
"Oh kamu mau sahur juga? Biar aku bagi tiga porsi dulu ya nasi goreng nya" jawab Mikha sedikit gugup karena ketahuan sedang berduaan dengan Harry. Seakan mengerti keadaan, Ayah Harry mendehem.
"Ayah tunggu di meja makan ya" pamitnya sambil berlalu.
"Iya ayah" jawab Mikha.
Harry mengendus kesal karena permintaan maafnya diabaikan. Lagi-lagi Mikha selalu mengabaikan maafnya dan itu sukses membuat Harry hari-harinya tak menentu.
"Aku bantu ya" ucap Harry lalu mengambil 3 piring dan 3 sendok pada Mikha.
"Makasih" Mikha mengambil satu piring dari tangan Harry dan menyimpan nasi goreng diatas piring, lalu menyimpan nya di meja dapur dan Harry menyimpan sendok diatas nasi goreng. Setelah nasi goreng sudah ditata rapi diatas ketiga piring, Mikha mengambil satu piring dengan tangan kanannya dan satu piring lagi ditangan kirinya namun dicegah Harry.
"Kamu bawa yang punya kamu aja, biar aku bawa yang ayah" ujar Harry sambil mengambil alih piring yang Mikha bawa. Mikha hanya diam tak membantah saat Harry mulai berjalan keluar dapur membawa dua piring ditangannya ia hanya mengekor.
"Mau ikut ke masjid lagi?" Tanya Ayah saat Mikha dan Harry sudah duduk dikursi meja makan.
"Mau ayah. Ayah sering kemasjid itu?" Tanya Mikha antusias.
"Engga pernah, cuma kemaren aja ayah kemasjid itu. Ayah sebenernya tinggal di Cicalengka, kesini cuma mau bareng anak-anak ayah aja sampe lebaran, nanti ayah pulang lagi kesana. Tapi anak ayah dua-duanya pada sibuk, yang perempuan suka pulang subuh, soalnya kerja jadi pembawa siaran Radio. Yang laki-laki sibuk sama kerjaannya foto-foto" ucap ayah tanpa menghiraukan Harry yang berada disebelahnya.
"Fotografer itu ayah namanya" ralat Harry.
"Ya sama aja Her" Harry hanya memutar matanya jengah, selalu saja ingin menang jika berdebat. Mikha yang melihatnya hanya tersenyum tipis namun tulus.
°°°°
Mata Adam tak lepas dari sosok Nabila yang tengah menyisir dihadapan cermin, sedangkan pendengaran Adam tetap fokus pada seseorang yang tengah berbicara diponselnya.
"Jadi gimana Dam?" tanya papa disebrang sana.
"Ini Adam sebentar lagi mau berangkat ke Jakarta pah. Berarti Adam sama Nabila pulang dari Jakarta langsung ke Restoran?"
"Ya engga Dam, kalian istirahat dulu aja dirumah papa, kasian Nabila kecapean diperjalanan"
"Oh oke pah" ucap Adam mengerti. Ia tak sabar menunggu hari kejutan untuk Nabila, pasti Nabila sangat senang.
"Jangan lupa rencana papa tadi yah" peringat papa nya.
"Iya papa, Adam gak akan lupa"
" Oh iya, rumah kamu udah beres dibangunnya, mau ditempati kapan?"
"Nanti aja pah, beres lebaran. Buat hadiah pernikahan"
"Emm bagus, bagus. Ya udah, hati-hati dijalannya Dam. Papa mau kebawah dulu, katanya pacar abang mu dateng"
"Pacar? Namanya siapa pah?" Tanya Adam penasaran.
"Papa belum boleh bilang ke kamu, susah ngejelasin nya. Nanti aja pas semua keluarga kumpul, lebaran ya" Adam mengangkap nada bicara papa nya yang sedikit ragu. Sebenarnya Adam penasaran, namun untuk apa ia pikirkan.
"Ya udah deh pah. Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam salam"
Nabila melirik Adam sekilas.
"Pernikahan siapa Dam?" tanya Nabila yang sedari tadi menguping pembicaraan Adam dan papa.
"Pernikahan sepasang manusia yang saling jatuh cinta" Nabila memutarkan matanya jengah.
"Mulai lebay nya, oh iya tadi apaan kalo kita pulang langsung ke Restoran"
"Ada acara lamaran Bil"
"Ohh"
"Berangkat sekarang?" Tanya Adam. Nabila mengangguk sambil mengambil tasnya diatas meja rias.
"Yuk" Adam berdiri mengambil kopernya dam berjalan terlebih dahulu keluar rumah. Sesampainya dimobil Adam memasukkan kopernya terlebih dahulu kedalam bagasi lalu duduk dikursi supir.
"Nanti kita nginep dimana Dam?" Tanya Nabila. Adam menyalakan mesin mobil.
"Liat aja nanti, pasti kamu seneng banget Bil" Adam menjalankan mobilnya dan menghiraukan Nabila yang tengah berfikir keras.
"Emang dimana? Apartement aku? Tapi apartment aku udah ada yang ngisi, temen aku" Tanya Nabila.
"Ya engga lah Bil. Dihotel"
"Ohh. Emang dihotelnya ada apaan bisa bikin aku seneng banget?" Tanya Nabila antusias, ia senang bisa kembali menginjakkan kakinya ke Jakarta lagi.
"Kok kamu tau banget sih Dam" kekeh Nabila.
"Bil" panggil Adam.
"Apa Dam?" Nabila melirik Adam.
"Bang Safiq punya pacar" ucap Adam, kening Nabila mengerut bingung.
"Terus? Ya bagus dong Dam, Putri nanti punya mamah"
"Tapi saya ngerasa ada yang janggal Bil"
"Janggal?"
"Semuanya kayak yang nyembunyiin identitas pacarnya Bang Safiq. Pertama, saya tanyain namanya ke mamah nama pacar bang Safiq, gak dijawab, mamah malah bilang tanya aja ke Bang Safiq. Liat foto nya ke Anisa, gak dikasih. Tadi keayah, tunggu lebaran"
"Iya yah, aneh juga. Ke Bang Safiq udah ditanyain?"
"Bang Safiq cuma bilang kalo itu bukan pacarnya, temen deket aja"
"Ohh, ya udah lah Dam. Positif thinking aja" ujar Nabila, dirinya sendiri pun sebenarnya merasa ada yang aneh.
"Iya Bil" Adam sangat yakin jika pacar bang Safiq adalah wanita yang ia kenal, tapi Adam sendiri tidak bisa menebak siapa itu.
__ADS_1
°°°
"Mau langsung kestudio apa jalan-jalan dulu?" Tanya Harry diperjalanan. Harry melirik Mikha yang bersandar bosan dikursi.
"Emm, terserah kamu aja" jawab Mikha tak semangat.
"Kita jalan-jalan dulu aja ya" ujar Harry terus melajukan mobilnya melewati studio.
"Oh iya, soal bayaran kamu udah aku transfer ya" lanjut Harry.
"Iya" lagi-lagi Mikha hanya menjawab singkat, padat, dan jelas.
"Emm, Kamu mau kemall gak?" Tanya Harry.
"Masih pagi Her, kayanya belum buka deh"
"Kemana ya?. Ya udah, kita ketaman aja ya" putus Harry, Mikha hanya mengangguk setuju.
"Yuk turun" Ajak Harry saat sudah memarkirkan mobilnya dipinggir taman. Mikha tak menjawab dan langsung membuka pintu mobil.
"Mau duduk dimana?" tanya Mikha. Harry yang baru memasukkan kunci mobil kedalam saku menghampiri Mikha dan mengambil tas yang dibawa Mikha.
"Disana aja, tas biar aku yang bawa ya, takut berat" modus Harry.
"Ih gak usah, gak berat kok Her"
"Udah gak apa-apa, yuk kesana"
"Itu tas cewek loh, kamu gak malu?" tanya Mikha cemas, ditaman ini lumayan banyak orang berlalu lalang. Harry menggelengkan kepalanya.
"Gak apa-apa Mik, ngapain malu bawain tas cewek cantik" goda Harry, kini Mikha tersenyum dan sedikit tertawa.
"Apaan sih Her" kekehnya.
Setelah dua jam mereka menghabiskan waktu di taman dan mengobrol akhirnya mereka memutuskan untuk kestudio.
"Harry!" Panggil bang Tommy saat mereka masuk kedalam studio.
"Kenapa bang?" Tanya Harry sambil menarik tangan Mikha menghampiri bang Tommy.
"Udah tau kabar belum?"
"Kabar apaan?" tanya Harry penasaran.
"Bila nge-WA saya. Katanya jam 2 an mau kesini. Eh, kau Mikha kan?" Tanya bang Tommy. Deg, Harry terdiam. Mikha mengangguk.
"Udah dikontrak agensi?"
"Dulu sih iya, tapi sekarang udah keluar"
"Kenapa keluar?"
__ADS_1
"Soalnya beberapa bulan lagi mau nikah, jadi dilarang kerja sama orangtua. Katanya harus belajar fokus kesuami sama keluarga baru nanti" jawab Mikha. Bang Tommy menggelengkan kepalanya dan menatap Harry kasian.