Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
44


__ADS_3

Adam duduk disebelah Nabila yang sudah terlelap tidur membelakanginya. Adam menyalakan ponselnya yang baru ia charger, beberapa pesan masuk dari grup bermunculan.


"Mamah Nabila nelfon" gumam Adam melihat panggilan tak terjawab 2 kali, dengan sedikit panik Adam menelfon kembali nomor mamah Nabila.


"Assalamualaikum mah"


"Waalaikumsalam Dam" jawab mamah Nabila disana.


"Mah maaf tadi dimasjid hp Adam abis batre, Adam gak tau kalo mamah nelfon"


"Duh maaf kalo bikin nak Adam panik. Mamah cuma mau bilang, besok paksa Nabila buat sahur ya, mamah pengen liat Nabila puasa"


"Pastinya mah, Adam kan udah janji bakalan ngerubah Nabila" jawab Adam sambil menatap punggung Nabila yang tertidur tenang sambil tersenyum.


"Alhamdulillah kalo gitu, mamah seneng bisa punya menantu kaya nak Adam. Sekarang Nabila lagi apa?"


"Nabila lagi tidur mah, Alhamdulillah Adam juga seneng bisa punya istri kaya Nabila mah"


"Syukur kalo kalian berdua akur, mamah seneng dengernya, mamah khawatir kalian lagi ada masalah"

__ADS_1


"Engga mah, Alhamdulillah kita baik-baik aja"


"Sekali lagi makasih ya nak Adam udah sabar ngehadepin Nabila. Udah malem, mamah tutup telfonnya ya. Assalamualaikum"


"Sama-sama mah. Waalaikumsalam"


°°°


Suara alarm yang berasal dari ponsel Nabila membangunkan Adam. Tak berapa lama Adam duduk dan mulai mengumpulkan kesadarannya. "Jam dua" gumam Adam saat melihat jam dinding sambil tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.


'Mungkin Nabila sangat antusias untuk sahur pertamanya ini, sampai-sampai mensetting alarm sesubuh ini' pikir Adam.


"Ini, bunyi" ucap Adam gugup menjauhkan diri dari Nabila, dengan cepat Adam menyimpan ponsel Nabila diatas bantal.


'Engh' Nabila meregangkan tubuhnya lalu membuka matanya pelan. Rasanya ia ingin kembali memeluk guling dan menarik selimut tebal itu sampai kepala. Dengan malas Nabila duduk bersandar disandaran ranjang sambil memejamkan matanya kembali.


Adam berpikir sejenak mengapa ia sepanik ini, ia ini suaminya.


"Masih ngantuk?" tanya Adam lembut, mencoba menetralkan detak jantungnya. Nabila mengangguk dengan bibir cemberut.

__ADS_1


"Ya udah, saya aja yang masaknya ya. Kamu tidur lagi aja, nanti saya bangunin" Nabila membaringkan kembali tubuhnya lalu Adam mengelus lembut kening dan rambut Nabila, membuat Nabila semakin mengantuk. Adam tersenyum melihatnya, ia jadi teringat Putri, jika Putri mengantuk Adam selalu mengelus kepala Putri lembut hingga tertidur.


"Hemm" gumam Nabila tak sadar.


Adam menarik selimut sampai bahu Nabila lalu masuk kedalam kamar mandinya untuk mencuci muka, air yang dingin membuat wajah Adam sangat segar. Setelah di dapur Adam mulai memotong dan memasak bahan untuk makanan sahur ini. Setelah selesai Adam kembali masuk kedalam kamar, di tatapnya Nabila yang masih terlelap tidur.


"Nabila, bangun yuk. Kita sahur dulu" Adam mengelus pipi Nabila lembut. Adam jadi teringat saat pertama bertemu Nabila di masjid, wajah cantik namun saat berbicara ketus.


"Udah beres masaknya?" tanya Nabila menghentikan lamunan Adam. Adam melihat Nabila yang sedang mengucek matanya. Adam tersenyum.


"Udah, yuk bangun. Kita sahur dulu" ucap Adam. Nabila langsung berdiri dan hendak berjalan kekamar mandi membuat tubuhnya tidak seimbang dan kepalanya pusing. Adam memegang bahu Nabila lalu membantu Nabila duduk kembali di ranjang.


"Duduk dulu aja" Adam tau kesadaran Nabila belum seratus persen pulih.


"Maaf ya gak ngebantuin masak"


"Iya gak apa-apa. Masih pusing?" Nabila menggelengkan kepalanya.


"Ya udah saya bantuin ke kamar mandi" Adam dengan sabar menuntun tubuh Nabila kedalam kamar mandi. Saat Nabila selesai mencuci mukanya dengan air dingin membuatnya segar dan kantuk pun langsung hilang. Namun Nabila baru menyadari hawa subuh ini sangat lah dingin membuat Nabila memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2