
"Istri saya Tan" jawab Adam tersenyum.
"Eh. Istri?" Mamah Natasya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Nanti saya ceritain ke Tante lewat telepon"
"Oh iya kalo gitu Dam. Titip salam aja sama Mamah Papa kamu ya"
"Iya Tante. Pasti saya sampaikan, saya juga pamit ke Natasya ya Tan. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Mamah Natasya.
Adam segera keluar dari toko itu dan mulai mencari Nabila yang tampaknya sudah jauh. Langkahnya terhenti didepan toko peralatan bayi. Di lihatnya Nabila sedang berbincang-bincang dengan seorang perempuan yang tengah dipeluk pinggangnya oleh laki-laki yang tadi berjalan dengan Nabila.
"Bil?" sapa Adam saat sudah di pinggir Nabila. Ketiga orang itu menengokan kepalanya bersamaan.
"Eh Adam? Maaf belum ngasih tau aku kesini, kamu nyari-nyari aku ya?" Nabila memasang wajah menyesalnya.
"Iya gak apa-apa Bil"
"Eh iya Dam. Kenalin ini temen SMA aku. Shaila sama Rendi" Shaila memberikan senyuman manisnya pada Adam, sedangkan Rendi memasang wajah penasaran.
"Pak Adam ya?" tanya Rendi membuat kedua perempuan terkejut. Adam tersenyum dan mengangguk.
"Iya Ren" senyum Rendi mengembang. Dijabatnya tangan Adam.
"Pak Adam kenapa gak kekantor lagi. Banyak temen-temen distaf saya yang kangen sama bapa" ucapnya kagum melihat Adam, Adam hanya tersenyum.
"Emang kakak saya gak ramah ya?" gurau Adam.
"Pak Safiq baik pak, tapi ya gitu, cuek" jujur nya.
"Kalian udah kenal?" tanya Nabila bingung.
"Suami kamu itu mantan manajer gue dulu di kantor Bil" bisik Rendi. Nabila menatap Adam bingung.
"Bos? Katanya karyawan biasa?"
"Itu kan dulu Bil. Nanti saya jelasin di rumah ya" Nabila mengangguk.
"Pak Adam waktu di kantor baik banget Bil. Suka ngajak gue sama karyawan lain nge-gym bareng seminggu sekali"
"Panggil Adam aja Ren. Saya belum terlalu bapa-bapa kan?" Rendi tersenyum bersalah.
"Iya Dam. Sumpah, gak pernah ngebayangin Adam itu suami lo Bil"
"Oh iya. Kapan nih nyusul punya dedek bayi?" goda Shaila.
"Nanti kalo udah dikasih sama yang diatas, ya kan Dam?" Adam menganggu.
"Eh, Udah punya anak?" tanya Adam.
"Alhamdulilah, 2 bulan yang lalu. Kembar laki-laki" jawab Rendi.
"Alhamdulilah. Maaf saya gak jenguk ya. Sikembarnya gak dibawa?"
"Iya gak apa-apa Dam. Lagi sama neneknya, jadi gak di bawa" Adam tersenyum mengangguk mengerti.
"Udah beli baju nya?" Nabila mengangguk.
"Mau langsung pulang?" tanyanya.
"Iya"
"Kita pulang duluan ya" pamit Nabila.
"Assalamualaikum" pamit Adam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
Adam menggenggam tangan kanan Nabila lembut saat keluar dari toko.
"Adam" teriak seorang perempuan dari belakang, membuat langkah mereka terhenti. Nabila mengerutkan keningnya saat melihat pemilik suara tersebut.
'Mirip sama cewe yang di galeri Adam. Tunggu, berarti itu Tasya' batin Nabila. Di lihat nya Adam yang sedang tersenyum kecil pada perempuan dan mungkin ibunya Tasya.
Kedua orang itu menghampiri mereka. Senyum Natasya memudar saat melihat tangan Adam dan Nabila bergandengan.
"Hai" sapa Natasya pelan.
"Bolehkan kapan-kapan aku ngajak kamu jalan-jalan di Bandung. Aku gak tau tempat-tempat bagus disini"
"Iya boleh" jawab Adam. Nabila menatap Adam tak percaya, perasaannya tiba-tiba menjadi kesal. Sedangkan Natasya sebaliknya, senyumnya kembali mengembang.
"Beneran ya" pekiknya.
"Insyaallah Tasya. Nanti kita berempat jalan-jalan. Kalo gitu saya duluan pulang ya. Tante, kita pulang duluan ya" Mamah Natasya mengangguk.
"Maaf ya Dam kalo Natasya ngerepotin kamu"
"Engga ko tan. Assalamualaikum" pamit Adam. Nabila memasang wajah cuek nya saat mereka sudah berjalan menjauhi kedua orang itu.
"Itu temen aku" Jelas Adam. Nabila mendehem kecil.
"Udah tau" cetusnya sambil berjalan mendahului Adam.
°°°
"Bil, kok gak bersuara sih?" Adam mengelus tangan Nabila dengan ibu jarinya, namun Nabila tetap bungkam.
"Bil, kamu tidur" goda Adam.
"Ck, emang ada ya orang tidur bisa jalan?" ketus Nabila.
"Kamu kenapa sih Bil? Saya bikin salah?" tanya Adam karena langkah Nabila menjadi cepat dan tangannya terus melepas paksa tangan Adam namun Adam terus menggenggam tangan Nabila. Nabila menghentikan langkah nya dan berbalik menghadap Adam.
"Ih dasar aneh! Dimarahin malah senyum" Nabila hendak membalikan badannya dan melanjutkan jalan namun Adam menahannya.
"Apaan? Masih mau lama-lama di mall? Kata nya mau pulang" tanya Nabila kesal.
"Kamu cemburu ya?"
"Ihh, cemburu apaan coba?"
"Kata orang kan kalo cemburu tanda nya cinta. Berarti kamu udah cinta saya"
"Ihh Adam. Aku tuh lagi kesel sama kamu" Nabila membalikan badannya memunggungi Adam. Wajah nya bersemu merah.
"Tuh kan kesel. Kesel gara-gara saya nerima ajakan Tasya tadi kan? Menurut saya sih kamu cemburu" goda Adam.
"Bil" Adam mensejajarkan tubuh mereka.
"Tuh kan muka kamu merah" Adam mencolek pipi Nabila.
"Ihh Adam. Aku malu"
"Malu kenapa?"
"Tau ah!" Nabila mempercepat langkahnya, diikuti Adam yang terus menggodanya.
"Nabila, itu beneran temen saya"
"Iya tau, mantan temen hidup" cerewet Nabila.
****
__ADS_1
"Mah, perempuan yang sama Adam siapa ya?" tanya Natasya sambil berjalan beriringan dengan Mamah nya.
"Mamah juga gak tau. Emang kenapa sayang?" ucap Mamah Natasya bohong.
"Kurang suka aja liatnya mah. Oh iya, dulu itu aku sama Adam punya hubungan apa sih mah? Temen biasa?"
"Kamu sama Adam tuh pacaran sayang. Kalian pacaran udah lama banget, bertahun-tahun. Bahkan waktu kamu di Rusia kalian masih pacaran"
"Jadi kita belum putus ya mah?" tanya nya antusias.
"Eh?" Mamah Natasya bingung harus menjawab apa. Anaknya terlihat sangat senang, apa ia harus mengatakam dengan jujur kalau Adam sudah menikah?.
"Tapi kalo yang tadi itu pacar baru Adam gimana mah?"
"Emang kamu ngerasain apa waktu ketemu Adam?"
"Aku ngerasa seneng aja, kayak udah nyaman dan gak asing buat aku. Awalnya sih kayak yang asing, tapi liat mamah ngobrol sama dia aku jadi banyak ngeliatin dia?"
"Menurut mamah dia orangnya gimana?"
"Adam anak yang baik sayang"
"Kata Natasya perempuan tadi sodaranya Adam deh mah, buktinya dia nerima ajakan aku, didepan perempuan itu" ucap Natasya senang. Mamahnya hanya tersenyum bersalah melihat anaknya yang terlihat bahagia.
****
"Sial!" teriak Harry.
"Kenapa sih Her?" tanya perempuan cantik yang baru saja masuk kedalam ruangan studio foto Harry.
"Ga apa-apa. Gue pusing aja Put mikirin Nabila" perempuan itu duduk di sebelah Harry. Tangannya memijat lengan atas Harry.
"Ngapain mikirin Nabila sih Her. Bawa santai aja, kalo jodoh gak akan kemana" ucapnya berusaha menenangkan Harry, namun hatinya sangat senang karena Harry dan Nabila sekarang berjauhan.
"Putri lo gak tau apa-apa tentang Nabila selama dia di Bandung. Semua yang udah gue rencanain gagal" gumamnya. Bagaimana bisa Nabila tidak menghubunginya selama seminggu ini, padalah Harry sudah bersusah payah mengatakan bahwa Adam itu gay! Apa Nabila tidak merasa jijik menikahi seorang pria gay!.
"Nih minum dulu. Lo gak fokus terus dari tadi, kalo emang lo lagi galau gara-gara Nabila, seengganya lo harus tetep profesional jadi fotografer" Putri memberikan sebotol air mineral didalam tasnya pada Harry. Harry menerima air mineral itu tanpa beban lalu meminum nya.
"Lo gak puasa Her?" tanya Doni saat membuka pintu ruangan.
"Gak. Ngapain lo kesini?"
"Ck, gue mau minjem kamera lo. Kamera gue low, lagian lo juga diem mulu dari tadi"
"Ambil aja tuh" Harry menunjuk kameranya yang terletak di atas kursi.
"Oke. Thanks"
Harry mengambil ponselnya yang bergetar di dalam saku jaket nya. Nomor tak dikenal.
"Hallo. Siapa?"
"Maaf, ini Harry?" tanya perempuan disebrang sana.
"Iya. Sorry, ini siapa ya?"
"Ini Mikha kak"
"Mikha anaknya pak Toni?"
"Iya"
"Oh. Ada apa?" tanya Harry malas. Mikha memang cantik, tapi terlalu polos dan penurut. Menurutnya Mikha sangat membosankan dan sedikit merepotkan.
"Aku dapet kabar dari Ayah"
"Kabar apa?"
__ADS_1
"Kata ayah, kakak ngemajuin tanggal tunangan kita, bener?"
"WHAT!"