Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 2


__ADS_3

Hari ke 2.


Pagi itu udara masih sejuk. Ya, maklum karena tempat ku bekerja tak jauh dari gunung Merapi, tapi kalau sudah siang udara berubah menjadi panas seperti di kota.


Di tempat kerja ku sistem nya 2 shift, shift 1 dari jam 07.00 sampai 15.45, dan untuk shift 2 masuk dari jam 15.15 sampai 23.00 sudah closing.


Kebetulan ada Messnya di sini, jadi aku tak perlu pulang ke Magelang.


Di Mes ada 3 orang yang tinggal. Aku, Afif dan Dedi. Aku punya sahabat namanya Afif asal Wonosobo. Biasanya dia di panggil Omesh. Kami sangat dekat, kami sudah kenal sejak 2015.


Di hari itu aku masih masuk shift dua, dan sekitar jam tiga kurang seperempat aku mandi dan siap untuk bekerja.


Seperti biasa saat itu kami sudah berkumpul, berdoa dan siap masuk di job nya masing-masing.


Saat itu Astrid masuk training kasir, namun dia tetap aktif membantu yang membutuhkan, dia cukup aktif dalam membantu. Entah sampai kapan ia akan bertahan seperti itu. Aku mencari kesibukan lalu duduk memetiki gagang cabe untuk di jadikan sto sambal nantinya, ia menghampiriku dan duduk di sebelahku.


"Aku ikutan ya.. Ayo kita balapan", tantangnya, tangannya mulai bergerak dengan cepat. Astaga dia sudah seperti terbiasa melakukan ini. Aku hanya tersenyum dengan sikapnya yang ku lihat dia lucu, polos.


"Kamu tadinya kerja dimana?" tanyaku.


"Di Aldan bawah itu.."


"Berati kenal sama Mas Dedy?" tanyaku.

__ADS_1


"Iya tadinya satu kerjaan." jawabnya.


"sekarang juga satu kerjaan lagi." kataku.


"Iya, aku nggak tahu kalau Mas Dedy juga di sini."


Mataku melirik Mas Dedy yang sedang menyiapkan gelas di area bartender. Dia tersenyum mendengar obrolan kami.


Saat itu Astrid sedang duduk di ruang kasir, ku lihat Omesh datang dan tiba-tiba minta PIN BBM,


Ya waktu itu masih hits dengan adanya BlackBerryMessenger.


Aku hanya melihat dari tempatku. Akupun berpikir aku tidak seberani itu meminta kontaknya.


"Astrid, kamu mau makan nggak?" tanyaku.


"Iyahh tapi nanti aja," jawab Astrid.


"Emm, telur mau?" tawar ku.


"Maukkk." jawabnya dengan polos.


"Ini di makan dulu mumpung masih anget."

__ADS_1


"Iyaa nanti aja gak apa-apa."


"Aku taruh sini, nanti di ambil ya?"


"Iyaa,"


Saat itu aku tidak punya niat untuk lebih dekat dengannya, mungkin dekat selayaknya teman sudah cukup. Tapi, teman-teman yang lain sudah pada heboh. Seperti hal nya Mas Matin memanggil namaku "gio gio gio gio," itu yg sering membuat ku tertawa. Bahkan Astrid pun ikut menirukan. Tapi dia hanya 3 kali, "Gio Gio Gio,".


Mas Matin memang kadang sering meledek karena memang kami cukup akrab, dia adalah Kepala Outlet di sini. Meskipun begitu ia sangat dekat dengan semua karyawan. Bahkan sejak sebelum Astrid masuk kerja, ia sudah memberi tahuku bahwa akan ada kasir cantik yang mau kerja di sini.


Setelah malam penghujung shift selesai Astrid sudah mau pulang,


"Astrid pulang dulu ya Pak Matin."


"Iya hati-hati,"


"Assalamualaimum."


"Waalaikum salam."


Hari itu semua sangat normal. Dan ku pikir masih biasa saja. Aku hanya tertarik cara dia berbicara, dari logat nya aku tertarik, dia terlihat lucu.


Hal.2

__ADS_1


__ADS_2