Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
31


__ADS_3

Perhatian untuk semua.. tolong menghargai karya orang lainšŸ™ jangan mudah mengetik sesuatu yang bisa menyinggung perasaan ya.. Disini author juga masih belajar. Jadi mohon, bangkitkan semangat author dalam menulis, bukan membuat author down dengan segala komentaršŸ™. Jika memang tidak suka lebih baik langsung batalkan favorit dan jangan diteruskan, dari pada harus mencaci author😊 bukannya author tidak menerima komentar untuk memperbaiki karya, hanya saja masih banyak BAHASA HALUS yang bisa digunakan untuk memberikan masukan, bukan dengan cara BAHASA KASAR yang seakan menampar ā¤ļø.


Tokoh Adam adalah manusia biasa, mohon tidak menggunakan kata kasar dalam mengintai tokoh karya saya. Hargai setiap tulisan dan lanjutkan jika kalian suka😊 memang author baperan, karena jujur, risih melihat notif Komentar yang berkata TIDAK SOPAN!.


°•°•°•°


Adam mulai menjauhkan dirinya dari Monik, merutuki dirinya sendiri yang dengan mudahnya terhanyut oleh godaan setan.


Adam mencoba membuka pintu kembali, di naik-turunkan nya handle pintu "Tolong bukankan pintu ini!" teriak Adam saat tidak mendengar suara lagi di luar sana.


Monik menarik tangan Adam.


"Sudahlah. Kamar ini kedap suara, kita bebas melakukan apa saja"

__ADS_1


***


"Kunci gue ketinggalan di dalem kamar, masih ke gantung di dalem, topi aja gue lupa tadi. Pokonya gue ga mau tau, ambil topi gue sekarang juga!" perintah Dimas masih dengan berbisik. Mata Dimas menatap tajam pada handle pintu yang terus bergerak.


"Iya nanti gue ambilin Bro. Lo ke Club aja dulu, nanti gue anterin ke sana topi plus kunci kamar lo" jawab Harry santai.


"Jawab jujur ya Her. Senakal-nakalnya gue, gue ga akan berani buat yang macem-macem ke orang lain. Dan lo ngaku, di dalem kamar ini Monik lagi apa? Kenapa handle pintu ini gerak? Lo ga ngunci di dari luar kan?"


"Sumpah, gue ga ngunci dia di dalem"


"Lo kenapa jadi Dj sih? Kenapa ga jadi penulis aja? Imajinasi lo tinggi bro, banyak khayalan" gumam Harry yang mendapatkan tatapan tajam dari Dimas.


"Gue cuma mau ngungkapin apa yang gue pikirin. Ya terus Monik didalem lagi ngapain?" Harry mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Ga tau, kuncinya ga di gue. Udah lah kita ke Club sekarang aja. Mungkin si Monik lagi lupa nyimpen kunci kamar lo. Mabok tuh orang" Dimas semakin bingung dengan sikap Harry yang terus melarang nya masuk.


***


Didalam sana Adam semakin gugup, udara semakin memanas, keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya.


"Astagfirullah, apa yang sebenarnya kamu inginkan Monik? Kengapa kamu terus menggoda saya untuk merendahkan diri saya pada kamu?" tanya Adam pelan. Mengalihkan perhatian Monik agar Adam bisa dengan cepat kabur mengambil kunci di atas ranjang itu. Memikirkan cara agar tidak salah, kunci itu ada di tengah ranjang dan itu artinya Adam harus merangkak naik keatas Ranjang itu. Sedangkan Monik mulai terdiam, tersenyum kecut. Uang, uang yang ia inginkan. Ayah nya meninggalkan saat bekerja disuatu pabrik, Ibu nya sakit-sakitan dan ia juga harus membiayai sekolah adiknya yang sedang duduk dibangku SMK. Dan jika Monik berhasil meniduri Adam, 3 kali lipat penghasilannya adan ia dapatkan.


"Karna gue menginginkan lo Adam. Ayo lah, ini sangat ngebantu gue" Monik mulai kembali memainkan kerah baju Adam.


Adam menepisnya pelan saat melihat ada kesedihan didalam mata itu. Telinganya masih mendengar orang berbicara di luar sana. Mungkin memang benar kamar ini kedap suara, tidak ada yang menolong nya sampai saat ini.


"Ini perbuatan dosa, sangat di larang. Satu-satu nya orang yang berhak atas tubuh mu adalah Suami mu kelak, kamu harus menjaganya untuk suami mu buk.."

__ADS_1


"Jangan banyak ceramah! Apa susahnya kita melakukan ini!" bentak Monik. Perkataan Adam seperti sangat menyindir dirinya. Monik jadi teringat dosa-dosanya yang sudah sangat banyak. Ia juga ingat Saat pertama menjalankan pekerjaan ini. Ragu-ragu di hatinya saat menerima pekerjaan dari temannya, bahkan Monik pernah berada di posisi Adam, memohon di lepaskan, ketakutan, kesedihan, tapi pria itu tetap memaksanya menjadi budak pelepas nafsu bejad nya, tidak diberi kesempatan untuk kabur saat itu. Apa sekarang Monik harus melepaskan Adam? Tidak, akan semudah itu. Adam juga harus merasa kan penderitaan nya waktu dulu.


__ADS_2