Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)

Bidadari Surgaku (Perempuan Halalku)
77


__ADS_3

Tak terasa mereka sudah sampai di Hotel, perjalan begitu hening membuat Nabila ingin mengacak-acak rambut nya sendiri karena gemas dengan situasi ini, Adam berjalan terlebih dahulu membuat Nabila hanya bisa mengekor, setelah sampai di dalam kamar Adam masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Nabila seorang diri yang tengah menatap sendu kearahnya.


"Huft" Nabila menghembuskan nafasnya kesal. Ia melemparkan tas nya diatas sofa lalu duduk disisi ranjang. Selama diperjalanan Adam diam, seakan tak ada minat untuk meminta penjelasan bahkan Adam pun terlihat enggan mendengar penjelasan dari Nabila.


Nabila tau ini memang salah, namun Nabila tidak menyangka Adam akan datang.


Flashback


Nabila menghampiri beberapa teman lamanya yang ia temui didalam kantor, hanya sapaan singkat yang Nabila berikan hingga ia bertemu Mitha.


"Hai Mit" Mitha yang baru selesai berdandan tersenyum gembira.


"Eh Bila, apa kabar lo? Betah amat di Bandung" ujarnya senang melihat Nabila yang kembali.


"Iya lah betah. Eh mau kemana?" Tanya Nabila saat Mitha mengenakan jaketnya.


"Mau pulang, ada acara keluarga. Gue mau ambil tas di studio dua, lo mau ikut? Ada Harry sama pacarnya juga disana" Nabila sedikit berfikir, Nabila tidak pernah tau Harry sedang dekat dengan perempuan, atau mungkin perempuan itu Putri?.


"Pacar?" Tanya Nabila penasaran. Namun hatinya sedikit lega karena tidak akan ada yang mengganggu pernikahannya lagi.


"Iya, udah 4 hari nempel mulu mereka kayak prangko" canda Mitha.


"Ohh, boleh lah gue ikut. Penasaran siapa pacar nya dia, sekalian kenalan sama pacar Harry"


"Ya udah, yuk" ajak Mitha. Nabila mengikuti Mitha menuju ruangan studio foto, saat mereka masuk benar saja Harry sedang bersama seorang perempuan. Mereka tengah melihat-lihat foto dikamera dan tidak menyadari kehadiran Nabila dan Mitha.


"Her, tas gue mana?" Teriak Mitha saat menutup pintu.


"Tuh di sofa, ketutup jaket gue" jawab Harry datar tanpa mengalihkan pandangannya, seolah menyampaikan pesan bahwa ia tak ingin di ganggu oleh oranglain.


"Nih, bagus ini Mik" ujar Harry pada perempuan disebelahnya sambil menunjukan layar kameranya.


"Iya, tapi yang tadi juga bagus Her" jawab perempuan itu. Nabila hanya memperhatikan keduanya, hatinya senang melihat Harry bisa memiliki kekasih dan itu artinya perasaan Harry padanya sudah menghilang. Walaupun masih ada kekesalan dihati Nabila pada Harry karena Harry pernah menciumnya dulu, tapi sudah lah itu masa lalu.

__ADS_1


"Her, gue balik duluan ya. Tuh Nabila gak akan lo sambut? Bil gue balik ya, bye" Ujar Mitha menempelkan pipinya ke pipi Nabila lalu pergi keluar ruangan, Harry terlihat diam sejenak lalu langsung mengangkat wajahnya dengan raut wajah yang sulit ditebak, seakan kedatangan presiden. Harry langsung berdiri memberikan kamera pada wanita disebelahnya dan berjalan menghampiri Nabila.


"Saking asiknya pacaran, tamu dari Bandung gak lo sambut Her" Nabila menggelengkan kepalanya.


"Bil, gue minta maaf ya soal yang di Bandung" Harry menggenggam tangan Nabila. Nabila tersenyum.


"Udah gue maafin kok. Gue masih anggap lo sahabat gue, walau gimana pun juga lo itu sahabat gue yang selalu ada buat gue dalam keadaan sudah atau seneng" gumam Nabila.


"Ya ampun Bil, gue kangen banget sama lo" ujar Harry sambil memeluk tubuh Nabila, pandangan Nabila bertemu dengan Mikha yang langsung memalingkan wajahnya, tanda tak suka.


"Ish Her, jangan meluk-meluk sembarangan. Gue udah jadi istri orang" Nabila melepaskan pelukan Harry lalu menatap Mikha.


"Gak akan ngenalin pacar lo?" Tanya Nabila. Harry mengalihkan pandangan nya pada Mikha.


"Yuk gue kenalin" Harry menarik tangan Nabila mendekati Mikha yang masih duduk memegang kamera, wajahnya masih menatap kearah sudut ruangan.


"Mikha, kenalin. Ini Nabila yang sering aku ceritain" Mikha mengangkat wajahnya menatap Harry dan Nabila bersamaan. Ia berdiri sambil mengulurkan tangan kanan nya pada Nabila.


"Orang mana?" tanya Nabila.


"Makassar" jawab Mikha singkat, ia sudah tidak nyaman berada disini. Tangan Harry sepertinya susah lepas dari Nabila.


"Eh iya gue Nabila, temen Harry. Langgeng ya sampe nikah" canda Nabila. Mikha tersenyum kecut sambil memberikan kamera pada Harry.


"Aku kekamar mandi sebentar ya Her" ujarnya sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan.


"Kayanya dia gak suka ke gue deh" gumam Nabila saat Mikha menutup pintu ruangan.


"Kaya dia cemburu Bil" sahut Harry.


"Lo sih meluk-meluk" Nabila mencubit kecil lengan Harry.


"Ya abis gue kangen banget ke lo Bil. Boleh meluk lagi gak?" Tanyanya.

__ADS_1


"Ihh apaan engga boleh" Tolak Nabila.


"Ntar Adam liat gue yang berabe, yuk ah keluar, lo harus minta maaf juga ke Adam" Harry mengangguk kan kepalanya, namun menahan tangan Nabila saat tubuh Nabila sudah berbalik hendak pergi.


"Yakin gak akan meluk?" tanya Harry yang sepertinya bercanda.


"Yakin seratus persen" Terlihat Harry tersenyum.


"Padahal ini yang terakhir kali loh Bil. Bentar lagi gue sama Mikha mau nyusul lo"


"Hah, nyusul?" Tanya Nabila heran.


"Iya, gue sama Mikha mau nikah. Gak akan ngasih pelukan selamat nih?" Canda Harry. Nabila tersenyum bahagia.


"Nah gitu dong Her, gue seneng dengernya"


"Nanti lo harus datengnya, gak mau tau harus dateng, gak pake alesan" paksa Harry.


"Emang kapan sih?" ejek Nabila.


"Gue percepatan, tadinya mau tunangan dulu dua bulan lagi, tapi kayanya gue udah nyaman sama Mikha, jadi gue bilang ke ayah buat mempercepat aja langsung nikah" lagi-lagi Nabila tersenyum senang.


"Ciee Harry mau nikah. Ya udah sini peluk" Nabila memeluk tubuh Harry dengan senang dan disambut oleh Harry. Baru saja Nabila hendak melepaskan pelukan, seseorang telah menarik lengannya dengan paksa. Dunia Nabila seakan berhenti berputar saat melihat Adam yang menarik tangannya.


Klek


Lamunan Nabila terhenti saat melihat Adam keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat segar dan rambutnya sedikit basah.


"Dam" panggil Nabila memelas karena lagi-lagi Adam tak melihatnya.


"Bil, kita solat Ashar dulu. Biar saya yang nyiapin sajadah sama mukena kamu, kamu ambil air wudhu" Adam berucap datar sambil membuka koper milik Adam, mengeluarkan sajadah dan pecinya.


Nabila menghembuskan nafasnya lalu masuk kedalam kamar mandi dengan langkah lesu. Ia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan lalu mengikatnya dengan ikatan yang selalu Nabila jadikan gelang ditangannya. Dengan khusyu Nabila mulai membaca doa niat berwudhu. Semoga setelah solat nanti Adam bisa membuka pikirannya untuk menerima penjelasan Nabila, Ia akan menjelaskan dengan detail tentang kejadian tadi dan Nabila akan berjanji tidak akan melakukan hal bodoh seperti tadi lagi. Nabila mulai membasuh kedua telapak tangannya dan memulai berwudhu, air wudhu yang mengalir sangat dingin dan segar, sedikit menghilangkan keresahannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2