Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
79


__ADS_3

Adam menjauhkan kepala mereka berdua, menatap Nabila yang sudah menangis. Di usapnya dengan lembut air mata yang mengalir di pipi Nabila.


"Udah jangan nangis" ucap Adam lembut.


"Maafin" ucap Nabila sendu, ia tak mau kehilangan sosok laki-laki seperti Adam.


"Iya saya maafin. Jangan nangis ya" bujuk Adam. Nabila mengangkat wajahnya menatap Adam. Laki-laki sabar, lembut, tampan, dan mampu membuat Nabila jatuh cinta seketika.


"Beneran maafin aku ya Dam" Adam mengangguk.


"Iya sayang, dimaafin. Sekarang rapihin dulu sajadah sama mukena kamu ya" dengan semangat Nabila mengangguk, senyumnya mulai mengembang kembali. Adam memanggilnya sayang. Namun hanya sekejap.


"Saya mau pergi dulu ya Bil" ucap Adam saat sudah menyimpan peci dan sarungnya.


"Kemana?" tanya Nabila pelan, sebenarnya Adam sudah memaafkan dirinya atau belum?.


"Saya butuh sendiri dulu"


"Ninggalin aku sendirian disini?" tanya Nabila waswas.


"Sebentar kok, lagian gak akan ada yang nyulik kamu disini" Adam mencoba bercanda, namun tak bisa menutupi hatinya yang masih gelisah. Jujur Adam sudah memaafkan Nabila, bahkan melihat Nabila menangis pun Adam tak sanggup. Tapi hatinya bertolak belakang, ia sulit menerima kejadian tadi, dari awal Harry secara terang-terangan ingin mengambil Nabila, menjebak Adam untuk tidur dengan wanita lain, bahkan memfitnah dirinya pada Nabila bahwa Adam gay.


Sebenarnya Adam tidak ingin memiliki dendam seperti ini, namun sungguh tidak mudah melupakan kejadian yang sudah Harry lakukan pada dirinya, ia butuh sendiri dulu, ia butuh tenang.


"Sebelum Maghrib saya pulang, mau makanan hotel atau saya beliin di luar?" tanya Adam. Nabila tersenyum kecut.


"Apa aja yang penting buka puasa" Adam mengangguk, lalu pergi keluar kamar. Nabila merapikan mukenanya dengan lemas.


"Padahal niat kesini liburan, masih ada tiga hari lagi disini, tapi lo malah bikin Adam marah" gumam Nabila pada dirinya sendiri. Ia memutuskan merapikan isi koper sambil menunggu Adam kembali pulang. Nabila menyusun dengan rapi semua pakaian nya dan Adam di lembari hotel.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul lima sore, tapi Adam belum juga kembali. Nabila menjadi takut, hatinya menjadi tak tenang. Sebenarnya kemana Adam pergi?. Nabila mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah kontak yang bisa ia hubungi.


"Assalamualaikum mah" sapa Nabila saat panggilannya di angkat.


°°°°


Mamah Nabila tak melepas pandangannya dari ponsel, sesekali melirik suaminya.


"Pah, punya kontak temen-temen Nabila gak?" Tanya mamah Nabila.


"Ya minta aja ke Nabilanya mah" jawab papa Nabila santai, melanjutkan kegiatannya membaca buku.


"Ihh papa, nanti Nabila bisa curiga" Papa menutup buku tebal milik Abi lalu menyimpannya diatas meja, lalu merongoh sakunya mengambil ponsel.


"Kalo gak salah papa punya kontak Rendi, waktu itu Nabila bilang ketemu lagi Rendi, terus papa minta. Nanti mamah minta ke Rendi aja kontak temen-temen Bila yang lain" papa memberikan ponselnya, dengan cepat mamah mengambilnya dan menghubungin Rendi.

__ADS_1


"Assalamualaikum om, papa Nabila?" ujar Rendi disebrang sana.


"Waalaikumsalam Ren, ini mamah Nabila. Masih inget kan?"


"Oh tante, masih inget lah tan. Tante apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, nak Rendi apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik juga tan. Rendi gak nyangka Nabila udah nikah lagi tan"


"Eh, kamu udah tau?" Tanya mamah Nabila.


"Tau tan, Nabila yang kasih tau Rendi"


"Ohh. Emmm, nak Rendi punya kontak temen-temen Nabila waktu SMA?"


"Punya tan, tapi cuma beberapa orang. Paling 20-an, itu juga grup SMA dulu yang masih aktif. Emang ada apa tan?"


"Aduh gimana ya jelasinnya. Jadi gini, Nabila sama Adam itu udah nikah tapi belum resepsi. Rencananya suami Nabila, Adam mau bikin kejutan lamaran buat resepsi pernikahan. Bisa gak nak Rendi ajakin temen-temen SMA buat dateng nanti tanggal 27 di restoran Adam, nanti tante kirimin alamatnya"


"Oh bisa tan, jadi ini dirahasia-in ke Bila ya?"


"Iya, nanti Bila dateng kesana juga ga tau apa-apa"


"Makasih ya nak Rendi"


"Sama-sama tante, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Gimana?" Tanya papa saat mamah Nabila mengembalikan polsennya.


"Bisa pah" pekik mamah Nabila senang. Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi, menampilkan nama Nabila disana.


"Nabila telfon pah"


"Jawab mah" ucap papa Nabila. Dengan depan mamah Nabila mengangkat nya.


"Wa'alaikumsalam sayang, gimana di Jakarta nya?" tanya mamah Nabila senang. Ia berdiri kedekat jendela agar sinyal yang di dapat banyak.


Papa Nabila bingung saat melihat istrinya berbalik dengan wajah cemberut, ia membolak balik ponselnya di tangan.


"Kenapa?" tanya papa Nabila. Mamah Nabila duduk dengan lemas.


"Nabila bikin masalah sama Adam"

__ADS_1


"Masalah gimana?"


"Temennya Bila, si Harry tau kan pah? dia mau nikah"


"Ya bagus dong mah, orang mau nikah itu di Alhamdulillah in" jawab papa Nabila masih tak mengerti kenapa istri cemberut seperti itu.


"Iya tapi anak papa ngasih pelukan perpisahan, terus Adam ngeliat, salah paham, sekarang lagi marah" mamah Nabila menekan beberapa kata.


"Astaghfirullah Bila"


"Gimana acara kejutan buat Bila pah? jadi gak ya? Adam masih mau ke Nabila gak ya pah?"


"Huss kamu ini, jangan ngomong yang engga-engga, coba telepon Adam, bujuk Adam biar mau maafin Nabila"


°°°°


Sementara Adam, ia duduk di bangku taman sendiri, sesekali Adam tersenyum melihat anak kecil yang di temani kedua orangtuanya.


"Mamah haus" ucap anak kecil itu saat mereka duduk dibangku sebelah Adam. keadaan taman ini lumayan penuh, banyak aktivitas yang terjadi disini, dan pastinya semua sedang ngabuburit menunggu adzan Maghrib.


"Kalo mau minum di mobil ya sayang, kan orang-orang pada lagi puasa" ucap mamahnya lembut.


"Sini ayah gendong sayang, kamu cape ya" anak kecil itu mengangguk di pelukan papanya.


Setelah keluarga itu sudah tak ada di pandangan Adam, Adam membayangkan bahwa itu adalah dirinya dan Nabila, mengingat Nabila ia jadi merindukan sosok istirnya yang tadi ia tinggalkan. Belum dua jam tapi hati Adam sudah sangat merindukan Nabila.


Ponsel Adam berbunyi menampilkan nama mamah Nabila. Dengan sedikit penasaran Adam mengangkatnya.


"Assalamualaikum mah" sapa Adam.


"Wa'alaikumsalam, nak Adam gak kenapa-kenapa kan?" Adam mengerutkan keningnya bingung.


"Gak kenapa-kenapa mah, emang ada apa mah? di Bandung lagi ada masalah?" tanya Adam mulai khawatir.


"Di Bandung aman-aman aja. Tadi Nabila telfon, udah cerita semuanya ke mamah. Maafin Nabila ya Dam. Mamah udah marahin dia Dam"


"Adam gak marah sama Nabila mah. Ini Adam lagi keluar sebentar, mau beli kurma dulu buat buka puasa nanti" jawab Adam sedikit berbohong, ia tak enak pada mamah Nabila.


"Kalo mau pura-pura marah sama Nabila juga gak apa-apa Dam, biar Nabila kapok, asal jangan marah beneran aja" Adam tersenyum.


"Adam gak tega mah" jawab Adam jujur, Adam bisa membayangkan bagaimana reaksi Nabila nanti jika Adam mendiami Nabila.


"Alhamdulillah kalo gitu, ah kamu tuh ya Dam, menantu kesayangan mamah"


"Alhamdulillah mah" Jawab Adam hangat, sambil tertawa pelan.

__ADS_1


__ADS_2