
Happy Reading..
***
Harry menatap wanita cantik dengan jaket kulit yang menutupi pakaian seksinya, di depannya itu.
"Ayo masuk" Perempuan itu mendecak kesal.
"Ini jam 11. Lo telat 1 jam bego"
"Ayah gue rese Nik. Masa gue di suruh fotoin rumah temenya yang mau di jual" dengus Harry. Perempuan itu akhirnya masuk kedalam mobil dan duduk di sebelah Harry setelah mendengar penjelasan dari Harry.
Mereka pun memulai perjalanan menuju Bandung. Harry mulai menjelaskan beberapa rencana yang akan mereka jalankan. Harry pun sudah menyiapkan rumah di Bandung, rumah yang Harry pinjam dari temannya yang berprofesi DJ di Bandung kemarin.
***
Masjid Al-Iqra
Setelah Ashar.
"Ka Adam. Kata A akbar besok kita libur ngaji ya?" tanya Anak perempuan kelas 5 sd itu mewakili teman-temannya.
"Iya, besok kan terakhir kalian makan siang" canda Risti. Adam tersenyum. Hari ini bagian Adam dan Risti yang mengajar, karena anggota yang lain nya sedang mempersiapkan gerobak dan menempelkan kertas pengumuman.
"Lusa kan udah mulai Puasa. Siapa aja yang kuat Puasa?" tanya Adam. Semua mengacungkan telunjuk nya semangat namun hanya satu anak laki-laki yang tidak mengacungkan jari telunjuknya. Membuat Adam bingung.
"Latif ga akan puasa?" tanya Adam membuat semua anak-anak pengajian menatap Latif. Latif menggelengkan kepalanya.
"Tahun kemaren juga Latif puasa, tapi malah sakit. Jadi cuma setengah hari" ucap Latif jujur.
"Bagus, walaupun setengah hari berarti Latif udah berusaha puasa"
"Oh iya, 2 hari lagi kalian ngaji kaya biasa ya. Tapi namanya pesantren kilat kaya tahun kemarin" Ratih memberi informasi.
"Asikk. Lomba lagi ya ka?" Tanya Aisyah.
"Iyaa. Cuma, kalo tahun sekarang pasantren kilat nya lebih lama. 2 minggu" semuanya mengangguk mengerti.
"Udah jam 4. Kalian mau ngaji apa dengerin cerita dulu?" tanya Adam. Dengan serempak mereka menjawab "cerita"
"Kaka mau cerita tentang, Kisah Nabi Muhammad SAW Menjelang Ajal.
__ADS_1
Betapa mulia dan indahnya akhlak baginda Ya Rasulullah SAW Mengingatkan kita sewaktu sakratul maut.
'Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku".
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" .
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. " Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
__ADS_1
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril? " Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii!" -
"Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim .
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia,
tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak.
(Note by Garry Joe Alexa on Wednesday, August 25, 2010 at 2:31am)"
__ADS_1