Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
75


__ADS_3

Baru selesai Nabila mandi ia langsung ingat saat mengenakan handuk, Nabila lupa membawa pakaian gantinya, ia keluar dari kamar mandi pelan dan ragu. Nabila menghembuskan nafas lega nya saat melihat kamar sepi, Adam tidak tau ada dimana, segera Nabila bergegas menuju kopernya mengambil dress beserta pakaian dalamnya dan langsung kembali masuk lagi kedalam kamar mandi dengan cepat.


Sedangkan diluar sana Adam sedang berfokus pada ponselnya, Adam duduk seorang diri di balkon kamar hotel. Diliriknya jam yang melingkar indah dilengan sebelah kirinya, sudah jam 2 pas. Ada berfikir apa Nabila tertidur didalam kamar mandi? Bukannya ia sudah membuat janji dengan teman-teman distudio nya? Tapi kenapa Nabila belum juga keluar dari kamar mandi.


Dengan tidak sabar Adam berdiri, memasukkan ponselnya kedalam saku celana dan berjalan masuk kedalam kamar. Diketuknya pintu kamar mandi sambil berkata.


"Bil, mandinya udah belum?" Tanya Adam.


"Bentar lagi Dam" teriak Nabila dari dalam. Adam menggelengkan kepalanya, setengah jam baru dihabiskan untuk mandi, belum lagi nanti berdandan. Setelah mendengar jawaban dari Nabila, Adam memutuskan kembali duduk dikursi balkon kamar hotel sambil membaca cerita-cerita singkat namun penuh makna. Adam membuka grup dari remaja masjid Al-Iqra, kali ini Akbar membagikan post cerita yang berjudul Demi Seorang Gadis Pemuda Ini Membakar Jarinya, Alasannya Tidak Terduga. Emm, sepertinya menarik. Adam membuka post tersebut dan mulai membacanya.


Sejumlah siswi ditemani guru perempuan pergi ke sebuah kawasan hutan untuk melakukan penelitian. Setelah bus berhenti, para siswi segera turun dan mulai mengamati berbagai macam flora di kawasan yang tak berpenghuni itu.


Awalnya, mereka berada dalam satu kelompok. Namun, beberapa jam berikutnya mereka mulai berpencar, mencari obyek-obyek yang menarik perhatian masing-masing.


Salah seorang siswi yang tengah asyik mengamati bunga demi bunga tak menyadari saat waktu telah habis dan bus pulang kembali ke sekolah. Siswi yang lain dan guru pendamping juga tak menyadari bahwa siswi tersebut belum naik.


Sadar terlalu lama ia melakukan pengamatan, siswi tersebut kembali ke lokasi bus. Namun, ia tak mendapati apa pun di sana. Sepi. Ia berteriak memanggil guru dan teman-temannya, namun sia-sia. Tak ada jawaban apa pun.


Sendirian di tengah kawasan sunyi tentu membuatnya takut. Lantas ia memutuskan untuk mencari kampung terdekat. Lelah juga ia berjalan. Sekian kilometer ia tempuh tetapi tak menemukan satu pun permukiman. Apalagi hari mulai berganti malam.


Ketika dilihatnya sebuah gubuk kecil, gadis itu memutuskan pergi ke sana. Siapa tahu ada bantuan. Kalau pun kosong, setidaknya ia bisa bermalam di gubuk itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," kata siswi tersebut sambil mengetuk pintu.


"Wa'alaikum salam," rupanya di dalam gubuk itu ada seorang pemuda, kira-kira usianya 25 tahun. "Kamu siapa?"


"Saya ke daerah ini bersama rombongan teman sekolah dan guru, tapi saya tertinggal bis dan tidak tahu jalan pulang."


"Kawasan ini tak berpenghuni, kampung terdekat ada di Selatan sedangkan sekarang engkau berada di utara. Di sini tak ada satu penduduk pun,"


Pemuda itu kemudian menawarinya untuk bermalam di gubuknya. "Besok pagi, lanjutkanlah perjalanan ke kota."


Ia meminta gadis itu tidur di ranjang, sedangkan ia akan tidur di ujung gubuk. Disekatnya antara ranjang dan sisa ruang gubuk dengan kain sprei yang ada di ranjang itu, ia ikatkan dari ujung ke ujung.


Gadis itu tidur dalam keadaan takut. Ia menutup seluruh tubuhnya kecuali mata. Khawatir terjadi apa-apa, ia tak berani tidur. Ia mengawasi apa yang dilakukan pemuda itu.


Ketakutan gadis itu semakin bertambah dan ia tak bisa tidur sama sekali menyaksikan pemuda itu terus duduk dalam kondisi demikian hingga pagi.


Saat fajar tiba, mulai hilanglah ketakutan gadis itu. Terlebih saat sang pemuda pagi itu mengantarnya hingga tiba di kota.


Dengan detil, gadis itu menceritakan kepada orangtua apa yang dialaminya. Untuk memastikan kebenaran cerita buah hatinya itu, sang ayah kemudian pergi mencari pemuda tersebut.


Sampai di gubuk yang persis seperti cerita anaknya, sang ayah mengaku tersesat dan perlu beristirahat sejenak lantas meminta ditunjukkan jalan. Melihat tangan pemuda tersebut dibalut, ia pun bertanya.

__ADS_1


"Dua malam yang lalu," kata pemuda itu menjelaskan, "ada seorang gadis cantik datang ke gubuk ini. Ia tertinggal rombongan sekolahnya lalu menginap di sini."


"Syetan membisikkan agar aku menzinainya. Karena takut jika aku benar-benar tergoda, maka kubakar jari-jariku satu per satu agar iblis tidak berhasil menggodaku. Pikiran untuk menzinai gadis itu benar-benar menyakitiku, lebih sakit dari terbakarnya jari-jariku ini."


Sang ayah terkejut sekaligus kagum dengan pemuda tersebut. Di zaman sekarang, masih ada pemuda yang sangat takut kepada Allah. Ia kemudian mengundang pemuda itu ke rumahnya, lalu menikahkannya dengan anaknya yang tak lain adalah gadis cantik yang ia tolong malam itu.


"Bukannya mendapatkan si gadis tersebut dalam satu malam dengan cara haram," kata Salim Muraisyid ketika menuliskan kisah nyata ini dalam bukunya Qashashun Abkatni, "pemuda itu justru mendapatkan gadis cantik ini sepanjang hidup secara halal."


Adam tersenyum membaca cerita ini, sedikit sama dengan kisahnya Adam dan Nabila. Hanya saja Adam tidak terlalu mengambil pusing ada wanita dikamarnya dan memilih tidur di ruang tengah, tak menyangka kejadian singkat itu sangat berarti untuknya hingga saat ini, dari kejadian itu pula Adam dan Nabila bisa menjadi sepasang suami istri seperti sekarang. Nabila yang dulunya terlihat sangat bebas sekarang menjadi istri yang penurut, mau membiasakan diri untuk berubah menjadi yang terbaik. Nabila. Satu nama itu yang kini memenuhi hati Adam, semudah itu Adam mencinta Nabila, dan sebangga itu Adam bisa memiliki istri seperti Nabila.


"Nabila harus denger cerita ini nanti malem" gumam Adam, tak lama suara langkah kaki terdengar menghampirinya. Adam melirik ke sumber suara, Nabila mengenakan dress tidak terlalu pendek lengkap dengan sepatu berhak ramping itu. Seakan ingin menyuruh Nabila menggunakan baju lain, namun Adam mengurungkan niatnya. Jujur, Adam lebih suka melihat Nabila mengenakan Hijab.


"Udah siap?" Tanya Adam.


"Udah, yuk Dam. Jam setengah 3 nih" Adam mengangguk dan berdiri, menggenggam tangan Nabila lalu berjalan masuk kedalam kamar. Adam mengambil jaketnya dan memberikan kepada Nabila.


"Pake jaket ya, tangan dress nya terlalu pendek menurut saya" Nabila yang seolah mengerti menahan jaket yang Adam berikan.


"Aku ganti baju dulu ya, sebenernya lebih nyaman pake celana kulot" Adam mengerutkan keningnya bingung.


"Gak akan telat?" Nabila menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Engga kok, lagian cuma mau ketemu temen-temen, bentar ya" Nabila langsung bergegas membuka kembali kopernya. Adam tersenyum saat Nabila ternyata mengeluarkan celana panjang berwarna putih, kaos pendek dan cardigan.


__ADS_2