
"Ihh. Ya udah cepetan" Safiq memulai ceritanya, ia menceritakan semua kejadian Adam dan Nabila sesuai dengan apa yang ia dengar dari mulut Adam malam itu.
"Apa Fiq?, anak mamah digrebek warga?" histeris mamahnya.
"Tapi kenapa gak hubungin keluarga sih? Atau jangan-jangan cuma kalian berdua aja yang nyaksiin ijab kabul nya" tuding mamah. Anisa dan Safiq menggeleng bersamaan.
"Aku juga baru tau Mah. Gak tau kalo Anisa" ucap Safiq.
"Ih ko aku sih bang. Aku juga baru tau kali!" komentar Anisa tak kalah sinis.
"Stop! Kalian ini malah berantem. Tapi Adam bilang gak rencananya kapan dia mau ngasih tau mamah? Mamah gak sabar mau nyubit dia" tangan kanan mamahnya terkepal satu dan menggosokannya disatu tangan yang terbuka.
"Rencananya sih abis lebaran dia mau ngerencanain resepsi pernikahannya. Ya mamah sabar aja nunggu Adam buat jujur"
"Gak ada abis lebaran! Panggil Adam sama Nabila sekarang juga. Suruh mereka nginep disini, mamah mau Introgasi abis-abisan mereka berdua" kata mamah dengan aura jahat, membuat Safiq dan Anisa membayangkan kengerian itu.
***
Jakarta,
"Rangga, lo gak pulang?" tanya Monik sambil memakai jaket tebalnya.
"Bentar lagi Nik. Gue mau ambil kursi yang ada digudang dulu" jawab Rangga santai.
"Rangga, Monik. Saya balik duluan ya" ucap Ilham. Restoran sudah tutup satu jam yang lalu beberapa karyawan sudah pulang dan hanya ada mereka bertiga disini, sedangkan Pak Wahyu pemilik restoran ini sudah terlebih dahulu pulang dan mempercayakan Rangga untuk memegang kunci cadangan Restoran ini.
"Eh, bareng Ham. Rangga, gue duluan ya" pamit Monik. Rangga menganggukan kepalanya.
"Yoi, kalian hati-hati dijalannya udah malem banget soalnya" Rangga memperingati.
__ADS_1
"Siap" jawab Monik ceria. Ilham mendehem.
"Beneran Hati-hati nya buat saya juga? Apa cuma buat si Monik" goda Ilham.
"Apaan sih lo. Ya buat lo juga, gue kan temen yang perhatian" sahut Rangga berusaha datar.
"Yakin? Baru kali ini loh saya denger kamu bilang hati-hati" goda Ilham.
"Ihh Ham udah. Jangan goda Rangga terus" Monik menarik lengan jaket Ilham.
"Dasar Bolham" ejek Rangga pada Ilham.
"Saya normal Nik" protes Ilham. Monik memutarkan bola matanya malas.
"Udah ah, lo lemot. Rangga, kita balik duluan ya. Oh iya, kalo ada yang manggil nama lo jangan nengok kebelakang ya" Rangga mengerutkan keningnya.
"Emang kenapa Nik?" tanya Rangga penasaran.
"Monik!" pekik Rangga dan Ilham bersamaan. Keduanya menatap tajam kearah Monik.
"Bercanda" sahut Monik cengengesan.
"Yu ah balik. Bye Rangga" Monik menarik kembali lengan jaket Ilham sampai luar restoran lewat pintu belakang.
Mereka berjalan beriringan melewati torotoar jalan yang lumayan sepi. Belum jauh mereka pergi dari restoran, terdengar suara langkah kaki mengikuti mereka.
"Monik!" panggil seorang pria dibelakang mereka. Monik dan Ilham menghentikan langkahnya, mereka membalikan badan mereka agar melihat siapa pemilik suara itu.
"Danial?" gumam Monik. Hawa sekitar seakan mencengkam. Jantung Monik berpacu kencang.
__ADS_1
"Siapa Nik?" bisik Ilham penasara.
"Temen gue, lo balik duluan ya Ham. Gue mau nyamperin dia dulu" Ilham menatap Monik, ia ragu meninggalkan Monik. Namun Ilham akhirnya mengangguk.
"Hati-hati ya Nik. Gue balik duluan kalo gitu" Monik mengangguk. Ilham pun pergi meninggalkan Monik dan Danial. Ia tidak ingin Ilham mengetahui pekerjaan haramnya dulu, ia tidak bisa menjamin jika Danial akan membongkar pekerjaan lamanya pada Rangga.
"Ada apa ya Dan? Lo kok bisa disini?" Monik berusaha menghangatkan suasana, menghilangkan kecanggungan.
"Ko lo nanya gitu sih? Lo itu cewe langganan gue Nik. Gue sengaja kesini buat lo, gue kangen sama lo" Danial mendekat kearah Monik yang tampak mundur menjauhinya.
"Dan, gue kan udah berhenti dari kerjaan itu. Lagian ini juga udah malem, gue harus pulang. Bye, gue pulang ya" dengan cepat Monik membalikan badannya, ia ingin berlari secepat mungkin agar sampai dirumahnya. Namun, baru saja selangkah Monik pergi tangannya sudah dicengkam keras oleh Danial.
"Lepasin" Monik menepis tangan Danial keras, namun ucapan Danial berhasil membuat tubuhnya membeku.
"Gue di telepon sama Harry, katanya lo balik lagi jadi pelacur dan lo juga lagi butuh uang buat ibu lo kan? Gue bakalan ngasih berapa pun yang lo mau Nik. Sekarang, mendingan lo ke Apartment gue. Gak usah sok jual mahal!" bentak Danial, cengkaman ditangannya bertambah kencang membuat Monik meringis kesakitan. Monik sangat tau Danial, pria ini mempunyai perilaku yang sangat kasar. 'Sialan Harry!. Bisa-bisa nya ia menjebaknya seperti ini!'
"Harry bohong Dan. Gue bener-bener udah berhenti dari kerjaan itu. Please, lepasin tangan lo" Monik memutar-mutarkan lengannya yang dicengkam Danial, namun pria itu sangat enggan melepaskan tangan Monik.
"Soal uang, gue udah dapet pinjeman temen gue di Bandung Dan. Lo udah di bohongin sama Harry" lanjut Monik. Rahang Danial mengeras.
"Persetanan sama si Harry! Gue gak perduli! Yang gue mau cuma lo, gue cinta sama lo. Kenapa lo gak ngerti-ngerti sih!" bentak Danial. Monik terus mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Danial.
"Lepasin tangan lo, gue mohon" cicit Monik, ia tau Danial memiliki sifat yang berubah-ubah. Kadang lemah lembut, terkadang juga sangat kasar dan bruntal tak jarang Danial selalu menamparnya saat dulu, hanya karena Monik salah berbicara saat berdebat dengannya. Danial melepaskan cengkraman tangannya, namun tangannya berpindah memegang kedua bahu Monik.
"Monik, gue cinta sama lo. Please jadi Monik gue yang dulu. Monik yang selalu ada buat gue, Monik yang ceria dan selalu nenangin amarah gue, Monik yang selalu manjain gue, bukan Monik yang sok jual mahal kaya sekarang!"
"Dan, lo itu gak cinta sama gue. Lo cuma terobsesi sama tubuh gue" ucap Monik pelan. Bahu nya terasa remuk dicengkram Danial.
"Jadi lo gak percaya cinta gue?!" bentak Danial. Monik menatap sekitar, jalanan sangat sepi tak ada satu pun orang yang lewat, hanya satu mobil yang terparkir disebrang jalan sana tak ada tanda-tanda orang didalamnya. Bodoh, mana ada orang yang berkeliaran ditengah malam seperti ini. Setengah dua belas malam. 'Ya Allah, tolong' batin Monik terus memanjatkan doa meminta pertolongan.
__ADS_1
"Jawab pertanyaan gue Monik! Lo gak percaya cinta gue?!" bentak Danial kembali. Monik memejamkan matanya takut. Ia membuka matanya pelan, baru saja ia akan menjawab pertanyaan Danial, dengan tiba-tiba pria itu mendorong tubuh Monik hingga membentur tembok.
"Aw" pekik Monik saat merasakan kerasnya tembok saat punggungnya terbentur.