
Nabila" panggil Adam sambil mendudukan tubuhnya yang awalnya berbaring menjadi duduk bersandar di sandaran ranjang.
"Iya" Nabila menoleh dengan cepat pada Adam.
Tepat saat Adam ingin meminta maaf dan menceritakan masalah nya Adzan Magrib mulai berkumandang. lebih baik bercerita setelah Shalat saja pikir Adam.
"Kita shalat berjamaah ya. Saya wudhu dulu. Ajak Putri juga"
"Tapi Putri tadi siang di bawa Anisa ke rumah mamah" Adam mengangguk. Adam turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi. Adam keluar dengan wajah yang lumayan segar tidak seperti tadi, wajah lelah dan masam, tapi tetap tampan. Lalu Nabila masuk untuk berwudhu.
Mereka berdua Shalat dengan khusyu dan setelah selesai Nabila meminta Adam mengajarkannya membaca Al-Qur'an, membuat Adam mengurungkan niat nya untuk bercerita. Nabila memandang Adam kesal.
"Banyak yang aku lupa Adam" rengeknya saat mulai membaca satu ayat. Adam tersenyum manis.
"Kita belajar dari awal aja ya Bil. Tunggu" Adam berjalan kearah lemari buku dikamarnya, mengambil Iqra berukuran sedang lalu kembali duduk di hadapan Nabila.
"Dari Iqra satu. Untuk perkenalan setiap abjad nya ya" Nabila cemberut.
"Untuk mengingat Dam"
__ADS_1
"Iya Bil iya. Maaf"
Saat selesai mengaji mereka membereskan peralatan shalat mereka.
"Udah makan belum Dam?" tanya Nabila saat mengingat Adam yang baru pulang. Adam menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Membuat Nabila melotot.
"Belum makan? Dari kapan?"
"Terakhir makan bersama" Nabila menatap suaminya sedih. Hiks, Istri macam apa aku ini? Membiarkan suaminya kelaparan, terakhir makan bersama saat jam 10 pagi tadi sedangkan Nabila jam 4 sore tadi sudah makan mie instan. Dan jika makan juga itu masakan hasil Adam, ia hanya membantu mencuci sayuran dan mencuci piring kotor. Nabila menyesal dirinya tidak bisa masak.
"Kenapa ga makan? Nanti sakit gimana? Ya udah aku masakin telor ya, maaf aku cuma bisa masak itu" Adam tersenyum. Bukan masalah besar jika Adam belum makan, dirinya sudah terbiasa puasa senin-kamis. Jadi tidak makan 8 jam, tidak membuat Adam kelaparan berlebihan.
"Aku aja yang masak. Kamu tunggu disini"
Setelah Nabila keluar. Ponsel Adam bergetar, nama Akbar tertera di layar ponselnya.
"Astagfirullah, kenapa aku lupa menghubungi Akbar saat kejadian itu" gumam Adam. Jika Adam ingat ia membawa ponsel, Adam akan menghubungi Akbar untuk meminta bantuan, tapi apa sempat? Sepertinya tidak.
"Assalamualaikum Bar"
__ADS_1
"Waalaikumsalam ka. Ka Adam masih ada urusan?"
"Engga Bar. Maaf tadi saya ga ke masjid lagi"
"Iya ga apa-apa Ka. Ini temen-temen nanyain, jadi rapat kan abis Isya?"
"Oh iya. Jadi Bar, soalnya besok saya ga bisa ke masjid"
"Iya Ka. Ka Adam Shalat Isya dimana?"
"Di rumah. Habis shalat saya kesana"
"Oke ka. Wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam
Tak berapa lama Nabila masuk kedalam kamar membawa sepiring nasi yang diatasnya telor mata sapi dan segelas air mineral. Nabila merasa sedih dengan dirinya sendiri. Memberi makan suaminya sendiri hanya dengan telor ceplok, padahal di dalam kulkas banyak sekali bahan-bahan masakan bahkan daging pun ada. Tapi ada daya jika kemampuan memasaknya kecil.
****
__ADS_1