
Urusan di UII sudah selesai, harusnya kami sudah kembali ke jakal. Tapi Astrid bilang dia ingin ke Hartono mall. Aku ikuti saja kemana ia mau, keperluan apa biarlah, asal aku yang masih menemani.
Setelah parkir motor di area parkir kami berjalan menuju pintu masuk. Berkeliling mencari celah di antara ratusan motor yang parkir, hingga akhirnya aku dan Astrid sudah berada di depan pintu masuk yang terbuat dari kaca. Astrid clingak clinguk mencari lift, aku terus saja mengikuti arah langkahnya yang agak cepat.
Kami sudah berdiri di depan lift menunggu pintu liftnya terbuka. Sampai akhirnya pintu liftnya sudah terbuka dan kami masuk. Hanya kami berdua yang ada di dalam lift, menunggu hingga pintu liftnya akan terbuka di tempat tujuan.
Setelah sampai dan pintu lift telah terbuka, aku dan Astrid segera bergegas keluar dari dalam lift. Aku memperhatikan penampilannya hari ini. Menurutku hari ini terlihat lebih cantik. Berjalan menyusuri ruang dan lantai, hingga akhirnya berada di suatu tempat yang di sana terdapat alat - alat kecantikan. Aku paham ia mencari lipstik. Aku menemaninya, tapi aku tidak memperhatikan apa yang ia beli.
Sebenarnya mataku masih sedikit merasa ngantuk, meski begitu aku tidak ingin kehilangan waktu bersamanya.
"Udah?" tanyaku.
"Udah, yuk!" jawabnya.
Kami berlalu meninggalan tempat tadi, berjalan mencari escalator yang paling dekat. Sampai di samping escalator Astrid berhenti.
"Ada apa?" tanyaku sambil menoleh ke wajahnya.
"Kita foto dulu yuk." kata Astrid sambil mengeluarkan hp nya.
"Kamu yang pegang.. Aku sedang merasa cantik." ia mengulurkan hpnya padaku.
"Kan emang cantik." kataku.
"Dududududu.."
Setelah beberapa foto telah di ambil, aku dan dia memutuskan untuk pulang. Saat ku lihat jam sudah jam satu.
"Yuk pulang, udah jam satu. Biar nanti bisa istirahat dulu." kataku.
"Kamu ngantuk?" tanya Astrid sambil menatap mataku.
"Sedikit sih.."
"Ya udah, aku yang depan aja kalau kamu ngantuk." katanya.
"Yakin?" tanyaku.
"Udah kamu nanti tidur di belakang.." katanya.
"Kalau aku yang tidur pasti jatuh, beda sama kamu." kataku.
__ADS_1
"Hahaha.. Astrid mah kalau udah tidur anteng!"
Akhirnya kami menuju parkiran untuk segera kembali ke Jakal. Mataku sudah mulai berat.
"Aku mau beli J-CO lagi.." kata Astrid.
"Mau beli di mana?" tanyaku.
"Tapi besok aja.. Besok kita nonton Danur ya!?" kata Astrid.
"Hhm.. Iya kalau pas masuk shift pagi.." kataku.
Mataku sudah terasa berat seperti ada monyet bergelantungan di kelopak mataku. Kalau aku tidur pasti akan jatuh, dan Astrid akan terasa berat kalau aku bersender di punggungnya. Perjalanan dari Hartono mall juga cukup jauh untuk sampai di Jakal.
"Astrid.." aku memanggilnya, ia tampak berkonsentrasi mengemudi.
"Iyaa.." jawabnya tanpa menoleh.
"Kamu ingat nggak waktu malam itu aku tanya kamu sayang sama aku nggak, terus kamu bilang iya." kataku. Suaraku terdengar berat, seperti orang mabuk.
"Pas kamu udah ngantuk.. Pas aku ngantar kamu pulang ke kos." kataku.
"Enggak ingat, masa aku bilang iya gitu?" Astrid masih tidak percaya.
"Iya kan.. Astrid sayang ke Gio! Haha.." kataku.
"Pemaksaan.." kata Astrid.
"Kan kamu suka di paksa. Haha.." kataku.
"Mana ada.." Astrid menyangkal bahwa ia pernah mengatakan itu.
"Beneran.. Kamu tuh jawab iya. Berati fix kamu sayang aku haha.."
"Dududududu..." Astrid terus saja mengelak dengan apa yang ku ceritakan.
Mungkin memang ia tidak sadar saat ia menjawab pertanyaan di malam kemarin.
*********
__ADS_1
Astrid mengantarku sampai di depan outlet, ia tidak langsung memutar arah motornya. Motornya ia parkirkan di dekat motor konsumen yang sudah tertata rapi.
"Aku pingin makan yang dingin-dingin.." kata Astrid sambil wajahnya menghadap padaku.
"Mau beli apa?" tanyaku heran.
"Ayo kita ke Mami Mart, aku mau pengen es krim." katanya sambil membuat langkah kecil mendekati sebuah mini market yang ada di sebrang jalan.
"Kamu mau nggak? Ayo." Astrid menarik tanganku untuk mengikuti ia berjalan.
Setelah sampai di sebuah mini market Astrid mendorong pintu kaca dan berjalan menuju ke tempat es krim itu di letakkan.
"Kamu mau yang mana?" tanya Astrid sambil matanya memilih di antara es krim yang ada di depan matanya.
"Aku sama kek punyamu aja." kataku.
"Kamu yang ini aja, aku yang ini.." Astrid mengambil dua es krim coklat namun berbeda labelnya.
Astrid berjalan menuju ke kasir untuk melakukan transaksi. Aku menunggunya di luar, duduk di kursi berwarna merah. Tak lama kemudian Astrid menyusul duduk di sebelahku dengan menenteng kantong plastik berwarna putih yang di dalamnya ada es krim yang kami beli tadi.
Aku menempatkan kursiku di belakang penyangga yang cukup lebar. Baru ku buka bungkus es krim milikku itu. Astrid menoleh kanan-kiri terheran karena aku sembunyi di balik penyangga.
"Kamu kenapa duduknya mepet-mepet di situ?" Astrid menggeser kursinya mendekatiku.
"Aku malu kalau makan di tempat terbuka begini, apa lagi di lihatin orang yang lewat." kataku sambil menggigit es krim yang ku pegang.
"Hahahaha.. Mana ada yang lihatin?" sambil menoleh ke seberang jalan.
"Aku nggak biasa begini, duduk makan es krim di pinggir jalan." aku menutupi es krimku yang ku gigit di belakang penyanggah.
"Hahaha astaga.. Di ajak makan es krim di pinggir jalan malu." suara Astrid terdengar agak keras. Apa lagi di depan ada mobil pick up lewat dan berisi banyak orang yang menoleh ke arah kami.
"Tuh tuh tuh.. Pada ngelihatin kita.." kataku, sambil menyembunyikan badanku di balik penyanggah yang berbentuk balok itu.
"Haha.. Baru tahu, kalau Gio di ajak Astrid makan es krim bisa semalu ini." kata Astrid.
Es krim yang biasanya di ****, di jilat. Tapi kalau aku yang makan langsung ku gigit dan di kunyah. Apa lagi makan es krim di pinggir jalan yang terbuka, dan berdua saja yang makan. Kalau memang makan di tempat makan itu sih wajar. Tapi ini di depan mini market, di samping jalan yang ramai kendaraan. Meskipun Astrid terhibur dengan kelakuanku ini.
__ADS_1