
"Assalamualaikum, Bil" Adam masuk kedalam rumah, sepi. Tanpa pikir panjang Adam membuka pintu kamar dan melihat Nabila tengah memakai kerudungnya.
"Bil" sapa Adam sambil duduk disisi ranjang.
"Eh Dam. Kapan pulang?"
"Baru aja Bil, tunggu ya saya mandi dulu" Nabila mengangguk sambil tetap merapikan kerudungnya. Dilihatnya dari pantulan cermin, Adam mengeluarkan kemeja biru muda dan celananya kedalam kamar mandi.
Setelah baju, kerudung, make up dan isi tasnya lengkap. Adam keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang digesekan pada rambut untuk mengeringkan rambutnya.
"Gimana Dam?" Tanya Nabila sambil memutarkan badannya.
"Cocok" sahut Adam sambil menyimpan Handuk kecil.
"Gitu aja? Gak ada pujian?" Tanya Nabila cemberut. Adam membalikkan badannya menghadap Nabila.
"Cantik. Bagai bidadari yang Allah turun kan dari surga untuk ku" puji Adam. Senyum Nabila langsung mengembang mendengar pujian Adam.
"Ah, Adam. Bisa aja" ujar Nabila senang.
"Mau sekarang berangkat nya?" Tanya Adam setelah merapi kan rambutnya. Tanpa menjawab Nabila mendekati Adam, menggulung lengan kemeja Adam sampai sikut.
"Udah, yuk" Nabila mengapit lengan kanan Adam lalu keluar dari kamar, dimatikannya lampu ruangan lalu keluar dari rumah.
Adam membukakan pintu mobil untuk Nabila lalu mengeliling depan mobil lalu masuk.
Sesampainya ditempat makan lesehan Punclut, mereka turun dari mobil yang terparkir didepan tempat makan. Udara sejuk dan dingin menerpa tubuh mereka, saat mereka masuk kedalam tempat makan ternyata lantai dasar sudah penuh oleh orang-orang yang hendak buka bersama.
"Kamu pesen apa Bil?" Tanya Adam.
"Aku pesen ayam bakar, tahu, tempe, sama usus ayam deh"
"Oke, kamu tempatin dulu tempat kita ya. Diatas katanya masih ada yang kosong" ujar Adam sambil memberikan kayu berbentuk kotak yang bertuliskan nomor 42.
"Oke, aku duluan ya" pamit Nabila. Sesampainya diatas, semua tempat sudah penuh, hanya ada satu yang kosong namun dekat pagar yang menghadap jalanan bukan pemandangan.
"Bil" pekik seorang laki-laki yang berada di belakangnya. Nabila menoleh kearah belakang.
"Eh Rendi. Kesini juga? Sama siapa?" tanya Nabila semangat.
"Iya. Biasa sama Sheila plus sikembar" jawabnya ceria.
"Wahh, mana sikembar? Mau ketemu deh"
"Tuh disana. Lagi liat pemandangan, yuk" ajak Rendi sambil berjalan terlebih dahulu. Nabila mengekori langkah Rendi dan duduk di depan Sheila.
"Hei anak-anak. Kangen gak ke kakak?" Gumam Nabila sambil mencolek-colek pipi sang bayi.
"Kangen tante. Cepet punya baby dong, biar kita ada temen" jawab Sheila dengan suara anak kecil.
"Kok tante sih ih" protes Nabila.
"Udah tua masa disebut Kakak, gak cocok. Kapan nih punya baby?" ejek Sheila.
"Tunggu aja nanti yaa" canda Nabila.
"Sama siapa Bil?" Tanya Rendi.
"Sama suami. Tapi lagi mesen dulu dibawah"
"Ohh, bareng aja makan disini. Sekalian bukber" ajak Sheila.
__ADS_1
"Iya, disini tempatnya enak. Langsung liat pemandangan" jawab Nabila.
"Iya, cuma biar dapet tempat ini kita dari jam setengah 5 Bil disini dan baru mesen tadi makanannya"
"Wihh niat"
"Niat dong, eh itu suami lo kan?" Ujar Rendi sambil menunjuk kearah belakang Nabila. Nabila membalikan badannya lalu melambaikan tangannya agar Adam melihatnya.
"Eh, pada bukber juga?" Tanya Adam ramah sambik duduk disamping Nabila.
"Iya nih, padahal gak janjian kita"
"Iya" sahut Nabila.
"Dam liat deh, lucu kan?" Tanya Nabila menunjuk bayi kembar yang sedang tertidur dikeranjang bayi.
"Lucu. Namanya siapa?" Tanya Adam.
"Yang perempuan namanya Putri Firmansyah, yang laki-laki Putra Firmansyah" jawab Rendi.
"Wahh, kembar sepasang?"
"Iya. Alhamdulillah"
Makanan milik Rendi datang terlebih dahulu.
"Lima menit lagi nih" gumam Sheila. Tak lama kemudian pesanan Adam datang tepat saat adzan maghrib berkumandang.
"Alhamdulillah" seru semuanya.
___
Sesudah pulang dari Punclut dan solat mereka melanjutkan dengan jalan-jalan berkeliling Bandung.
"Susah Bil kalo gak ada dari kitanya yang kembar" jawab Adam.
"Maksudnya gimana?"
"Ya harus ada keturunannya, misalnya nenek kakek kamu atau mamah papa kamu kembar baru bisa. Itu juga kayaknya sih" Adam sendiri tidak yakin dengan jawabannya.
"Kalo program ke dokter gitu bisa mungkin Dam" Adam menggelengkan kepalanya.
"Gak tau juga Bil, tapi mau kembar ataupun enggak juga saya gak masalah, pastinya saya bakal sayang banget" ucap Adam lembut, Nabila paling suka melihat pemandangan ini, saat suaminya tersenyum lembut, ketampanan nya seakan bertambah dua kali lipat.
Tak terasa waktu menunjukkan jam 10 malam, mereka pun memutuskan pulang.
Sesampainya didalam kamar, Nabila langsung melepaskan kerudungnya dan mengambil baju tidur.
"Bil, lusa mau ikut ke Jakarta gak?" Tanya Adam yang kini tengah duduk diranjang.
"Ngapain Dam?" tanya Nabila bingung.
"Kata Bang Safiq, temennya yang di Jakarta mau ngejual restoran nya. Tempatnya lumayan rame lah, tinggal direnovasi aja restorannya. Saya mau beli, sekalian mau liat langsung tempat nya kaya gimana"
"Ohh, ikut lah Dam. Aku mau ketemu temen-temen distudio. Berapa hari?"
"4 hari" jawab Adam antusias.
"Kok lama?" tanya Nabila bingung.
"Kalo saya sendirian kesananya ya cuma sehari. Berhubung kamu ikut, jadi 4 hari. Sekalian kita jalan-jalan disana, istilahnya pacaran lah" ujar Adam.
__ADS_1
"Ihh Adam. Romantis terus dari tadi" Adam hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. 'Jawab singkat cemberut, jawab jujur dibilang romantis tapi kadang juga cemberut ' batinnya terkekeh.
"Aku ganti baju sama cuci muka dulu ya" ujar Nabila. Adam mengangguk.
Saat Nabila selesai mengganti pakaian dan mencuci mukanya ia keluar dari kamar mandi dan menatap Adam bingung, Adam sudah mengganti bajunya dan mencuci wajahnya sehingga terlihat segar.
"Kok udah cuci muka lagi?" Tanya Nabila.
"Pake kamar mandi deket dapur, mau saya bacain cerita lagi gak Bil?" Tanya Adam balik.
"Tumben nawarin bacain cerita. Biasanya kalo aku nyuruh bacain aja baru kamu mau" goda Nabila.
"Ini saya baru baca digrup line masjid, ada cerita yang rame. Mau denger?" Tanya Adam.
"Mau dong"
"Sini" Adam menepuk bantal dipinggirnya. Nabila dengan semangat merebahkan dirinya diatas ranjang sebelah Adam. Adam mengambil ponselnya diatas nakas lalu mencari link cerita digrup.
"Nih Bil. Judulnya TANGISANKU DI MALAM PERTAMA.
Seusai walimah berakhir, kedua pengantin itu segera ke apartemen. Malam ini merupakan malam pertama mereka.
Keduanya tetap saling terdiam di atas ranjang, hanya sekali-kali beradu pandang. Tiba-tiba telepon genggam suami berbunyi. Rupanya ada berbagai orang kawannya yang telat menghadiri walimah tadi.
"Tadi mobil kami mogok," kata kawan di balik telepon. Mereka mengadukan posisi mereka dan bakal tiba berbagai waktu lagi di apartemen, apabila sang pengantin mengijinkan. Mereka tahu persis bahwa ini merupakan malam pertama jadi mereka tidak mau mengganggu. Rupanya, sang pengantin tidak hanya mengijinkan, ia juga bertanya apakah mereka telah makan.
"Belum," jawab mereka dengan polos.
"Baiklah, kelak aku bakal meminta istriku menyiapkan makan malam untuk kalian"
"Yang benar saja. Ini malam pertama, mana mungkin ada pengantin wanita yang mau masak di malam pertama."
"Ya kalau tidak mau tinggal aku belikan makanan yang telah jadi," jawabnya.
Laki-laki itu kemudian memberitahu istrinya bahwa kawan-kawannya bakal datang. "Kita siapkan makan malam untuk mereka ya, mereka datang dari jauh. Tadi mobilnya mogok. Insya Allah ini tahap dari memuliakan tamu," sang istri mengangguk. Meskipun dalam hati ia sebetulnya agak keberatan ada tamu di malam pertama mereka.
Sang suami pamit keluar untuk ke supermarket terdekat. Tidak seberapa lama, ia pun kembali sambil mengangkat berbagai kantong belanjaan. Alangkah terkejutnya sang istri, rupanya suaminya membeli bahan-bahan mentah. Bukan makanan yang telah jadi.
"Tolong masakkan untuk tamu kami ya," kata sang suami. Mendengar ini, tangis sang istri hampir pecah. Ia disuruh masak di malam pertama? Tapi demi mentaati suami yang baru malam ini mereka berduaan, sang istri tidak protes. Ia bergeges berangkat ke dapur yang lokasinya menyatu dengan ruang tamu apartemen itu.
Sang suami tidak tahu, saat mulai memasak, mata istrinya telah berkaca-kaca. Ia tidak habis pikir mengapa ia wajib masak di malam pertama. Ada butir-butir bening mulai membasahi pipinya.
Bel berbunyi. "Assalamu'alaikum..." ujar salam terdengar serentak saat sang suami membukakan pintu. Rupanya kawan-kawannya telah datang, cocok di saat istrinya hampir berakhir memasak.
Menonton pengantin wanita itu memasak, 10 pemuda itu terpana. Mereka tidak menyangka bahwa mereka bakal dijamu dengan makan malam yang dimasak oleh pengantin baru.
Berakhir makan dan mengucapkan selamat dan sedikit bincang-bincang, mereka undur diri. Tidak lupa mereka meminta maaf sebab telah mengganggu.
Ketika sang suami mengantar mereka ke depan pintu ruang apartemen, istrinya membatin. "Mungkin sebaiknya besuk aku minta diantar pulang ke rumah orang tua." Tetapi alangkah terkejutnya muslimah itu, sang suami masuk ke apartemen sambil memberbagi uang 50 ribu riyal kepadanya.
"Apa ini?"
"Nyatanya tadi kawan-kawanku saling berjanji satu sama lain, apabila engkau mau memasak di malam pertama ini, masing-masing mereka bakal memberbagi 5.000 riyal. Dan mereka tidak membayangkan ada istri shalihah semacammu yang mau memasak di malam pertama demi menghormati tamu suaminya."
Masya Allah... baru saja perasaan sang istri berkecamuk dan ingin pulang ke rumah orang tua, rupanya Allah memberbagi kejutan indah kepadanya. Berkah ketaatannya terhadap suami dan menghormati tamu, Allah memberbagi hadiah 50.000 riyal (setara Rp 190 juta). Tidak hanya itu, ia juga mendapat pujian dari suaminya. Suatu tanda cinta yang menghangatkan malam pertama"
"Kalo aku diposisi perempuan itu, aku mau gak ya masak?" Gumam Nabila.
"Kayanya engga deh Bil" sahut Adam.
"Ihh kenapa?"
__ADS_1
"Kamu kan gak bisa masak Bil. Baru bisa masak akhir-akhir ini" jawab Adam jujur. Nabila cemberut lalu tidur membelakangi Adam.
"Jadi nyesel punya istri kaya aku?" Tanya Nabila ketus.