Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
51


__ADS_3

Perhatian untuk semua.. tolong menghargai karya orang lainšŸ™ jangan mudah mengetik sesuatu yang bisa menyinggung perasaan ya.. Disini author juga masih belajar. Jadi mohon, bangkitkan semangat author dalam menulis, bukan membuat author down dengan segala komentaršŸ™. Jika memang tidak suka lebih baik langsung batalkan favorit dan jangan diteruskan, dari pada harus mencaci author😊 bukannya author tidak menerima komentar untuk memperbaiki karya, hanya saja masih banyak BAHASA HALUS yang bisa digunakan untuk memberikan masukan, bukan dengan cara BAHASA KASAR yang seakan menampar ā¤ļø.


°•°°••°


Sebuah restoran dipusat kota begitu ramai, tampak seorang wanita tengah kerepotan membawa nampan yang diatasnya terdapat dua piring nasi dan tiga gelas jus. Wanita itu memakai kemeja putih yang menandakan bahwa ia adalah Waiters baru disana.


"Monik, biar gue yang nganterin ini. Lo anterin pesenan ini ke meja nomor dua ya" seorang laki-laki tiba-tiba mengambil nampannya dengan satu tangan dan memberikan nampan yang laki-laki tadi bawa kepada Monik. Nampan yang hanya berisi satu piring spageti. Monik tersenyum memandang Rangga, laki-laki asal Palempang dan sudah dua tahun merantau di Jakarta.


"Thanks ya Ga" ucapnya. Laki-laki itu tersenyum tulus.


"Yoi, kalo lo dikasih bawaan yang ribet, kasih gue aja. Ini meja no berapa?"


"Delapan belas" jawab Monik cepat. Rangga mengangguk, dengan cepat langkahnya menuju meja delapan belas sedangkan Monik menuju meja kosong dua.


"Nih meja dua puluh tiga" Lagi-lagi Santi memberikan nampan yang berisi 3 mangkuk dan 3 jus. Baru saja Monik akan mengambil nampan itu, sepasang tangan sudah lebih dulu mengambil nya.


"Sini sama gue aja. San, kasih pesenan meja tujuh" ucap Rangga. Tanpa memandang Monik yang menatapnya bingung ia langsung berjalan menuju meja dua puluh tiga.


"Nih pesenan meja tujuh. Lo gak usah baper ya ke Rangga. Dia cuma kasian sama lo" Monik memutarkan bola matanya malas. Namun hatinya sedikit meringis 'Tanpa disuruh pun gue ga akan baper ke orang sebaik Rangga! Gue nyadar diri, gue kotor. Rangga pantesnya sama cewe baik-baik' Tanpa menjawab ucapan Santi ia langsung mengambil nampan yang berisi satu piring nasi goreng dan satu gelas air putih. 'Pasti ni orang lagi ngirit' gumamnya.


Masih ingat Monik? Perempuan yang gagal menggoda Adam?. Kini ia menjadi seorang pelayan di sebuah Restoran. Dua hari setelah dari Bandung Monik langsung mencari pekerjaan. Temannya menyarankan ia melamar di sebuah restoran atau toko baju dan sepatu, karna biasanya dibulan puasa mereka membutuhkan banyak pegawai. Sebuah Restoran di Jakarta menerimanya dan ini adalah hari ke lima nya ia bekerja. Semua pegawai disini menyambutnya dengan baik, hanya satu yang tidak. Sinta, perempuan itu mulai menunjukan wajah ketidak sukaannya saat melihat Rangga yang selalu membantu nya.


Minggu depan Monik mendapat libur satu hari dari restoran dan itu dijadikan Monik kesempatam untuk ke Bandung, mengembalikan uang yang telah ia pinjam dari Adam.


°°°


Mobil yang di kendarai Adam melaju kencang membelah jalanan yang lumayan sepi. Keempat orang yang berada didalam mobil terdiam. Adam melirik Nabila yang tengah menahan kantuknya sekilas, lalu memfokuskan kembali pandangannya pada jalan dan stirnya. Mobil pun berhenti didepan rumah berwarna putih. Seorang laki-laki yang sudah berumur membukakan gerbang.


"Masukin aja Nak Adam. Ada yang mau saya obrolin sama kalian" kata papa Nabila. Adam mengangguk. Nabila menengokkan kepalanya kebelakang, menatap kedua orang tuanya yang sedang duduk dikursi penumpang.


"Ngomongin apaan Pah?"


"Nanti didalem aja Mamah jelasin" jawab mamahnya.


Mereka berempat turun dari mobil dan masuk kedalam rumah. Mereka sudah duduk disofa ruang keluarga yang nyaman. Kedua orang tua Nabila menatap Nabila dan Adam ragu.

__ADS_1


"Ada apa Mah?" tanya Nabila.


"Gini Bil, mamah sama papa udah ngediskusiin ini kemaren. Nak Adam?"


"Ya bu?"


"Mamah" ucap Mamah Nabila memperingati Adam.


"Eh, iya mah?"


"Gini, apa gak sebaiknya kalo nak Adam jelasin status kalian ke keluarga Nak Adam? Mamah liat juga tadi keluarga Nak Adam baik, ramah, humoris. Mamah ngerasa berdosa harus ikut berbohong kalo Nabila ini pacar kamu"


"Iya mah. Adam juga berfikir nya kaya gitu. Tapi, Nabila belum siap" jawab Adam. Matanya menggoda Nabila, seperti menyalahkannya dan sukses membuat Nabila cemberut.


"Kenapa Bil?" tanya Papa.


"Nabila belum siap Mah, Pah. Waktu kerumah Adam juga Nabila ngeliat keluarga Adam itu baik. Nabila takut ngecewain mereka. Apalagi kalo mereka sampe nanya, kenapa bisa dinikahin secara paksa?. Nabila malu jawabnya, masa cewe nginep dirumah cowo"


"Makannya jangan kebanyakan bohong keorang tua Bil. Bilangnya mau ke Jakarta taunya malah ke diskotik, untung dititipinnya ke Adam. Kalo kamu dibawanya ke hotel gimana?" Nabila menundukkan wajahnya malu menerima ceramahan mamahnya.


"Maaf mah" gumamnya.


"Aminn" sahut keduanya.


"Tapi menurut Papa, kalian harus cepet-cepet ngasih tau yang sejujurnya ya. Ga baik kalo bohong lama-lama itu, pasti cepat atau lambat akan terbongkar. Oh iya, semoga resepsinya dipercepat ya" Papa Nabila tersenyum pada Adam. Membuat Nabila mengerutkan keningnya bingung. Nabila yakin, pasti ada yang mereka sembunyikan.


"Iya Pah. Amin"


"Kalian nginep disini aja ya. Udah malem, di kamar atas kosong" tawar mamah Nabila namun bernada paksaan.


"Ya udah. Papa sama Mamah duluan tidur ya" ucap papa Nabila. Mereka beranjak pergi meninggalkan Adam dan Nabila di sofa.


"Dam" Adam menengok pada Nabila.


"Tadi aku liat bang Safiq ngegendong Putri terus"

__ADS_1


"Iya, saya juga liat Bil. Saya seneng akhirnya bang Safiq bisa deket sama Putri"


"Tapi kalo bang Safiq minta Putri lagi gimana?" Adam terdiam sesaat lalu tersenyum.


"Putri kan anak kandungnya Bang Safiq. Saya gak masalah soal itu Bil, saya kan tetep bisa ketemu Putri" Nabila mengangguk mengerti.


"Tidur yu. Ngantuk" mereka menaiki tangga berwarna putih yang berbentuk setengah putaran dan masuk kedalam sebuah kamar.


"Jadi kapan kamu siap dikenalin sebagai istri saya di depan mamah papa?" tanya Adam tiba-tiba. Nabila menghentikan kegiatannya yang sedang membersihkan make-up nya dengan cairan khusus pembersih make-up.


"Terserah kamu deh Dam"


"Kok terserah saya? Emang kamu udah cinta sama saya?" Nabila langsung menengok ke arah Adam.


"Ihh kenapa nanya itu sih?" wajah Nabila memerah.


"Kan kata kamu kalo kamu udah cinta sama saya baru kita bakalan ngasih tau mamah papa" ucap Adam bingung.


"Bukan aku, tapi kita. Emang kamu udah cinta sama aku?" tantang Nabila.


"Udah" jawab Adam.


"Hah?" Nabila mendongkakkan wajahnya.


"Iya, saya udah cinta sama kamu"


"Dari kapan?" tanya Nabila tak percaya.


"Dari kita nikah, saya udah ngebuka hati saya buat kamu. Dan selama bulan puasa ini saya udah yakin kalo saya cinta sama kamu. Saya seneng liat wajah kamu kalo bangun buat sahur, saya seneng waktu kita masak bareng, saya seneng waktu kita bercanda bareng" hati Nabila bersorak gembira. Wajahnya merona, apakah Adam tengah menyatakan perasaannya?.


"Kok kamu berani banget sih jujur tentang perasaan kamu"


"Kenapa harus gak berani? kamu istri saya Nabila"


"Ya udah deh aku juga cinta ke kamu" gumamnya tanpa berani menatap wajah Adam.

__ADS_1


"Jangan maksain gitu, nanti kalo udah beneran cinta baru bilang ke saya" Adam terkekeh kecil.


"Ihh aku beneran Dam. Dari sebelum kita nikah aja aku udah ada rasa cemburu liat kamu deket sama Risti, ditambah sekarang kita udah deket gini" ucap Nabila dengan jantung berdetak kencang, ia senang sudah mengungkapkan isi hatinya. Namun perasaan senangnya menghilang saat Adam berkata. "Eh beneran? Kenapa gak jujur dari kemaren? Rencana saya jadinya gagal"


__ADS_2