Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 36


__ADS_3

Malam itu selalu mengganggu pikiranku, selalu saja aku mengingat saat wajahnya tepat di depanku. Ada rasa penasaran saat ia mencoba akan mendaratkan bibirnya ke bibirku. Ah sial... Dia membuatku mengingat hal itu.



Malam ini outler kembali cukup ramai, aku beberapa kali mengambil es teh untuk ku minum, aku berusaha untuk terus bergerak cepat dan harus tetap fokus, jadi mudah dehidrasi karena tempat penataan menu itu ada satu lingkup dengan dapur. Aku meletakkan es teh itu di dekat pintu penghubung ke kasir, supaya tidak menggangguku ketika aku harus bergerak bebas.



Aku sudah kembali dehidrasi, aku segera mengambil es teh yang sudah ku sediakan di meja itu, depan pintu. Saat aku mencoba untuk mengambilnya, astaga sudah tidak ada isinya. Aku berpikir siapa yang meminum ini, aku melirik ke kanan, ku pikir tidak ada yang akan meminum ini. Aku melirik ke kiri, ada Astrid yang sedang di kasir.



Aku mengambil es teh lagi, aku minum sedikit dan ku letakan kembali di tempat yang tadi, aku meneruskan beberapa nota yang harus ku selesaikan sebelum ada komplain karena pesanan terlalu lama.



Coba ku intip saat Astrid hendak jalan dari kasir melewati es teh yang ku letakkan tadi, aku menunggu dari balik pintu kemana dia akan menuju, tapi tidak segera muncul juga. Ada jeda saat ia berjalan dari ruang kasir menuju ke bartender untuk membantu mengantar minum.



Aku coba mengecek gelasku dari belakang pintu, sudah tinggal setengah, hmm ternyata dia yang meminumnya. Tidak lama ia kembali dengan nampan yang kosong dan meletakkan di meja bartender. Astrid kembali ke kasir lagi untuk melayani konsumen yang sudah menunggu untuk pesan. Aku mengambil gelas tadi dan ku minum meski tinggal sedikit.



Jika aku melakukan ini apa dia akan marah, aku berpikir bagaimana jika aku sedikit menjahilinya, aku mengisi kembali gelasku dengan es teh dengan penuh. Aku berjalan ke dapur, mataku mengamati garam dan micin, baiklah aku mengambil garam dua sendok dan ku aduk ke dalam es teh hingga larut. Aku kembalikan gelas ke tempat tadi aku meletakkannya.


__ADS_1


Aku kembali melanjutkan pekerjaanku, dengan mengamati Astrid yang masih melayani konsumen. Mataku mencoba mengikuti kemana arah Astrid akan berjalan, dia memberikan nota kepadaku, dan berlalu pergi menuju ke bartender untuk memberi nota juga. Dia tidak meminumnya, dia hanya melewati es tehku. Ia pergi keluar, mungkin mau mengambil beberapa piring dan gelas yang sudah habis di pakai. Setelah cukup lama ia kembali membawa gelas kotor yang sudah di kumpulkan dalam tapperware.



Karena hanya tinggal menunggu lauk matang, mataku mengikuti arah Astrid berjalan dan benar saja ia meminum es teh ku yang sudah ku campur dengan garam.


"Ahhhhh.. " Astrid berteriak saat mulai meminum es teh itu, aku menahan tawa saat tahu ia terperangkap dengan jebakanku.


"Siapa yang menaruh garam di sini?" tanya Astrid dengan menatap ke arahku,


Akhirnya aku melepas tawa yang sudah tidak bisa ku tahan. Meski aku melihat ekspresi Astrid hanya cemberut menghadapku, dan pergi begitu saja. Sepertinya ia marah, astaga apa dia benar marah? Dia duduk di ruang kasir dan diam saja. Aku beberapa kali memanggilnya, ia sama sekali tidak meresponku. Aku langsung menghampirinya, untuk menenangkan amarahnya.


"Astrid kamu marah? Haha.." aku berdiri di sampingnya,


"Bodo'.."


"Bodo'.."


"Tuh kan marah.. Kamu kan nggak boleh minum es banyak. Makanya aku kerjain sekalian. Biar kamu nggak minum es banyak."


"Hm"


"Haha udah udah.." aku pergi meninggalkan areanya.


Dia tidak benar\-benar marah, aku tahu dia hanya bercanda ngambeknya. Dia sudah dewasa juga. Mana mungkin dia mudah marah hanya gara\-gara hal seperti itu.


__ADS_1


Seperti biasanya, setiap shift telah usai aku tidak membiarkannya langsung pulang. Selalu ada hal yang ingin ku ceritakan, apa saja ku bicarakan. Berbicara dengannya membuat otakku terasa lebih fresh, ini pertama kali aku sedekat ini dengan gadis yang masih kuliah, terlebih dia berbicara dengan bahasa Indonesia setiap harinya. Membuatku terbiasa dengan bahasa itu, sebab dia tidak terlalu mengerti bahasa Jawa.


Ada sekitar tiga kursi berbahan plastik di dalam ruang kasir. Aku mengambil dua untuk ku duduki bersamanya. Pukul setengah satu, aku masih asik ngobrol dengannya. Aku terdiam menatap tajam ke dalam dapur. Ada yang tidak beres begitu pikirku. Aku terus mengawasi meski dari dalam ruang kasir. Aku heran ada sekelebat bayangan putih yang ku pikir itu adalah kucing. Mataku terus menatap tajam namun tidak ada jawaban dari rasa penasaranku.


"Ada apa?" Astrid bertanya dengan heran.


Aku hanya melirikkan mata untuk merespon pertanyaannya.


"Ayo kita keluar.." kataku.


Aku menarik tangannya untuk keluar dari ruangan itu. Aku masuk ke mess untuk mengambil jaket, tiba-tiba Astrid berlari masuk mengikutiku dengan tergesa-gesa.


"Ada apa?" tanyaku sambil memakai jaket.


Astrid hanya diam dan menatapku yang sedang menghampirinya.


"Ada?" tanyaku.


Ia hanya mengangguk dan tersenyum. Tanganku ia pegang, mungkin dia takut.


"Di mana?" tanyaku sambil berjalan menuju pintu.


Aku membuka pintu keluar dan clingak-clinguk mengamati luar.


"Tadi pas aku buka pintu dia ada, duduk di rak sepatu. Dia senyum menatapku, rambutnya pendek." kata Astrid.


"Nggak apa-apa.. Ayo kita pindah aja." kataku.

__ADS_1


__ADS_2