Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
Extra Part


__ADS_3

91


Mau ngingetin lagi, senin aku upload novel baru judulnya Love You Om!


...Happy Reading...


......Extra Part - 2......


Sesampainya diruang persalinan Adam terus menemani Nabila sambil berdoa, memohon kepada Allah untuk melancarkan segalanya. Entah sudah berapa kali ponselnya bergetar, namun ia hiraukan.


Adam mengelus rambut Nabila sambil menatap Nabila yang sedang menahan sakitnya proses lahiran, dan untuk pertama kalinya dalam hidup Adam ia menemani Nabila melahirkan anak pertama mereka. Pandangan Adam sedikit berkunang-kunang dan hampir hilang kesadaran. Adam meminta ijin keluar ruangan sebentar untuk menenangkan dan menguatkan diri.


Ponsel Adam kembali bergetar.


"Assalamualaikum mah" salam Adam.


"Waalaikumsalam Dam, rumah sakitnya dimana? mamah nungguin dari tadi" tanya mamah buru-buru.


"Adam lagi dirumah sakit mah, Nabila lahiran. Mamah kasih kabar ke keluarga Nabila ya, Adam masih harus nemenin Nabila"


"Iya rumah sakitnya mana Dam? ini mamah papa sama Safiq udah di mobil" ucap mamah Adam gemas.


"Deket rumah Adam"


"Jauh amat Dam. Ya udah mamah kesana ya, jangan terlalu panik Dam, temenin Nabila"


"Nabila maunya sama dokter Ana terus"


"Ah ya udah sekarang Mamah berangkat"


"Iya mah, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Adam menarik nafasnya dalam-dalam.


"Bissmilahirahmannirahim, ya allah lancarkan lah" ucap Adam lalu masuk kedalam ruang salin.


_


Adam menggenggam tangan Nabila, menguatkan Nabila yang tengah berusaha melahirkan buah hati mereka. Sesekali tangan Adam menghapus keringat Nabila yang keluar dari keningnya. Betapa senangnya hati Adam saat melihat sang buah hati lahir ke dunia, sesaat setelah sang buah hati lahir ia mengeluarkan tangis kencangnya.


Adam mencium kening Nabila dalam, betapa ia ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Nabila saat melihat pengorbanan dan betapa sakit nya Nabila.


"Terima kasih sudah menjadi Umi yang kuat sayang" ucap Adam haru.

__ADS_1


"Selamat, istri anda melahirkan Putri yang cantik" Ujar sang dokter perempuan dengan ramah.


___


Nabila sudah dipindah kan ke ruang inap, keluarga Nabila dan keluarga Adam sudah berkumpul di dalam ruangan. Adam sedari tadi terus setia di sisi Nabila, seakan tak rela meninggalkan Nabila sedetik pun. Hatinya masih terlalu gembira, tiada hentinya Adam mengucapkan syukurnya. Benar apa kata Nabila semalam 'Mungkin ini cobaan buat kita bi, tapi abi harus yakin ya akan ada yang indah setelah ini'. Allah selalu merencanakan sesuatu yang indah untuk umat nya.


"Selamat ya, kalian udah jadi orang tua sekarang. Kasih contoh dan ajaran yang baik buat Putri kalian" ujar Papa Adam.


"Iya pah, doain kita semoga jadi orang tua yang berhasil dalam mendidik anak-anaknya menjadi soleh solehah" jawab Adam. Tangan Adam mengelus rambut Nabila yang masih berbaring di ranjang, Adam tersenyum, ingin sekali ia mengatakan betapa besarnya cinta Adam.


"Aminn" ujar semua nya.


"Namanya udah ada?" tanya Mamah Nabila. Nabila mengangguk lemah sambil tersenyum pucat.


"Udah mah, kita udah sepakat kasih nama Ayra Mysha Naira" jawab Adam.


"Namanya bagus" komentar umi Risti. Risti yang sedari tadi diam hanya tersenyum.


"Oh iya, Kak Harry sama istrinya nanti sore kesini" ujar Risti.


"Alhamdulillah, kita tunggu. Bang Safiq mana?" tanya Adam.


"Abang masih di jalan, tadi ngejemput Natasya dulu" jawab Anisa.


"Dede nya lagi bobo sayang" jawab Adam.


"Papa jadi inget waktu mamah kamu ngelahin kamu Bil, jam satu malem papa kewalahan" ujar papa Nabila.


"Iya Bil, jam satu malem mamah ngerasa ada yang aneh sama perut mamah. Mamah bangunin papa buat anter ke rumah sakit, dokter bilang mamah pembukaan satu, jam lima subuh baru pembukaan tiga. Di situ mamah mules banget Bil, jam sembilan udah masuk pembukaan enam" tutur mamah Nabila.


"Makasih ya mah, Bila sekarang tau segimana besar pengorbanan seorang ibu buat ngelahirin anak nya, sembilan bulan ngejaga kandungannya. Maafin Bila waktu ya mah, waktu itu ngelawan mamah gara-gara mamah ga ngijinin Bila ke Jakarta" ujar Nabila. Mamah Nabila tersenyum haru lalu memeluk Nabila dengan lembut.


"Duh mamah udah punya cucu" gumam mamah Nabila.


°°°


Mikha berjalan mendekati Harry yang sedang memasukkan beberapa bajunya kedalam koper.


"Kok sampe bawa baju segala sih yang?" tanya Mikha. Harry menengok kearah Mikha sambil tersenyum.


"Abis kita liat bayinya Nabila, kita ke lembang, nginep di villa temen aku"


"Ih kok gak bilang sih? tau gitu kan aku ikut siap-siap" gerutu Mikha yang baru tahu rencana Harry, dua jam lagi mereka akan berangkat, namun Harry baru mengatakannya sekarang.


"Udah tuan putri diem aja, udah aku siapin semua baju kamu disini" Harry menepuk isi koper yang sudah berisikan kaos dan kemeja Harry.

__ADS_1


"Di bawah sini baju kamu semua. Aku pilih yang menurut aku paling cocok buat kamu"


"Yang mana?" tanya Mikha penasaran.


"Udah nanti aja liatnya, eh iya skin care kamu belum aku masukin, gak ngerti yang mana aja yang harus dibawa" Mikha melirik ke arah meja rias dan berfikir sejenak.


"Ah bawa cuci muka aja, aku lagi males. Emang mau berapa hari di sana Yang?"


"Tiga hari. Beneran gak akan bawa semuanya?" tanya Harry meyakinkan. Mikha kembali berfikir lalu mengangguk.


"Bawa semua aja deh" jawab Mikha pada akhirnya. Harry berdiri dan duduk di sebelah Mikha.


"Kamu kenapa sih sayang? kok gak semangat gitu? males pergi ke Bandung ya?" tanya Harry pelan, menelus rambut Mikha lembut.


"Gak males" jawabnya Mikha lalu diam beberapa saat.


"Boleh aku curhat?" tanya Mikha menolehkan wajahnya pada Harry. Harry mengangguk, menanti ucapan Mikha.


"Boleh sayang"


"Sebenernya aku seneng banget denger Nabila lahiran, tapi aku jadi kepikiran lagi" Mikha menggantung ucapannya. Harry mengerutkan keningnya bingung.


"Kepikiran apa sayang?" tanya Harry.


"Kepikiran.. aku kapan ya bisa ngasih kamu anak" jawab Mikha pelan.


"Sayang, kita baru delapan bulan nikah" jawab Harry.


"Tapi temen-temen aku pada langsung hamil kok Her, ada yang tiga bulan udah hamil, lima bulan udah hamil"


"Tapi ada juga kan di dunia ini yang pernikahan mereka udah bertahun-tahun akhirnya punya anak" potong Harry.


"Kita disuruh pacaran dulu sayang, nanti kalo udah waktunya pasti kita juga di kasih kesempatan kok"


"Ya aku takut aja kalo aku"


"Sttt" Harry menahan bibir Mikha dengan jari telunjuknya.


"Gak boleh ada yang di takutin, kita jalanin ini pelan-pelan. Sayang, kita gak boleh liat terus ke atas, liat orang lain cepet dapet keturunan, kita harus liat juga ke bawah, banyak orang lain juga yang udah lama nikah baru dapet keturunan. Kita juga pasti punya anak, tapi bukan sekarang, udah ya jangan sedih lagi, aku gak pernah nuntut ini itu. Jangan fokus sama orang lain, kita fokus sama diri kita sendiri ya. Sampe sekarang aja aku bahagia kok sama kamu" Harry mencium pipi Mikha.


"Ya aku takut aja Her. Aku kan pernah cerita waktu aku sekolah, aku pernah sakit..." lagi-lagi Harry memotong ucapan Mikha.


"Kamu udah sembuh sayang, udah ah senyum, istri aku harus cantik terus" Harry menarik kedua pipi Mikha dengan lembut, membuat Mikha akhirnya kembali tersenyum.


"Makasih ya sayang" Mikha memeluk Harry erat.

__ADS_1


__ADS_2