersenyum ragu. Membuat kelima ibu-ibu itu mengangguk mengerti.
"Ohh, mamah nya Putri ya? Saya kira nak Adam tuh Duda, udah cerai sama istrinya. eh ternyata istrinya lagi di Jakarta. Nanti mah jangan lagi ya neng"
"Jangan lagi apa Bu?"
"Jangan ninggalin suami sendirian sama anak, apalagi suaminya ganteng. Nanti ada ya naksir"
"Ah ibu bisa aja" ucap Nabila. Ternyata orang-orang disini ramah, tapi gue gak terlalu suka di luar rumah, enak di rumah. Pikir Nabila.
"Ini Neng" ucap Ibu penjual memberikan keresek hitam pada Nabila.
"Eh ia Bu. Berapa?" ibu itu menyebutkan nominalnya, Nabila memberikan uang nya.
__ADS_1
"Pemisi ibu-ibu"
"Ia neng"
Nabila menggulung rambutnya asal. Ia mulai memotong pisang dan kolang kaling, tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit. 'Aw' Nabila memegang perutnya yang terasa nyeri sambil berjalan kekamar mandi.
"Sial!" gerutunya saat keluar dari kamar mandi. Sudah jam setengah enam dan tamu bulanan nya datang. Dengan malas Nabila mengambil pembalutnya didalam lemari pakaian. Setelah memakainya Nabila membatalkan puasanya dan kembali memasak kolak pisang dan sayur Bayam.
Sedangkan,
Adam dari pagi tadi belum pulang sama sekali dari masjid, pagi sampai waktu Ashar mengumpulkan barang-barang baksos yang di berikan warga dan dari Ashar sampai Magrib ia harus mengajar anak-anak pasantren kilat, peserta tahun sekarang lumayan banyak dari tahun kemarin. Jika tahun kemarin Adam menjadi wakil kelas atau pendamping anak-anak kelas 4-6 Sd karena Adam baru masuk IRM dan belum terlalu lancar mengaji, sedangkan sekarang Adam menjadi guru Tajwid selama seminggu dan guru nasyid seminggu.
Setelah Adzan Magrib berkumandang Adam mengetuk pintu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Nabila mencium tangan Adam dan Adam mencium kening Nabila. Mereka berdua masuk kedalam rumah.
"Gimana puasanya? Tamatkan hari ini?" Nabila menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Tamu bulanan dateng"
"Oh, berarti besok saya sahur sendiri" gurau Adam.
"Bangunin aku aja. Nanti aku temenin"
"Beneran mau di bangunin? Nanti kaya subuh, susah dibanguninnya" Nabila semakin menurunkan bibirnya cemberut.
"Iya iya, besok saya bangunin. Jangan cemberut dong. Emm, wangi apa ini?" tanya Adam saat hidung nya mencium wangi masakan. Seketika Nabila tersenyum.
__ADS_1
"Aku masak Kolak pisang"