
"Bang, Putri kenapa?" tanya Anisa, membuat semuanya menatap kearah Safiq dan Putri.
"Jatoh" cicit Putri. Safiq mengipasi lutut Putri dengan tangannya.
"Ini, tadi Putri jatoh di taman. Abang mau obatin Putri dulu ya dikamar" pamit Safiq.
"Jangan lupa dicuci dulu" pesan mamah. Safiq mengangguk lalu berjalan meninggalkan mereka berempat.
"Kak Tasya. Masih inget aku gak? Terakhir kakak kesini aku masih kelas 1 SMA" sahut Anisa semangat. Saat Adam dan Natasya masih berpacaran dulu Adam sudah beberapa kali membawa Natasya kerumah nya, bahkan Natasya sudah sangat akrab dengan semua keluarga Adam, termasuk Anisa, mereka sangat dekat saat dulu karena Natasya selalu membantu Anisa dalam mengerjakan tugas sekolahnya.
Natasya tersenyum kaku melihat Anisa. Ia tidak mengingat apa-apa soal Anisa.
"Kamu adiknya atau Istrinya Safiq?" jawab Natasya ragu. Semuanya langsung tertawa mendengar jawaban Natasya.
"Ihh kakak lucu deh. Masa ia aku istrinya Bang Safiq" ucap Anisa tak bisa menghentikan tawanya.
"Sayang, ini Anisa adik nya Adam sama Safiq" Mamah Natasya memberitahu.
"Eh, mending kita duduk yu" ajak Mamah Safiq yang diangguki semuanya.
"Tasya, boleh mamah tanya sesuatu?" tanya mamah Safiq saat mereka semua sudah duduk. Natasya menganggukan kepalanya.
"Kalo boleh mamah tau. Kamu sama Adam kenapa bisa putus?" Natasya hanya diam tak tau harus menjawab apa, ditatapnya wajah mamah Natasya. Mamahnya tersenyum lalu mengangguk.
"Emm, sebenernya ada yang belum saya ceritain jeng. Soal kejadian waktu Tasya di Rusia" ucap Mamahnya.
"Kejadian apa jeng?"
"Jadi gini. Tiga tahun yang lalu Tasya ketimpa musibah, tabrak lari. Dokter bilang Tasya amesia, Tasya pernah maksain pikirannya buat inget-inget lagi tapi jadinya malah sakit kepala sampe pingsan jeng. Dari situ saya suka ngengetin Tasya buat lupain aja masalalu, ga usah di inget-inget lagi. Saya kasian liat Tasya ngeluh sakit kepala setiap maksain ingetannya" Anisa dan Mamahnya terdiam, menatap Natasya prihatin.
"Mamah turut berduka ya sayang atas musibah yang menimpa kamu" Natasya menjawab dengan senyuman.
"Tapi kamu tau kalo Adam sekarang udah punya pacar lagi?" tanya Mamah Safiq ragu. Natasya dan mamahnya mengerutkan keningnya bingung.
"Pacar?" ulang Natasya.
"Loh jeng ini gimana sih. Istri kali ah"
"Eh? Istri apaan?" ulang mamah Safiq. Anisa membulatkan matanya syok. 'Kok mereka tau tentang istri bang Adam sih? Aduh, gimana nih?' batinnya resah.
"Adam udah punya istrikan jeng? Namanya Nabila. Kita juga udah ketemu Adam sama istrinya kok jeng"
"Oh, Nabila bukan Istrinya. Mereka baru pacaran jeng" jawab mamah Safiq santai membuat Natasya dan mamahnya semakin bingung. Anisa menjadi gelisah sendiri dalam duduknya, matanya menatap Safiq yang baru menurin satu persatu anak tangga dengan Putri dalam gendongannya.
__ADS_1
"Abang!" teriak Anisa tertahan. Safiq menatap Anisa heran, membuat ketiga orang lainnya juga menatap Safiq. Safiq mengerutkan keningnya lalu mempercepat langkahnya.
"Ada apa ini?" tanya Safiq saat sudah duduk di sofa.
"Safiq, Adam udah punya istri kan?" tanya mamah Natasya tiba-tiba, membuat tubuh Safiq sedikit menegang.
"Nabila itu pacarnya Adam jeng" sahut Mamah Safiq tak mau kalah.
"Mah" ucap Safiq pelan.
"Adam dan Nabila emang udah nikah"
"Hah?!" Mamah Safiq membolakan matanya.
"Nanti abang Safiq jelasin mah" bisik Anisa menenangkan Mamah nya. Mamahnya menatap tajam Anisa.
"Jadi kamu juga udah tau!" bisik Mamahnya marah. Anisa tersenyum bersalah.
Natasya menatap Mamahnya bingung.
"Mah, mending kita pulang deh. Kayanya ada yang ga beres disini" bisik Natasya. Mamahnya mengangguk setuju.
"Emm, jeng. Kaya nya kita pamit sekarang. Saya sama Natasya mau beli bahan-bahan masakan dulu, soalnya suami saya besok nyusul ke Bandung" ucap Mamah Natasya.
"Kapan-kapan kita mampir lagi kok jeng"
"Tasya pulang dulu ya tante" Natasya menyalimi tangan mamah Safiq sopan.
"Ya udah deh. Hati-hati dijalannya ya sayang" Mamah Safiq mengelus kepala Natasya pelan.
"Iya tante. Anisa, kak Safiq aku pamit ya" ucap Natasya.
"Iya kak" Natasya menatap Safiq ragu. Ia harus memanggil Safiq apa? Kakak atau Abang?.
Safiq seperti melihat keraguan itu diwajah Natasya, Safiq mendudukan tubuh Putri dipaha Anisa lalu berdiri.
"Biar saya anterin" ucap Safiq.
"Gak usah Nak Safiq. Mamah bawa mobil sendiri, diparkir dideket taman" tolak Mamah Natasya halus.
"Saya anterin sampe depan aja kalo begitu" keduanya menganggukkan kepalanya. Safiq benar-benar ingin kabur dulu dari hadapan mamah, biar Anisa saja dulu yang memadamkan kemarahan mamahnya saat ini.
Saat mereka sudah berada didepan mobil, Natasya menatap Safiq ragu.
__ADS_1
"Kak" Safiq menoleh.
"Ya?" tanya Safiq.
"Emm, boleh minta kontak kakak gak? Mau ada yang aku tanya-tanyain" Safiq tersenyum lalu meronggoh sakunya mengambil ponsel.
"Kakak aja yang minta nomor kamu, nanti kakak hubungin kamu" Safiq memberikan ponselnya pada Natasya. Dengan cepat Natasya mengetikkan nomor nya lalu memberikan ponsel itu kembali pada Safiq.
"Makasih ya kak sebelumnya"
"Iya, sama-sama. Hati-hati ya dijalannya. Tante saya pamit duluan kerumah ya" ucap Safiq sopan, ia sudah menebak keadaan Anisa sekarang, adiknya itu pasti sedang di introgasi oleh mamahnya.
"Iya nak Safiq. Makasih ya udah nganterin sampe sini" ucap mamah Natasya. Safiq mengangguk sambil tersenyum.
"Sama-sama tante. Permisi" saat Safiq sudah jauh dari jangkauan mata mereka ia menatap anak gadisnya yang tengah tersenyum.
"Mau ada yang ditanyain apa ke Safiq?" selidik mamahnya. Natasya menyengir kuda.
"Ada deh" ejeknya dengan senyuman riang dibibirnya.
"Jangan bilang Kamu suka ke Safiq ya?. Inget itu kakak nya Adam" mamahnya mencubit lembut hidung Natasya.
"Ihh mamah apaan sihh. Kepo" sahut Natasya lalu masuk kedalam mobilnya.
Safiq masuk kedalam rumah. Benar dugaannya. Kini ia sedang melihat mamahnya sedang mengintrogasi Anisa.
"Kenapa kamu gak bilang ke mamah?" tanya mamah geram.
"Ihh Mamah. Aku gak berani bilangnya, kata Bang Adam nanti dia sendiri yang bilang ke mamah" cicit Anisa sambil memeluk Putri yang sedang tertidur pulas.
"Mah" ucap Safiq pelan, mamahnya menoleh kearah Safiq.
"Nah, kamu yang jelasin ke mamah"
"Tapi Mamah janji harus bisa nerima pernikahan Nabila sama Adam. Mamah gak boleh ngancurin pernikahan mereka. Mamah harus restuin mereka. Inget mah, cerai itu gak baik" ucap Safiq panjang lebar sambil duduk disebelah mamahnya. Anisa menghembuskan nafas panjang, ia bersyukur terbebas dari introgasi mamahnya.
"Siapa yang mau nyuruh cerai sih? Ngancem mamah nih ceritanya?"
"Ya udah Safiq gak akan cerita" mamah mendengus, ia lupa kalau anaknya yang satu ini sangat dingin.
°°°°
Komentar tembus 50 aku up lagi 3 bab wkwk
__ADS_1