Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
67


__ADS_3

Mikha masih dengan nyamannya tertidur dibalik selimut tebal, perjalanan kemarin membuatnya benar-benar lelah, sinar matahari mulai mengintip dibalik gorden jendela membuat Mikha terpaksa membuka mata indahnya perlahan.


"Astagfirullah udah siang" pekiknya langsung terduduk. Mikha mengusap layar ponselnya, jam 06.48. Ia telat sahur dan sholat subuh.


"Kenapa gak ada yang bangunin aku?" Tanya Mikha bingung pada dirinya sendiri, apa mungkin semuanya sudah membangunkannya tapi ia tidak bangun saat di bangunkan?.


Dengan cepat ia membaca doa niat puasa lalu turun dari ranjang dan mengambil tas kecil yang berisi peralatan mandinya didalam koper lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai mandi Mikha langsung memakai pakaiannya dan memoles wajahnya dengan make up yang natural.


'Drett'


Mikha mengambil ponselnya yang bergetar diatas meja.


"Assalamualaikum ayah"


"Waalaikumsalam, gimana disana nak? Tadi subuh sahur kan?" Tanya sang ayah.


"Disini rame ayah, keluarga Harry pada baik ke Mikha. Kalo tadi subuh Mikha gak sahur ayah, kayanya Mikha kecapean deh. Soalnya kemaren nyampe rumah Harry jam 11 malem ayah"


'Tut'


Mikha menjauhkan ponsel ditelinga dan menatap ponselnya yang ternyata mati, ia baru ingat tadi malam ia langsung tidur tanpa mencharger ponselnya.


Dengan malas Mikha mencharger ponselnya diatas meja dan bergegas keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati kamar Harry.


Mikha menatap pintu kamar Harry ragu. Apakah Harry sudah bangun? atau belum. Setelah ia mengumpulkan keberaniannya untuk mengetuk pintu kamar Harry. Akhirnya ia mengetuk pintu dengan ragu.


"Her?" Ketuk Mikha. Tak ada jawaban atau pun respons.


"Harry" ia mengetuk kembali kamar Harry.


Saat Mikha akan mengetuk kembali, pintu kamar terbuka lebar dan menampilkan sosok Harry yang masih mengantuk.


"Ada apa Mik? Ini kan masih pagi" ucap Harry bingung saat melihat penampilan Mikha yang sudah rapi.


"Aku mau nanya, tadi subuh kamu bangunin aku sahur gak? Soalnya aku bangun kesiangan" Harry terdiam sesaat.


"Ohh, dirumah ini gak ada yang sahur soalnya ga ada yang puasa. Paling cuma ayah" jawabnya santai, wajahnya menunjukkan kalau ia masih sangat mengantuk. Mikha mengerutkan keningnya bingung.


"Cuma ayah? Bukannya kamu juga puasakan, kemaren?" Gumam Mikha. Seakan tersadar Harry langsung menegakkan tubuhnya dan mendehem, menormalkan suaranya.


"Eh, maksud gue, eh aku. Kan kemaren kita pulang malem banget, kakak aku juga pulang malem banget, sering telat bangun jadinya jarang sahur. Paling cuma ayah yang bangun buat sahur. Kalo gak pulang malem terlalu malem ya aku sahur lah, Gitu Mikha" Mikha mengangguk ragu mendengar penjelasan Harry.


"Ya udah, sekarang kita sarapan ya. Kamu tunggu di meja makan aja, aku mau mandi dulu" Mikha menggelengkan kepalanya.


"Aku puasa Her" tolak Mikha.


"Loh? Kan gak sahur, masa puasa? Emang kuat?" tanya Harry semakin bingung.


"Aku kuat, lagian gak sahur juga bisa puasa kok, dari pada engga sama sekali"


Plak ucapan Mikha bagaikan tamparan bagi Harry.


"Ya udah kalo gitu, aku juga puasa. Masa kalah sama kamu" goda Harry menyembunyikan rasa malunya. Mikha tersenyum.

__ADS_1


"Apaan haha, aku tunggu diruang tengah aja ya"


"Iya, padahal gak apa-apa kok kalo kamu mau nunggu di kamar"


"Hah?" Seru Mikha.


"Maksudnya kamar kamu" jawab Harry cepat.


"Engga ah, bosen. Aku ke ruang tengah ya" ucap Mikha dengan senyum malu, meninggalkan Harry. Harry memperhatikan punggung Mikha yang sudah menjauh, Hatinya selalu bertanya, untuk apa ia melakukan ini semua? Mengajak Mikha ke Jakarta hanya untuk mengubahnya seperti Nabila, memperlakukan Mikha lemah lembut agar dipandang sebagai pria baik-baik, mengubah gaya bahasa lo-gue menjadi aku-kamu. Untuk apa?.


°°°


"Om" teriak Mikha girang saat melihat Ayah Harry duduk dikursi.


"Eh Mikha, sini sayang. Panggil ayah aja" Mikha tersenyum lalu duduk di sofa.


"Ayah lagi apa?" tanya Mikha mencari topik pembicaraan.


"Ini, ayah lagi liat-liat berita. Kamu udah sarapan?"


"Aku puasa ayah"


"Eh? Kamu sahur" Mikha menggelengkan kepalanya.


"Engga, soalnya gak ada yang bangunin"


"Kalo ayah tau kamu suka puasa, ayah bangunin kamu tadi subuh. Ayah kira kamu gak suka puasa"


"Suka ayah, kecuali kalo lagi ada halangan" jawab Mikha, sudah hampir dua puluh lima menit mereka berbincang-bincang. Harry berjalan mendekati Mikha.


"Yuk" ajak Harry.


"Bukannya kestudio biasanya jam 9?" Tanya Ayah.


"Harry mau ngajak jalan-jalan Mikha dulu yah. Harry pamit, yu Mik"


"Ya udah, hati-hati dijalannya"


"Iya yah. Assalamualaikum" pamit Mikha.


"Waalaikumsalam" jawab Ayah Harry dengan senyum yang terus mengembang. Semoga adanya Mikha bisa merubah Harry, batinnya.


"Kemana Her?" Tanya Mikha saat sudah duduk didalam mobil.


"Kita jalan-jalan aja, liat monas"


"Wah boleh tuh, asik kayanya" jawab Mikha girang.


°°°


Setelah berkeliling dimonas mereka memutuskan untuk ke studio langsung. Harry terlebih dahulu keluar dari mobil.


"Pagi Harry" sapa Putri setelah keluar dari mobil nya. Harry melempar kan senyumannya pada Putri.

__ADS_1


"Pagi juga Put" jawab Harry sambil berjalan memutar mobil dan membuka pintu mobil sebelahnya. Senyum Putri seketika memudar saat ia melihat seorang perempuan turun dari mobil Harry.


"Itu siapa?" tanyanya tak suka.


"Oh, kenalin Put. Ini Mikha, pacar gue"


"What? Pacar? Sejak kapan lo punya pacar?" Tanya Putri tak percaya, sia-sia saja usahanya memfitnah Nabila agar pulang ke Bandung. Ternyata Harry lebih memilih mencari wanita lain, apa Harry tak pernah melihat seberapa besar cinta nya untuk Harry?.


"Apaan sih Put? Gue normal jadi gue pacaran"


"Bukan itu maksud gue Her"


"Kita ngobrol didalem aja deh Put" potong Harry sambil menarik tangan Mikha lembut, masuk kedalam studio. Banyak yang melirik Mikha saat ia masuk kedalam studio. Karna ini semua rencana Harry, jadi tak salah banyak orang yang menatap Mikha bingung, sedangkan yang Mikha tau ia hanya menjadi model pengganti.


°°°


"Kamu tunggu disini apa mau ikut aku?"


"Kemana?"


"Foto Putri"


"Cewek yang tadi?" tanya Mikha ragu, karena tadi saja Mikha melihat Putri menatapnya dengan tatapan tak suka.


"Iya, gimana?" Tanya Harry.


"Ikut aja deh"


"Ya udah yuk, nanti kamu aku foto agak sorean ya. Soalnya soalnya lumayan banyak sih yang harus difoto" Mikha mengangguk.


Dengan setia Mikha menemani Harry yang sedang membidik Putri, tak tau kenapa ia merasa Putri selalu menatapnya seakan-akan Mikha ini musuhnya. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12, Harry sudah duduk disebelahnya saat model bernama Jihan sudah selesai foto.


"Gak laper? Yakin kuat?" Mikha tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Kuat kok, bentar lagi dzuhur, masjid dimana?"


"Disebrang ada, ayo aku anterin. Udah waktunya istirahat juga, sekalian kita jalan-jalan" ucap Harry.


Setelah berjalan-jalan dan sholat Mikha kembali menunggu Harry dengan pekerjaan nya, sampai waktunya ia difoto jam 4 sore. Adzan maghrib berkumandang, Harry dan Mikha menghentikan kegiatan mereka, Harry memberikan botol air mineral pada Mikha.


"Yuk pulang, kita cari tempat buka puasa" ucap Harry sambil memasukkan kameranya ke tas khusus kamera.


"Yuk" Harry menarik tangan Mikha sampai parkiran mobil.


Setelah makan direstoran mereka melanjutkan jalan-jalan mereka tadi siang.


'Drett' Harry menghentikan mobilnya dipinggir jalan.


"Hallo Bim"


"Lo lagi dimana?" Harry melirik Mikha sekilas.


"Lagi keliling Jakarta sama Mikha"

__ADS_1


"Ya udah, nanti bawa dia ke club ya. Gue sama Cindy jam 10an kesana"


"Oke siap, bye" Harry mematikan panggilan nya dan kembali melajukan mobilnya.


__ADS_2