
Sudah dua hari dari hari ulangtahun Putri. Adam dan Nabila sudah kembali menjalankan aktivitas mereka berdua seperti semula. Adam sering berada di Masjid karena bulan suci Ramadhan akan segera tiba, sedangkan Nabila mulai mengurus kuliahnya di Bandung.
Malam ini mereka berada di rumah berdua. Anisa dan Putri belum juga kembali dari rumah Mamah Papa dari kemarin, membuat rumah ini sangat sunyi.
"Assalamualaikum. Bil, Gimana sama Universitas nya?" tanya Adam yang baru masuk kedalam kamar. Nabila yang sedang sedang memakai night-cream didepan cermin menoleh kearah Adam.
"Waalaikumsalam. Suka Dam, bagus" jawab Nabila. Adam duduk di pinggir kasur sambil membuka kopiah hitamnya.
"Ngelanjutin semester berapa?" tanya Adam.
"Semester 6. Emm, harusnya nya sih tahun kemaren udah lulus. Cuma aku banyak Tunda skripsi. Dan Semoga tahun sekarang aku bisa lulus Dam"
"Aminn"
"Jurusan apa?"
"Akuntansi keuangan"
"Nanti saya bantuin deh bikin skripsinya. Saya juga lulusan Akuntansi. Tapi akuntansi Manajemen"
"Wahh, boleh tuh tawarannya. Makasih ya Dam" ucap Nabila tersenyum senang lalu kembali manatap cermin sambil meratakan Cream di wajahnya.
Setelah selesai Nabila duduk di sebelah Adam.
"Udah lama di Bandung?" tanya Nabila mulai penasaran akan sosok suaminya itu.
"Dua belas tahunan lah. Sebelum di Bandung kami sekeluarga tinggal di Bali"
"Ohh. Kirain tinggal di luar negeri"
"Bukan. Ke Amerika cuma 2 tahun sekali buat ketemu Nenek kakek dari Mamah di sana" jawab Adam.
"Ohh iya, Kamu kan lulusan Akuntansi Manajemen nih. Kenapa ga kerja di perusahaan aja?"
"Udah pernah waktu itu. Tapi cuma 3 tahun, sekarang di gantiin sama bang Safiq. " Nabila hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Eh iya. Ceritain lagi dong tenang cerita yang waktu itu kamu cerita in ke anak-anak pas ngaji di masjid" Nabila antusias.
"Oh boleh-boleh" Nabila langsung menghadapkan badan nya di depan Adam, Adam pun sama halnya dengan Nabila. Mereka saling berhadapan. Nabila menatap Adam dengan serius.
"Tentang Seorang Wanita dan Tukang Besi
Ketika si tukang besi sedang duduk di rumahnya melepas lelah setelah seharian bekerja, tiba-tiba terdengar pintu rumahnya diketuk orang. Si tukang besi keluar untuk melihatnya, pandangannya menubruk pada sesosok wanita cantik yang tak lain adalah tetangganya.
__ADS_1
“Saudaraku, aku menderita kelaparan. Jika bukan karena tuntutan agamaku yang menyuruh untuk memelihara jiwa (hifdz al-Nafs), aku tidak akan datang ke rumahmu. Maukah engkau memberikan makanan padaku karena Allah?” Tutur wanita itu" Adam mulai bercerita.
"Kenapa cewe itu kelaperan Dam sampe minta makanan segala?" Tanya Nabila. Adam tersenyum.
"Ketika itu, memang tengah datang musim paceklik (kemarau) Bil. Sawah dan ladang mengering. Tanah pecah berbongkah-bongkah. Padang rumput menjadi tandus hingga hewan ternak menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan menjadi langka, maka tak pelak kelaparan melanda sebagian besar penduduk desa itu. Hanya sebagian kecil yang masih bisa bertahan" Nabila mengangguk.
"Terus, si cowo itu ngasih?"
"Awal nya tidak Nabila. Bahkan pria itu berkata “Tidakkah engkau tahu bahwa aku mencintaim? Akan kuberi engkau makanan, tetapi engkau harus melayaniku semalam,” kata tukang besi itu.
Si tukang besi memang jatuh hati kepada tetangganya itu. Dia merayunya dengan berbagai cara dan taktik, namun tak juga berhasil meluluhkan hati wanita itu.
“Lebih baik mati kelaparan daripada durhaka kepada Allah,” ujar wanita itu lagi sambil berlalu menuju rumahnya.
Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali mendatangi rumah si tukang besi dan mengatakan hal yang sama. Demikian pula jawaban si tukang besi. Ia akan memberi makanan asalkan wanita itu mau menyerahkan dirinya. Mendengar jawaban yang sama, wanita itupun kembali ke rumahnya.
Dua hari kemudian, wanita itu datang lagi ke rumah tukang besi itu dalam keadaan payah. Suaranya parau, matanya sayu, dan punggungnya membungkuk karena menahan lapar yang tiada tara. Ia kembali mengatakan hal serupa. Begitu pula jawaban si tukang besi, sama dengan yang sudah-sudah. Wanita itu kembali ke rumahnya dengan tangan kosong untuk kali ketiga."
"Ihh kok jahat banget sih Dam. Harusnya dia kasih aja, kan cowo itu suka sama si cewe. Terus, kalo cowo itu emang bener-bener suka. Kenapa dia ga nikahin si cewe itu?. Biar mereka berdua halal, bukan nya malah nyuruh cewe itu kaya pelacur" Komentar Nabila. Adam tersenyum mendengar komentar Nabila.
"Bener Bil. Tapi, Ketika itulah, Allah memberikan hidayah-Nya kepada si tukang besi. “Sungguh celaka aku ini, seorang wanita mulia datang kepadaku, dan aku terus berlaku dzalim kepadanya,” tutur tukang besi dalam hatinya. “Ya Allah aku bertaubat kepada-Mu dari perbuatanku dan aku tidak akan mengganggu wanita itu lagi selamanya.”
Si tukang besi itu bergegas mengambil makanan dan pergi ke rumah wanita itu. Diketuknya pintu rumah wanita itu. Tak lama berselang, kerekek…terlihat pintu terbuka dan muncullah sesosok wanita yang nampak kuyu. Melihat si tukang besi berdiri di depan pintu rumahnya, wanita itu bertanya, “Apa keperluanmu datang ke rumahku?”
“Aku bermaksud mengantarkan sedikit makanan yang aku punya. Jangan khawatir, aku memberinya karena Allah,” jawab si tukang besi itu.
Si tukang besi itu pulang ke rumahnya. Ia memasak makanan yang tersisa buat dirinya. Tiba-tiba secara tak sengaja bara api mengenai kakinya, namun kaki si tukang besi itu tidak terbakar. Bergegas ia menemui wanita itu lagi.
“Wanita yang mulia, Allah telah mengabulkan doamu,” ujar si tukang besi.
Seketika itu, wanita itu sujud syukur kepada Allah.
“Ya Allah engkau telah mewujudkan doaku, maka cabutlah nyawaku saat ini juga.” Terdengar suara lirih dari mulut wanita itu dalam sujudnya. Allah kembali mendengar doanya. Wanita itupun berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan sujud.
Demikianlah kisah seorang wanita yang menjaga kehormatannya meskipun harus menahan rasa lapar yang tiada tara" Adam menyelesaikan ceritanya. Nabila menganggup kedua pipinya sendiri sambil cemberut.
"Ko cewenya meninggal sih Dam? Aku kira mereka bakalan nikah" gerutu Nabila.
"Saya juga ga tau Nabila. Emang ceritanya kaya gitu" jawab Adam sedikit tertawa.
"Lagii" rengek Nabila. Adam menggeleng.
"Udah malem. Mendingan kita tidur. Besok deh saya cerita in lagi" jawab Adam lalu berdiri melangkahkan kaki nya ke lemari baju.
__ADS_1
"Janji ya besok ceritain lagi"
"Iya. Sekarang kamu tidur dulu udah jam 11" ujar Adam kembali mengingatkan. Nabila mengangguk senang lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Bil. Saya baru inget, kata Abi nomor hp kamu ga aktif ya?" tanya Adam saat hendak memasuki kamar mandi.
"Eh iya. Tadi siang hp aku abis batre Dam. Lupa di-cas" jawab Nabila langsung duduk di atas ranjang. Dengan cepat Nabila turun dari ranjang mengambil tasnya. Di keluarkan nya hp mati itu lalu di-cas disebelah lampu tidur.
Adam masuk kedalam kamar mandi mengganti pakaian nya. Saat keluar dari kamar mandi Adam melihat Nabila yang sedang memainkan hp nya sambil di-cas.
"Balum tidur Bil?" tanya Adam. Nabila menoleh lalu dengan cepat mengunci kembali hp nya dan menyimpan di atas meja sekarang lampu tidur tadi.
"Ini baru mau tidur Dam" cengir Nabila lalu duduk di sisi kasur.
"Ya udah, kita tidur sekarang aja ya" Adam naik ke atas kasur, berbaring di sebelah kanan Nabila yang sudah terlebih dahulu berbaring.
"Kita baca doa sebelum tidur dulu ya" ucap Adam. Setelah mereka berdua selesai membaca doa Adam memejamkan matanya sambil bergumam.
"Selamat malam Nabila"
Nabila tersenyum. Di tongoknya wajah Adam yang sudah mulai terlelap tidur. Hidungnya yang mancung, alis yang lumayan tebal, mata yang selalu menatap tajam jika sedang bertatapan dengan nya namun terlihat kelembutan di dalamnya. Rahang yang kokoh dan bibirnya yang tipis.
"Selamat malam Adam" gumam Nabila pelang bahkan sangat pelan. Mungkin hanya ia saja dan Allah yang mendengar nya.
Nabila jadi ingat pesan masuk dari Harry tadi. 2 pesan dari Abi dan 4 pesan dari Harry.
Pesan 1. Bil! Lusa gue ke Bandung ya, gue mau lepasin lo dari pernikahan itu
Pesan 2. Lagi ngapain sih Bil??
Pesan 3. Hey
Dan pesan ke 4 yang paling membuat Nabila risih.
Bil ada berita bagus. Pemotretan di undur lusa, besok gue bisa ke Bandung. Gue tunggu di Gasibu ya sayang. Gue udah punya rencana buat lo biar bisa cerai sama si Adam. Jangan lupa besok jam 10 ya :*
Jujur saja Nabila sudah merasa nyaman dengan Adam, tidak ada niat sedikit pun untuk bercerai dengan Adam. Walaupun tidak ada rasa Cinta tapi Nabila sudah nyaman dengan Adam.
****
Bersambung
Vote
__ADS_1
Vote
Vote