Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
37


__ADS_3

kenapa hatiku enggan untuk berubah?


.


Entah seberapa kerasnya hati ini sehingga saat hidayah datang mengetuk,aku tak kunjung membukakan pintu untuknya masuk.


.


Entah kenapa hati ini sulit sekali meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk,bukannya mengurangi tapi malah ditambah lagi dan lagi.


.


Entah kenapa mata ini selalu merujuk kepada keidahan dunia yang sementara ,tanpa sedikit pun melirik kepada Akhirat yang kekal dan abadi selamanya.


.


Entahlah kenapa diri ini selalu menolak berteman dengan mereka yang akhlaknya jauh lebih baik dari diri ini.


Apa yang sebenarnya yang terjadi?


.


Entahlah kenapa kaki ingin ringan sekali untuk melangkah mengikuti pergaulan tentang duniawi .


Namun sangat berat untuk melangkah mengikuti kajian-kajian islami.


.


Apa yang aku mau?

__ADS_1


Kekal di dalam api neraka?


Atau


Hidup bahagia di dalam surga?


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Happy Reading..


****


Adam makan dalam diam di temani Nabila yang duduk di samping nya. Setelah selesai, Adam baru bertanya.


"Kamu ga makan?" Nabila menggeleng.


"Udah tadi sore"


"Aku ga biasa makan malem Dam" Adam mengangguk mengerti.


"Nanti bada Isya saya mau ke masjid. Kamu mau ikut?"


"Engga. Aku di rumah aja deh Dam. Berarti aku Shalat sendiri yah?" Adam tersenyum lalu menggeleng.


"Saya shalat di rumah, bareng kamu" jawabnya pelan.


"Ahh, Suami pengertian" puji Nabila.


***

__ADS_1


Di teras masjid Al-Iqra.


"Ka Adam mana Bar?" Akbar yang sedang membenarkan kopiah nya menengok kebelakang, dilihat nya wajah anggun Risti. Senyum Akbar langsung mengembang.


"Nanti abis shalat Isya Ka Adam kesini kok Ris"


"Ohh, Shalat di rumah nya ya?" Akbar mengangguk. Risti sedikit cemberut mendengar itu. Pasalnya Adam pasti selalu bersama Nabila sekarang, dan Risti pun sangat yakin pasti mereka berdua sudah saling cinta. Mungkin Nabila hanya menganggap lelucon pada saat mengetahui Risti suka pada sosok Adam.


"Oh iya Bar. Rapat nanti malem aku ga bisa ikut, mau ke syukuran rumah baru nya temen Abi, Bar"


"Iya Ris, nanti saya sampein lah. Lagian gerobak buat Baksos lusa udah ada. Tinggal rute nya aja yang belum kira rapatin"


"Emm, iya deh Bar. Aku wudhu duluan ya" Risti memberi setengah senyuman pada Akbar lalu pergi untuk mengambil air wudhu.


"Pacar lo Bar? Katanya gak akan pacaran" ejek seorang pria yang berada di luar pagar Masjid.


"Eh lo Rif, shalat?" tanya Akbar tanpa menjawab pertanyaan Rifqi -temen sekelasnya Akbar-.


"Engga, gue mau berangkat futsal. Terus liat lo lagi ngobrol sama cewe. Pacar lo ya? Eh, kalo ga salah anaknya Bu Mira kan?"


"Iya. Tapi itu bukan pacar saya, ga ada yang namanya pacaran! Lo futsal terus, mampir kemasjid nya kapan?" sindir Akbar.


"Ya elah. Cinta jomlo lo?, apa lo ga laku? Haha. Gue nanti shalat di rumah kok, santai" Akbar menggelengkan kepalanya.


"Bukannya saya ga laku, tapi saya nurut apa kata Rabb ku"


"Kenapa harus santai? Ini udah adzan Isya loh, bentar lagi shalat berjamaah. Mending lo shalat disini dulu, telat futsal ga masalah kali. Lagian lo seharusnya banyakin belajar, 4 bulan lagi UN" lanjut Akbar. Rifqi sedikit terdiam sambil berfikir.


"Iya gue shalat dulu deh Bar, bener kata lo. Terakhir gue mampir ke masjid waktu shalat Iedul Adha. Malu gue"

__ADS_1


"Ga usah malu. Malu itu, usia bertambah tapi beramal tidak bertambah" Rifqi tersenyum lalu membalikan badannya, berjalan kearah gerbang masjid lalu mendekati Akbar.


__ADS_2