
Safiq membolak-balik kan ponselnya. Ditatapnya lagi nomor Natasya di layar ponsel itu.
"Telepon jangan ya? Tapi kalo ditelepon, harus ngomong apa?" Tanya Safiq gelisah pada ponselnya sendiri. 'Ah bodo amat lah, ngomong apa itu urusan nanti' batin Safiq. Dengan ragu ia menelepon Natasya, hanya beberapa detik Safiq menunggu, Natasya sudah menjawab panggilannya.
"Hallo. Ini siapa ya?" Safiq mendehem sebentar sebelum menjawab.
"Hallo Tasya. Ini kak Safiq, kakak nya Adam. Masih inget kan?" tanya Safiq berusaha setenang mungkin.
"Kakak! Kenapa baru nelepon sih? Aku udah nungguin dari kemaren" Safiq sedikit mengembangkan senyumnya. 'Natasya nungguin'.
"Maaf ya, kemaren gak sempet nelepon. Oh iya, mau nanya apa?" Tanya Safiq.
"Emm, aku mau nanyain istri kakak kemana? Kemaren aku gak liat?" Tanya Natasya. Harap-harap cemas ia menunggu jawaban Safiq. Natasya sudah meyakinkan dirinya, jika Safiq memiliki istri ia ada mundur sekarang juga.
"Hah? Kemaren minta no kakak cuma buat nanyain ini?" Tanya Safiq heran.
"Eh, bukan gitu kak. Banyak sih yang mau aku tanya in, tapi ini salahsatu nya" jawab Natasya salah tingkah.
"Ohh. Kakak duda, istri kakak udah meninggal setahun yang lalu"
"Eh, aduh maaf banget ya kak. Tasya gak tau"
"Iya gak apa-apa kok. Mau nanya apa lagi? Kakak pasti jawab" Natasya terdiam, bingung untuk menjawab apa. 'Nanya apa ya?' Batinnya.
"Kakak kan udah lama di Bandung. Mau nanya tempat makan yang enak dong" ucap Natasya berusaha memperpanjang topik pembicaraan.
"Tempat makan kaya gimana dulu nih. Restoran?" Tanya Safiq.
"Bebas sih. Kalo bisa yang pemandangannya indah" jawab Natasya.
"Oh, kalo itu kakak tau tempatnya dimana. Mau kakak anterin kesana?"
"Boleh" jawab Natasya semangat.
"Ya udah, nanti jam lima kakak jemput kamu ya. Kita buka puasa disana. Daerah yang mau ke lembang, nanti kita pesennya nasi merah. Banyak kok yang buka puasa disana"
"Oke deh kak. Aku tunggu dirumah ya"
"Eh, maaf. Rumah kamu dimana?" Tanya Safiq saat menyadarinya, ia belum pernah ke rumah Natasya.
"Eh iya aku lupa ngasih tau kakak" ucap Natasya, ia menyebutkan alamat rumah lamanya.
"Oke. Udah dulu ya teleponannya, Kakak mau ngajak jalan-jalan dulu Putri nyari mainan" pamit Safiq saat melihat Anisa turun dari tangga sambil menggendong Putri.
"Iya kak, nanti sekalian aku share lokasi aja ya. Bye"
"Siap Tasya. Bye juga" dengan cepat Safiq memasukan ponselnya kedalam saku celananya.
"Berangkat sekarang aja deh bang. Udah jam dua belas, nanti tambah panas" Anisa memberikan Putri pada Safiq.
"Ya udah sekarang berangkat. Putri mau beli mainan apa sayang?" Tanya Safiq.
__ADS_1
"Putri mau beli Barbie, Ken, sama anaknya tiga" jawab Putri.
"Oke sayang. Eh de, Adam sama Nabila jadi ikut?" Tanya Safiq.
"Gak jadi bang. Kak Nabila katanya mau ikut mamah beli bahan makanan ke supermarket buat buka puasa nanti, sekalian ngebantuin bikin masakan nanti sore. Kalo bang Adam mau jemput papa di bandara jam dua" Safiq mengangguk lalu tersenyum. Ia sudah merencanakan akan membeli pakaian baru untuk nanti sore.
____
"Ngapain senyum-senyum kaya gitu?" Goda mamah Natasya sambil duduk di sofa sebelah Natasya.
"Ih, mamah apaan sih? Siapa juga yang senyum-senyum" elak Natasya.
"Kamu. Tadi kamu senyum-senyum" ejek mamah Natasya.
"Engga. Eh iya mah, Papa mana?" Tanya Natasya mengalihkan pembicaraan.
"Papa ke rumah temannya dulu" tanya mengangguk mengerti.
"Mah, Tasya ke kamar duluan ya. Mau nyiapin baju dulu"
"Nyiapin baju buat apa?" Tanya mamahnya bingung.
"Nanti sore aku bukber sama temen aku mah"
"Ohh. Eh? Temen yang mana?" tanya mamah Natasya sedikit khawatir.
"Ada deh" jawabnya sambil berlari masuk kedalam kamarnya.
"De, bagus yang mana?" Tanya Safiq sambil mengacungkan kemeja biru tua dan jaket santai.
"Baju buat apa bang?" tanya Anisa sedikit penasaran.
"Buat bukber sama temen"
"Emm, jaket aja. Nanti pake kaos item. Kalo kemeja kaya mau kerja"
"Gitu ya?"
"Iya"
"Ya udah, abang bayar ini dulu"
***
Harry sampai di Makasar sore hari, matanya mencari sosok Mikha yang tak kunjung datang. Ia duduk seorang diri di bangku bandara.
"Hai" Harry membalikkan badannya. Mikha tersenyum.
"Maaf ya telat. Tadi siap-siap dulu"
"Ia gak apa-apa. Berangkat sekarang yu" ajak Harry. Mikha mengangguk setuju.
__ADS_1
"Yu, mobilnya disana"
Mereka memasang sealbeth saat sudah masuk kedalam mobil. Harry menyalakan mesin mobil lalu memandang Mikha.
"Ayah kamu beneran ngasih ijin kan?" Tanya Harry memastikan. 2 jam ia duduk di bangku pesawat, jika sampai ayah Mikha tidak memberi ijin untuk apa ia kemari?.
"Ngasih ijin, tapi pingin ngobrol dulu sama kamu. Biar lebih jelas" jawab Mikha. Harry mengangguk sambil menjalankan mobil, selama di perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali.
Sesampai dirumah Mikha mereka berdua turun. Harry mengerutkan keningnya bingung.
"Ko sepi?"
"Iya, Pak Ucup minta ijin pulang kampung kemaren. Jadi sepi" Harry mengangguk mengerti dan melanjutkan jalannya.
"Assalamualaikum pak, bu" sapa Harry sambil mencium kedua tangan orang tua Mikha.
"Waalaikumsalam. Sopannya calon mantu ayah. Jangan panggil bapak nak Harry, panggil Ayah aja" ucap Pak Toni. Ia bangga melihat sikap Harry yang sopan, tidak salah ia menjodohkan putri kesayangannya dengan Harry.
"Nak Harry puasa?" Tanya Pak Toni kembali. Harry tersenyum lalu mengangguk.
"Alhamdulillah, puasa pak"
"Wah hebat, padahal lumayan cape loh dari Jakarta kesini" sahut ibu Dewi.
"Oh iya, apa bener Nak Herry ngajak Mikha keJakarta?" Tanya Pak Toni.
"Bener yah. Kalo Ayah kasih ijin Mikha ke Jakarta sama saya itu juga. Nanti Mikha jadi model pengganti selama seminggu. Ayah bisa hubungin bang Tommy kalo mau tahu lebih lanjutnya"
"Ah, gak usah. Ayah percaya sama Nak Harry. Ayah titip Mikha aja ya selama di Jakarta"
"Pasti yah. Harry bakalan jagain Mikha"
"Ya udah. Sekarang nak Harry istirahat dulu di kamar tamu ya. Jam berapa ke Jakarta lagi?" Tanya bu Dewi lembut.
"Jam 8 bu. Saya udah beli tiket nya"
"Mikha, anter Nak Harry ke kamar tamu ya" ucap Ayah. Mikha mengangguk, lalu mereka berdiri.
"Ini kamarnya" ucap Mikha di depan pintu kamar.
"Makasih ya. Oh iya, Putra kemana? Kok gak keliatan?"
"Putra lagi main ke rumah temen nya"
"Ohh. Ya udah kamu siap-siap in dulu baju kamu ya" ucap Harry berusaha lembut.
"Iya, aku duluan ya. Kamu tidur dulu aja" Harry mengangguk dan membuka pintu kamar.
"Bye" ucap Harry, lalu masuk kedalam kamarnya. Ia langsung membuka tas ranselnya.
"Haus banget gue" gerutunya sambil mengambil air mineral dalam kemasan botol di ranselnya, dengan cepat ia menghabiskan air mineral itu lalu berbaring merebahkan tubuhnya.
__ADS_1