
"Ckck, kasian sekali si Harry. Udah ditinggal Nabila ke Bandung, sekarang mau ditinggal nikah sama kamu. Sabar ya Her, Her!" Teriak Bang Tommy saat melihat Harry yang daritadi melamun.
"Eh?" Ujar Mikha, sepertinya Bang Tommy salah paham.
"Eh, apaan bang?" Gagap Harry tak fokus.
"Sabar ya" kata bang Tommy kembali.
"Sabar apaan?" Harry tak paham dengan apa yang dibicarakan bang Tommy.
"Ck, tadi tadi pikiran kau melayang kemana?"
"Ke Nabila" ceplosnya. Mikha langsung menatap Harry tajam, ternyata benar, Harry belum bisa melupakan perempuan itu.
"Saya bingung bang, nanti kalo ada Nabila saya harus gimana"
"Ngapain harus bingung, kalian kan deket kaya lem atau kalian lagi ada masalah"
"Iya bang, saking deket nya sama udah pernah di tampar sama dia pas di Bandung"
"Wihh tambah galak ya perempuan itu" Mikha mendehem membuat kedua orang dihadapannya melirik nya.
"Aku ke toilet ya" pamitnya langsung pergi tanpa menunggu jawaban keduanya.
"Dia kenapa Her?" Tanya bang Tommy.
"Mungkin kebelet bang" jawab Harry santai. Selang beberapa menit Mitha, model Harry datang mendekati Harry.
"Tadi gue di toilet, kalo gak salah cewe lo gitu yang masuk" tanya Mitha ragu.
"Iya, tadi dia ijin ke toilet"
"Tuh kan bener, lo apa-in cewe lo sampe kaya gitu?"
"Maksudnya?" Tanya Harry bingung.
"Tiba-tiba masuk sambil nangis terus nutup pintu wc kenceng banget, gue sama Susi lagi ngaca di toilet kaget" Harry tambah mengerutkan keningnya.
"Kenapa nangis?" Tanya Harry.
"Ya mana gue tau, udah ah gue mau ke Joni dulu" pamit Mitha.
"Eh, mau apa ke Joni" tanya Bang Tommy.
"Hehe biasa bang. Minta tolong beli-in cemilan" kekehnya.
"Saya nyamperin Mikha dulu bang" pamit Harry sambil melangkah kan kakinya cepat menuju toilet.
"Oke Her" jawab bang Tommy.
"Pasti tuh cewek banyak nge-batin pacaran sama Harry ya bang. Cowok gak pekaan kayak gitu di pacarin" gumam Mitha.
"Ya namanya juga cinta. Eh iya, kamu beli cemilan gak puasa lagi?"
"Saya lagi halangan bang, biasa cewe" kekeh Mitha.
__ADS_1
"Halangan mu lama, Sampe 2 minggu" ejek bang Tommy.
"Abang ngitung?" Pekik Mitha.
"Iya lah saya itung. Kalo dalam agama saya ada Puasa, saya pasti puasa" kata Bang Tommy.
"Saya lupa sahur terus bang. Udah ah, saya laper. Bye" jawab Mitha santai sambil berlalu, meninggalkan bang Tommy yang hanya menggelengkan kepalanya.
°°°
Di perjalanan yang lumayan macet, Adam mengecilkan suara radio mobil namun dengan cepat Nabila membesarkan lagi suara radio tersebut.
"Jangan terlalu kenceng Bil" ujar Adam mengecilkan suara radio.
"Tapi aku suka lagu ini Adam" Seru Nabila membesarkan suara radio. Adam menghembuskan nafasnya pasrah lalu menatap lampu merah didepannya.
"Kok lama ya Bil, gak maju-maju" Nabila terkikik melihat wajah Adam yang sudah bercucuran keringat, seakan ac mobil tidak mempan menghalau panasnya terik matahari atau mungkin karena Adam sudah terbiasa dengan cuaca sejuk. Nabila mengambil tisu nya dan mengelapkannya pada kening Adam.
"Aku kan udah bilang, kalo mau ke Jakarta malem aja. Gak panas walaupun macet juga" ujar Nabila sambil memarik tangannya beresta tysu.
Adam melirik Nabila.
"Kapan kamu bilangnya?" Goda Adam. Ia ingat Nabila langsung tidur setelah ia membacakan cerita.
"Pas malem Dam"
"Beres saya bacain cerita kamu langsung tidur Bil" Nabila berfikir sejenak lalu menyengir kuda.
"Ah itu, kemaren aku mau ngasih tau tapi malah ketiduran ya. Kirain aku udah ngasih tau Dam" cengirnya. Saat Adam akan mencubit lembut hidung Nabila suara klakson dibelakang menghentikan aksi Adam.
Suara deringan ponsel Nabila mengalahkan suara radio, dengan cepat Nabila mengambil ponselnya didalam tas.
"Mamah" gumam Nabila, Adam dengan cepat mengecilkan suara radio.
"Makasih suami" ujar Nabila lalu menggeser jarinya diatas ponsel.
"Assalamualaikum mah" salam Nabila. Adam sesekali melirik Nabila, penasaran ada apa mamah Nabila menelfonnya.
"Waalaikumsalam Bil, udah nyampe?"
"Belum mah, sebentar lagi nyampe hotelnya. Papa mana mah?"
"Oh iya, bagus sayang. Nanti langsung istirahat ya. Papa lagi nyetir"
"Iya mamah, mamah sama papa mau kemana?" tanya Nabila penasaran.
"Mau kerumah tente Mira, Abi sama Risti katanya mau ke Sumedang Bil. Jadi Papa sama Mamah disuruh nginep dirumah tante Mira, takut katanya tinggal sendiri"
"Ohh. Takut hantu kayaknya Mah" Nabila terkekeh.
"Huss kamu ini, ntar ada hantunya di hotel kamu"
"Apaan, mana ada hantu di Jakarta mah"
"Ada, nanti mamah kirim kesana" jawab mamahnya yang mulai gemas.
__ADS_1
"Gak takut, ada Adam ini"
"Ah terserah anak mamah yang manja aja lah. Kalo udah nyampe kabarin mamah ya Bil"
"Iya siap mah"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam mamah sayang" Nabila memasukan ponselnya kembali kedalam tas. Adam tersenyum membuat Nabila menatapnya bingung.
"Kamu kenapa sih? senyum-senyum gitu, takut ah"
"Ngomongin saya ya" tanya Adam percaya diri.
"Apaan percaya diri banget, jangan sok tau" ejek Nabila.
"Tadi bawa-bawa nama saya"
"Ihh kepo yaa haha. Urusan cewek, jangan mau tau"
"Kok gitu sih Bil, kasih tau" bujuk Adam.
"Gaak, udah nyetir aja yang fokus"
"Ya udah liat nanti, saya bakalan bikin kamu ngasih tau" Adam mulai menyetir dengan fokus, mencoba mengabaikan Nabila yang sepertinya akan penasaran.
"Apaan main ngancem, awas loh kalo yang enggak-enggak" Nabila memperingati, namun Adam tak menjawab, hanya tersenyum tipis sambil fokus menatap jalan.
"Ihh Adam"
°°°
Harry menatap Mikha yang matanya masih berkaca-kaca, ia tak tega melihat Mikha bersedih seperti ini.
"Mik, tadi kenapa nangis?" Tanya Harry lembut, Mikha hanya menggelengkan kepala nya.
"Kalo ada apa-apa cerita ke aku Mik, aku calon suami kamu. Kita harus saling terbuka" ujar Harry lembut, apa ada yang menyakiti hati Mikha? Batinnya.
Mikha terkejut dan langsung menatap Harry, mencari keseriusan dimatanya. Apa benar Harry menganggapnya calon istri? Tapi kenapa tadi pagi ia begitu antusias saat tau Nabila ada kemari?.
"Kenapa?" Tanya Harry kembali.
"Gak apa-apa" jawab Mikha berusaha tersenyum.
"Nah gitu dong, jangan nangis. Nanti puasanya batal" ujar Harry.
"Mending sekarang kamu ganti baju, aku mau foto kamu ya" lanjut Harry.
"Sekarang kan waktunya istirahat Her" Mikha mengerutkan keningnya.
"Ya biarin, aku cuma pingin foto kamu" jawab Harry, Mikha tersenyum lalu mengangguk sambil mengambil tas make up nya dan mengambil dress nya, berjalan memasuki ruang ganti. Mungkin Harry masih berproses membuka hati untuknya, Mikha harus bertahan.
Ponsel Harry bergetar sesaat diatas meja.
Bimo: mau ke bar gak malem?.
__ADS_1