Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 10


__ADS_3

 


Langit kian menghitam, hujan tak kurun berhenti. Matahari sudah nampak kembali beristirahat. Hanya saja tidak ada cahaya rembulan yang menyinari di sore itu. Sekitar jam 18.00 WIB, Kami masih saja menyusuri jalan yg menghubung ke Jl. Candi Mulyo ini, seluruh badanku telah basah kuyup.


 


Di tengah perjalanan kami mendapati jalan yang sangat sepi, hanya pepohonan yg berbaris di sepanjang jalan itu. Semakin gelap dan gelap, tiba-tiba Astrid memeluk erat saat tengah melewati jalan yg sangat gelap itu.


"Ada apa?" tanyaku.


"Tadi itu apa?" tanya Astrid balik.


"Yang mana?" Tanyaku lagi.


"Ya udah kalau kamu nggak lihat." jawab Astrid pasrah.


 


Aku pikir dia melihat sesuatu yg entah aku tak melihatnya. Atau itu hanya perasaan Astrid saja yg takut gelap.


Sesampai di pertigaan Dusun Petung. Sudah banyak rumah dan warung. Kami memilih untuk berhenti sejenak, kami berharap dengan berteduh sebentar bisa mengurangi dinginya malam itu. Sekitar jam 19.00 WIB kami berteduh di teras rumah yang nampak tidak ada orang di dalamnya. Kami istirahat sebentar, dia mengeluarkan sebotol air minum dan salak yg kami beli tadi. Kami memakan beberapa salak itu sambil terdiam mendengarkan suara hujan yg semakin deras.


 


Astrid tiba - tiba mengeluarkan Handphone Asus Zenfone Selfie miliknya dari dalam tasnya yg cukup basah.

__ADS_1


 


 


"Aku mau foto dulu di sini, sama kamu." Kata Astrid.


"Kelihatan ya? "Jawabku.


"Aku beli hp ini karena banyak mode nya, termasuk mode malam ini, jadi masih bisa kelihatan."


"Ya udah coba foto."


 


Setelah kami berfoto, kami setuju untuk melanjutkan perjalanan ke Alun\-alun Magelang, meski hujan tak kunjung reda. Karena waktu juga sudah cukup malam. Jam 20.00 WIB, kami kembali melaju, dia tetap memelukku dalam keadaan basah. Aku tidak mempermasalahkan itu, mungkin dia kedinginan.


Aku memakai helm retro Kyt berwarna ungu yg kacanya sudah sedikit buram, jadi sepanjang jalan itu kaca helm ku tidak aku tutup. Kalau ku tutup pasti gelap, terlebih hujan itu kembali deras. Langit sedang tidak bersahabat, atau mungkin hujanlah yg menyukai kisah ini dan menjadi saksi bisu untuk perjalanan kami.


Kami memutuskan untuk kembali berteduh sampai hujan tidak terlalu deras. Kami berhenti di depan sebuah toko kecil yg sudah tutup. Aku berhenti dan berteduh dengan meneduhkan motorku juga, supaya kami bisa duduk di motor sambil berteduh.


 


"Gio, jangan sakit!" Ucap Astrid.


"Aku nggak pernah sakit kok."

__ADS_1


"Pokoknya nggak boleh sakit."


"Aku udah satu tahun nggak pernah sakit kok."


 


Astrid tidak merespon ku, dia masih duduk di belakangku dan terdiam. Tidak memeluk dan tidak bersandar di punggungku, aku menolehnya. Aku tersenyum dan heran, baru saja ngobrol tapi dia sudah tidur begitu saja. Aku heran kenapa bisa tidur dengan posisi duduk seperti itu. Perlahan aku turun dari motor, dia tidak bergerak sedikitpun. Mungkin dia sudah lelah. Aku kasihan, baru juga keluar dari rumah sakit sudah mengajak jalan\-jalan sampai kehujanan.


 


Aku perhatikan wajah cantiknya yg terbasuh air hujan. Tiba-tiba ia terbangun.


"Aku ketiduran." Katanya sambil manja.


"Hujan-hujan gini enaknya tiduran di kamar, musikan, slimutan, sambil main Hp, enak." Sahutku.


"Maaf ya Gio, harusnya kamu tiduran di kamar, tapi malah hujan-hujanan sama aku.


"Enggak kok, aku juga seneng jalan-jalan."


"Kamu nggak boleh sakit."


"Enggak akan."


 

__ADS_1


Aku tersenyum meyakinkan dia untuk tetap tenang tanpa memikirkan kesehatanku. Ya memang aku jarang sakit, itu anugrah Tuhan yg sangat aku syukuri.


 


__ADS_2