
Sudah 1 jam Harry menunggu Adam keluar dari masjid, tidak ada tanda-tanda Adam akan keluar. Adam masih saja duduk di depan anak-anak itu sambil berbicara. Sedangkan Hp nya terus bergetar karena Monik terus meneleponnya.
Dengan tidak sabar nya Harry melangkah masuk kedalam halaman masjid. Di bukanya sepatu sneakers nya lalu masuk kedalam masjid mendekati Adam yang ternyata sedang bercerita tentang Nabi Muhammad, Harry pun kembali menunggu di dekat pintu masuk. Setelah Adam beres bercerita baru Harry mendekatinya.
"Dam. Boleh ngobrol bentar ga? Di luar. Penting" Adam mengangguk.
"Kalian ngaji sama teh Risti dulu ya. Ka Adam mau keluar dulu sebentar" pamit Adam. 'Kenapa Harry kembali lagi? Apa ini ada hubungan nya dengan Nabila? Semoga tidak ya Allah, baru saja aku dan Nabila membuka kesempatan untuk mempertahankan pernikahan kami' gumam Adam dalam hatinya.
"Ada apa?" tanya Adam saat mereka berdua sudah berada di teras masjid.
"Gue butuh bantuan lo" Adam mengerutkan keningnya. Saat menolong Harry kemarin saja Adam dapat masalah dan dituduh berbuat zina dengan Nabila. Bagaimana dengan sekarang? Apa jika Adam menolongnya lagi ia akan mendapat masalah?.
"Bantuan apa lagi?" tanya Adam. Memang, kita harus saling menolong. Tapi, ada keraguan di hatinya saat harus menerima permintaan tolong dari Harry. Seperti akan terjadi sesuatu. Batin Adam.
"Gini Dam. Kaka gue hamil, pacarnya malah kabur ga mau tanggung jawab. Dia ngurung diri terus di Apartment, dari kemaren Apartment nya nutup terus. Gue malah dapet sms dari dia. Katanya dia mau bunuh diri aja, takut bikin bokap gue marah" Harry dengan wajah sedihnya agar Adam percaya.
"Bukannya rumah kamu diJakarta?" selidik Adam.
"Gue emang di Jakarta. Tapi kakak gue di Bandung, soalnya kerja di Bandung" Adam mengangguk.
"Boleh saya liat smsnya?"
"Hp gue low. Gue ga sempet cas"
"Ya udah, saya bantu apa?"
"Bantu gue bujuk kakak gue. Kita ke Apartment nya sekarang"
__ADS_1
"Tunggu. Saya ajak Akbar dulu" Harry langsung menegah.
"Buat apa?"
"Bantuin ngebujuk kakak kamu juga"
"Ga usah. Lo aja. Kita berangkat sekarang ya. Ini urusan nyawa. Plis" Harry menarik tangan Adam.
"Ya udah iya saya bantuin" Adam dengan cepat menepis tangan Harry. Mereka memakai sandal dan sepatu mereka masing-masing lalu masuk kedalam mobil Harry.
Hati Adam merasa gelisah, selalu ada perasaan ragu-ragu saat menolong Harry.
"Gimana kabar Nabila?" tanya Harry namun pandangannya tetap terfokus pada jalan.
"Alhamdulilah baik"
"Gue kaget pas denger lo sama Nabila nikah. Ini semua salah gue sih"
"Tapi lo udah punya Anisa kan?" Adam mengerutkan keningnya bingung.
"Saya kan udah pernah bilang. Anisa adik saya"
"Oh iya gue lupa. Terus Putri siapa?" tanya Harry. Harry berusaha mencari tau siapa Adam sebenarnya.
"Putri itu anak saya"
"Lo udah nikah?"
__ADS_1
"Belum. Sebenarnya Putri anak Kakak saya, tapi saya rawat" Harry menjadi bingung sendiri mendengarnya.
Sesampainya di Apartment.
Adam dan Harry naik ke lantai 3, masuk kedalam Apartment yang tidak di kunci dan bergegas mendekati sebuah pintu kamar, benar saja pintu kamar itu terkunci.
"Ka. Lo keluar dong, Ayah ga akan marah lama kalo lo jujur juga" Monik yang sedang memainkan hp nya langsung menyimpan hp nya di dekat lampu tidur. Skenario di mulai.
Dengan sengaja Monik melemparkan gelas di depan pintu kamar, membuat Adam tersentak kaget. Sedangkan Harry terus berpura-pura membujuk Monik.
"Nama kakak kamu siapa?" tanya Adam.
"Safira"
"Safira. Tidak baik melukai diri sendiri" teriak Adam.
"Lo gatau gimana rasanya di tinggalin orang yang lo sayang, apalagi dalam keadaan hamil" teriak monik dari dalam dan dengan santai nya memakai lips stick merah terang di depan cermin pegangannya.
"Saya ngerti. Tapi ini semua akibat yang harus kamu tanggung. akibat dari perbuatan kamu sendiri yang memilih untuk Sex di luar nikah, harusnya kamu tau, itu hanya merugikan kaum mu, kaum wanita"
"Ck. Semua orang nyalahin gue. Lo sama ceramahan lo juga nyalahin gue" Monik yang sudah selesai menggunakan Lips stick nya kembali menjatuhkan cermin nya di depan pintu.
Adam menghembuskan nafas nya keras.
"Sekarang kamu keluar dulu, adik kamu mau ketemu. Kita sama-sama pecahin masalah kamu"
"Lo aja yang masuk gue ga mau ketemu adik stres itu" bukan hanya Adam yang bingung, Harry pun menjadi bingung. 'Kenapa gue di sebut Stres? Dasar cewe murahan!'
__ADS_1
"Nah itu yang salah. Tidak boleh seorang perempuan dan laki-laki berduaan di dalam kamar"
"Ya udah kalian berdua masuk" klek pintu kamar terbuka, Adam menatap Harry.