
Duduk di rak sepatu yang biasa ku duduki, aku sudah menunggunya selesai bekerja, menyelesaikan laporan - laporan keuangan. Handphone Astrid biasa ku bawa untuk bermain game, aku menginstal game kesukaanku di handphone dia. Setiap aku beda shift dengan Astrid, aku suka meminjam hp nya untuk bermain game. Walau kadang ada notif pesan masuk dari Jafar, aku membiarkan saja sampai Astrid sendiri yang meminta hp nya.
Sekitar tiga puluh menit aku menunggunya, akhirnya dia datang menghampiriku.Dari kejauhan matanya sudah menatapku.
"Gio handphone ku.." kata Astrid yang sudah berdiri tepat di depanku meminta hp nya.
"Ini.. Udah selesai?" sambil ku berikan handphone nya.
"Tinggal di foto terus di kirim.." jawab Astrid saat menerima Hp nya kembali.
Ia langsung memutar balik tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam.
Beberapa menit kemudian ia keluar dari pintu, berjalan pelan dan berhenti di depanku. Ku perhatikan dari kakinya tersadar bahwa itu memang Astrid yang sedang terdiam menggenggam handphonenya. Aku diam saja, mungkin ia sedang ngobrol dengan pacarnya.
Beberapa karyawan berpamitan untuk segera pulang. Dan hanya tinggal Astrid dan aku saja. Aku menunggunya selesai dari urusannya itu. Astrid melirikku dan berhenti menatap layar hp nya. Mungkin ia menyadari aku sudah menantinya.
"Besok kamu libur kan, Kamu udah pernah ke mangunan?" tanya Astrid sambil duduk di sebelah kiriku dengan posisi menyilangkan kakinya.
"Iya libur, Mangunan, apa itu?" aku menoleh ke sebelah kiri.
"Negeri di atas awan yang ada di Jogja.. Kaya di Wonosobo." Astrid menjelaskan dengan mencondongkan badannya ke arahku.
"Mau ke sana?" tanyaku.
"Tapi itu harus pagi biar kelihatan awannya, coba aku kasih lihat di instagram." tangannya menggeser layar handphone miliknya.
"Nah seperti ini.." Astrid memperlihatkan foto tempat wisata Mangunan itu. Matanya membulat, senyumnya melebar. Melihatnya yang seperti itu seperti ada harapan bahwa aku akan menurutinya.
"Mau ke sana kapan?" tanyaku.
"Besok pagi.. Gimana?" Tanya Astrid balik.
"Ya udah.. Terus berangkatnya mau gimana?" tanyaku.
"Emmm... " bola matanya melirik ke sudut kiri atas, ia sedang memikirkan sebuah rencana.
Dahiku mengkerut penasaran apa yang sedang ia pikirkan, bahkan aku saja tidak tahu arah untuk ke sana.
__ADS_1
"Kita nanti di warnet aja.." kata Astrid, bola matanya langsung menoleh padaku.
"Bentar.. Aku lihat di google map dulu, jalan mau ke sana.." Ia membuka google map dan menunjukan rute yang akan kami lewati.
"Nahh kita lewat Janti.." Astrid menunjuk rute yang ia perlihatkan.
"Ohh aku tahu, warnet yang dulu aku biasa buat nongkrong sama temenku, lokasinya di kledokan." kataku.
"Ya udah itu aja, kita tidur di warnet. Besok pagi kita berangkat dari situ biar nggak kesiangan pas sampai sana.." kata Astrid.
"Ya udah mau ke berangkat kapan?" tanyaku.
"Kita berangkat sekarang aja!" kata Astrid.
Aku segera mengambil jaketku yang ku letakan di dalam kamar. Karena jaketnya ku gantungkan di dinding aku melewati Omes yang sedang tiduran sambil menggenggam handphone miliknya.
"Nengdi yok?" tanya Omes. (Kemana Yok?)
"Neng Mangunan.." jawabku (ke mangunan)
"Meh bali ora?" tanya Omes (mau pulang enggak?)
Omes tersenyum dan kembali fokus pada handphonenya. Aku pakai jaketku dan segera menghampiri Astrid yang menungguku di luar. Saat ku buka pintu ku lihat Astrid sudah berdiri bersiap untuk berangkat.
"Kita kemana?" tanyaku sambil berjalan menghampirinya.
"Ke kos ku dulu, aku mau ganti baju dulu.." jawab Astrid yang memberikan kunci motor miliknya.
Aku berjalan mendahului Astrid menuju motornya. Astrid mengekor di belakangku dan segera ia duduk di belakangku.
*******
Aku menunggu di depan gerbang, ia segera masuk ke dalam kos. Setelah beberapa menit ia kembali muncul di hadapanku mengenakan jaket milikku yang ku pinjamkan beberapa waktu lalu. Ketika ia memakai barang punyaku, itu membuatku merasa senang, karena menurutku ia mau menghargainya.
"Aku lapar.." Astrid merengek dengan wajah yang manja mendekatiku.
"Mau makan dulu?" tanyaku sambil memegang pipinya.
"Iya.. Makan dulu.." jawabnya.
__ADS_1
"Ya udah sambil jalan, kita cari makan.." kataku sambil memakai helm.
Kami pergi meninggalkan gerbang bersejarah itu, ya sejarah antara aku dengannya. Kami menyusuri jalan sambil menoleh ke kanan kiri.
"Mau makan apa?" tanya Astrid,
"Ya kamu mau makan apa?" tanyaku,
"Kita ke burjo itu aja.."
"Yang depan itu?"
"Iya.. Aku pengen mie telor.."
Kami menuju ke warmindo yang ia pilih. Saat ku parkirkan motor, aku mendengar suara tv yang sedang menayangkan siaran langsung sepak bola.
"Eh sekarang Barca main.." aku segera melepas helmku.
"Iya kah?" tanya Astrid yang juga sedang melepas helmnya.
"Ayoo.. Buruan kita masuk.. Haha.." aku tidak sabar untuk segera duduk dan ikut menonton sepak bola, apa lagi itu Barcelona, tim yang ku sukai.
"Dasar.. Sumpah ni anak. Lihat dia ketawa bisa bikin seneng." kata Astrid yang mengikutiku dari samping.
Mataku mengarah ke kursi kosong yang pas dengan letak tv itu menghadap. Kami sudah di sambut si penjual yang sedang berdiri di dekat tv.
"Mau makan apa A'..?" tanya si mas - mas penjual itu, dari bahasanya aku langsung menyimpulkan kalau dia orang sunda, karena ia memanggilku dengan A'.
"Aku mie telor aja A'..!" Astrid meletakan tas yang ia bawa di sebuah kursi kayu yang panjang.
"Mie telur aja?" tanya si penjual.
"Aku magelangan.. Minumnya es nutri jeruk nipis." kataku.
"Aku milo aja.." kata Astrid.
"Oke.." si penjual segera memproses pesanan kami.
Aku kembali fokus ke layar tv, sedangkan Astrid mengeluarkan smartphone nya. Entah apa yang dia lakukan, aku hanya fokus ke tv dulu.
__ADS_1