
"Rencana apa?" tanya Nabila penasaran.
"Tadinya, kalo kamu udah cinta sama saya. Saya mau ngelamar kamu, eh apa ya namanya? Intinya saya mau ngasihtau semuanya kamu itu istri saya dan buat acara pernikahan kita. Depan orangtua kita berdua tadi, didepan keluarga saya, didepan anak-anak panti. Saya mau ngumunim resepsi kita setelah lebaran. Tapi, berhubung kamu gak jawab pertanyaan saya kemaren ya udah saya batalin" ucap Adam polos.
"Ihh kenapa dibatalin coba. Itu Sosweet tau!" ucap Nabila gemas.
"Eh? Saya kira kan kamu belum cinta sama saya"
"Ihh Adam! Cewek kalo udah dikasih hal romantis pasti meleleh, pasti mau. Dasar! Suami gak romantis!" Nabila memutar kembali badannya, melanjutkan kegiatannya membersihkan make-up dengan cemberut.
"Eh? Saya salah ya?" tanya ?Adam bingung.
"Tau ah. Dasar gak peka"
"Jangan marah dong Bil. Saya janji deh, nanti saya pikirin lagi kejutan romantis buat kamu" Nabila berusaha menahan tawanya. Ia tak habis pikir dengan Adam yang hari ini menjadi lemot. Masa kejutan dikasih tau? Ya namanya bukan kejutan lagi! Itu namanya rencana.
"Benar ya?" Nabila beranjak dari depan cermin dan duduk disebelah Adam.
"Insyaallah"
"Kita tidur yu. Tapi bacain cerita ya" Adam mengangguk. Mereka berbaring, Nabila menyingkirkan guling yang berada di tengah-tengah mereka dan meletakkan kepalanya diatas lengan Adam. Adam mulai menceritakan kisah seorang perempuan yang berkerja sebagai pelacur dan menolong seekor anak anjing yang kehausan. Nabila tertidur dengan lelap, Adam memperhatikan wajah tenang Nabila lalu mengecup kening Nabila, disentuhnya ujung hidung Nabila lembut lalu mengelus pipi Nabila. 'Selamat malam Nabila. Tidur yang nyenyak. Aku mencintai mu' Adam membaca doa sebelum tidur lalu memejamkan matanya, menyusul Nabila ke alam mimpi.
****
Tok,tok
"Ia mah?" Adam membuka pintu kamarnya.
"Eh, udah bangun? Mamah kirain belum. Sahur dulu, mamah udah nyiapin makanan dibawah"
"Oh iya Mah, makasih. Adam nanti nyusul kebawah mau bangunin Nabila dulu mah"
"Nabila belum bangun? Aduh, maaf ya nak Adam harusnya kan istri yang bangunin suami. Ini malah kebalik" Adam tersenyum.
"Gak apa-apa kok mah. Mungkin masih cape gara-gara kemaren pulang jam 10"
"Ah iya. Ya udah, mamah tunggu dibawah ya. Apa mau mamah bantuin bangunin Nabila? Dia paling susah dibangun Dam"
"Adam aja mah. Mamah temenin papa aja" setelah Mamah Nabila turun Adam menutuh pintu kamar, hendak kembali membagunkan Nabila. Sudah menjadi rutinitas Adam selama seminggu ini membangunkan Nabila.
"Eh udah bangun?" tanya Adam saat melihat Nabila yang sudah terduduk diatas ranjang menatapnya.
"Ngantuk" rengek Nabila.
__ADS_1
"Ayo cuci muka dulu biar seger" Adam membantu Nabila agar beranjak dari atas ranjang.
"Gendong" Nabila merentangkan tangannya.
"Berat" tolak Adam. Dalam hatinya tertawa menatap Nabila yang selalu manja jika sedang mengantuk.
"Badan gede tapi gak kuat gendong aku!" gumam Nabila tak sadar sambil mengucek matanya pelan. Kepala dan tubuhnya masih belum siap untuk beraktifitas.
"Sini" Adam berjongkok dan memberikan punggungnya pada Nabila. Dengan semangat Nabila naik kepunggung Adam. Adam berjalan memasuki kamar mandi, diturunkannya tubuh Nabila yang matanya masih bertutup rapat.
"Hey" ucap Adam saat melihat pantulan Nabila yang tertidur dipunggungnya. Nabila membuka matanya malas. Adam memutar kran air untuk Nabila. Nabila mencuci tangannya terlebih dahulu lalu mencuci wajahnya. Merekapun turun dan bergabung dengan orangtua Nabila yang sudah menunggu di meja makan. Papa Nabila memimpin doa mereka sebelum sahur. Setelah Adzan Subuh berkumandang mereka berempat shalat berjama'ah. Kini Adam yang di suruh menjadi imam shalat oleh papa Nabila.
Paginya Adam dan Nabila pamit pulang. Adam menyetir dan Nabila kembali tidur disebelah Adam.
°°°
"Bil" Nabila membuka matanya.
"Eh, kok udah di kamar?"
"Tadi kamu ketiduran dimobil. Saya langsung pindahin kamu ke sini"
"Jam berapa?" Adam melihat jam di tangannya.
"Jam 10"
"Emm, Natasya ngajak kita jalan-jalan. Kamu mau ikut?" Nabila memandang Adam tidak suka.
"Kemana?" Tanya Nabila ketus.
"Keliling Bandung"
"Jam?"
"4. Sekalian ngabuburit"
"Kamu gak ngajar pasantren?"
"Saya udah ijin, mau jalan-jalan sama istri" Nabila akhirnya mengangguk. Apa salahnya ikut? Dari pada Adam hanya berduaan dengan Natasya.
--
Nabila menceritakan masa SMA nya dan kegiatannya selama di Jakarta pada Adam. Mereka duduk di kursi yang sudah disediakan untuk umum di Braga.
__ADS_1
"Maaf Dam kita telat" Natasya datang bersama ibunya. Menghentikan Nabila yang sedang bercerita.
"Iya gak apa-apa" jawab Adam disertai senyumannya.
"Yuk jalan-jalan" Natasya menarik tangan Adam yang masih duduk dengan Nabila.
"Eh?" Adam melepaskan tangan Natasya lalu berdiri sendiri. Nabila menatap Natasya kesal. 'Dasar genit' batinnya. Nabila pun berdiri. Mereka berempat mulai berjalan-jalan disekitar daerah itu, melewati gedung merdeka dan istirahat di lapangan hijau alun-alun.
"Cape ya Dam?" Natasya memberikan tissu pada Adam. Nabila meliriknya Adam tajam, seolah mengatakan jangan di terima.
"Saya ga cape" tolak Adam lembut.
"Tapi itu kamu keringetan" Natasya mengambil satu helai tissu dan mengelapkan nya pada kening Adam yang sebenarnya tidak terlalu berkeringat.
"Ekhem" Nabila mendehem kencang.
"Eh gak usah, Tasya" Adam menjauhkan keningnya dari tangan Natasya.
"Anterin ibu ke sana sebentar boleh?" bisik mamah Natasya. Nabila menatap nya ragu.
"Ada yang mau saya ceritain ke kamu" akhirnya Nabila mengangguk.
"Aku ke sana bentar ya Dam sama ibu"
"Mau kemana Bil? Masa saya ditinggal berdua?" protes Adam.
"Disini banyak orang Dam. Jadi aku gak khawatir" ucap Nabila.
"Ihh Adam. Kok takut banget sih kalo ditinggal dia" ucap Natasya. Nabila mendelikan matanya kesal.
Nabila dan Mamah Natasya mulai berjalan mendekati masjid.
"Kamu istri Adam?"
"Iya Bu. Oh iya ibu mau cerita apa?"
"Maafin sikap Natasya yang terus ngedeketin Adam ya. Tasya hilang ingatan selama tiga tahun ini, dan pas kemaren ketemu Adam Tasya terlihat bahagia. Ibu sebagai mamahnya juga ikut seneng. Gak mau liat Tasya sedih"
"Maksud ibu?" tanya Nabila mulai sinis.
"Gini. Tolong saya, kamu pura-pura jadi pacarnya Adam aja ya. Saya takut Tasya syok kalo tau Adam udah punya istri. Saya gak mau liat Tasya patah hati"
"Hah? Ibu. Kalo ibu sayang sama anak ibu, ibu jangan ngasih harapan palsu sama Tasya. Mending dia tau dari sekarang dari pada nantinya Tasya semakin cinta sama Adam bu. Terus nanti ibu mau ngelakuin apa kalo Tasya mau milikin Adam? Apa ibu mau nyuruh saya cerai-in Adam?" tanya Nabila. Entah kenapa hari ini hati Nabila penuh emosi apalagi di tambah sikap Natasya tadi.
__ADS_1
"Ibu mohon. Natasya sangat mencintai Adam" 'nih Ibu sama anak sama-sama rese' batin Nabila kesal.
"Maaf ya bu. Saya gak bisa nolong" Nabila langsung meninggalkan Mamah Natasya dan kembali ke tempat Adam tadi, namun Adam sudah tidak ada di tempat. Nabila mencari Adam yang ternyata sedang berdiri di depan tulisan besar berhuruf A, mata Nabila menatap tajam tangan Natasya yang bergelayut mesra di tangan Adam.