
Kembali di depan gerbang kosnya. Di bawah pohon rindang yang berdiri kokoh di antara dua bangunan yang menjadi tempat usaha orang\-orang. Kesunyian yang merebak bersama angin malam. Aku membiarkannya untuk tidur di punggungku lebih lama. Udara yang dingin tak mampu mengusik nyamannya ia terlelap, namun tidak juga begitu berpengaruh untuk tubuhku. Helm masih ku pakai, jaket, sepatu, hingga baf yang melingkar di leherku.
"Udah sampai?" Astrid terbangun dari lelapnya. Ia melepas dekapan tangannya, dan turun dari motor. "Udah bangun kamu.." aku memegang pipinya.
"Ya udah selamat tidur ndoro putri.." aku mencium keningnya ketika ku pastikan tidak ada orang yang melihat kami. Astrid terlihat benar-benar ngantuk, membuka gembok saja sudah susah. Aku menunggunya hingga masuk.
Saat ku lihat ia sudah masuk, pintu sudah ia gembok lagi. Aku menyalakan motor, segera aku bergegas meninggalkan gerbang, pergi untuk pulang. Sampai di mess masih seperti biasa, aku harus meminta Omes atau Cahyo yang harus membuka. Sebenarnya tidak enak, rasanya ingin ngekos sendiri supaya tidak mengganggu mereka. Tapi sangat nanggung, karena Astrid tidak lama lagi akan resign.
Resign, mungkin akan tiba saatnya. Namun aku tidak ingin ia segera pulang ke Tangerang. Memulai adaptasi kembali, adaptasi tanpa dia di sini. Bisa saja aku yang pergi ke Tangerang, tapi aku tidak yakin untuk ke sana. Masih sedikit rasa sesal, saat aku pergi ke Bogor yang harusnya kerja sesuai informasi yang ku dapat, ternyata kenyataannya berbeda. Tapi dengan adanya Astrid, mungkin akan berbeda. Hanya saja untuk proses sampai Tangerang pasti butuh dana, apa lagi kalau belum fix hanya akan mengurangi waktu yang harusnya untuk kerja, tapi mengambil libur untuk interview.
Malam semakin larut, membuatku enggan berlama\-lama bercumbu dengan sendu. Kelopak mataku sudah semakin terasa berat, dan akan menjadi akhir untuk hari ini.
*********
Terketuk pikiranku kembali dari alam bawah sadar. Mataku terbuka sipit, cahaya menyilaukan yang terpancar dari bola lampu yang di nyalakan oleh mereka yang sudah mulai beraktivitas di waktu pagi ini.
Drrrd drrrd drrrd..
Handphone ku yang terletak di sebelah kananku bergetar di saat aku masih ingin kembali menutup mata, aku memiringkan badanku untuk meraih handphonku. Aku terbangun dan duduk, bersender pada tembok berwarna hijau. Sesekali aku tanganku menutup mulutku yang menguap.
"Hm ternyata hanyalah alarm.." aku ingat hari ini masih masuk shift dua. Ku pikir ada pesan dari Astrid, ternyata tidak.
Aku menoleh ke sebelah kiriku, Omes dan Cahyo sudah tidak ada. Mereka bangun lebih awal karena masuk shift satu. Aku mencoba menghubungi Astrid. Aku mengirim pesan whatsapp saja.
"Selamat pagi.." pesanku sudah terkirim,
Setelah beberapa menit, ia membalas pesanku.
"Pagi juga.."
__ADS_1
"Mau sarapan enggak?"
"Iya, mau makan di mana?"
"Aku ke kosmu ya?"
"Makan di situ aja. Aku pengen makan paket cumi."
"Ya sudah.. Aku tunggu sini."
"Aku mandi dulu.."
Aku segera menyalakan motor untuk menjemputnya, apa lagi motornya masih aku yang bawa.
"Rengdi yok?" tanya Omes yang hendak mau ke kamar mandi. (Mau kemana Yok?)
"Golek sarapan sik." jawabku. (Nyari sarapan dulu)
Beberapa menit kemudian aku sudah sampai di depan gerbang yang biasa aku datangi. Aku membuka gerbangnya dan masuk sampai depan kamar kosnya. Aku duduk di kursi yang terletak di samping pintu yang sedikit menutupi kaca jendela.
"Gio bentar ya..?" suara Astrid yang terdengar dari balik pintu.
Aku menunggu sambil barmain game di handphoneku. Setelah sekitar setengah jam aku menunggu, suara gagang pintu itu ku dengar. Astrid membuka pintu itu dan menyambut dengan senyuman manisnya.
"Nggak lama kan?" tanya Astrid, sambil ia menutup kembali pintu kamarnya.
"Enggak kok.." jawabku dengan senyum, aku beranjak pergi menuju motor Astrid yang tadi ku bawa.
"Kita makan di SC bawah aja gimana?" tanya Astri.
"Soalnya aku mau mengembalikan buku, udah lama aku pinjam." imbuhnya.
"Hhm.. Ya udah ayo. Nanti kamu yang depan ya?" aku sambil nyengir.
"Emangnya kenapa?" Astrid heran.
"Aku kan nggak punya SIM kalau siang gini ada polisi gimana? Haha.." kataku.
__ADS_1
"Hmmm dasar Dek Gio." kata Astrid meledekku.
"Apaan.. Nggak mau aku di panggil Dek!" kataku.
"Kamu kan lebih muda dari aku.." katanya.
"Aku nggak mau jadi adikmu haha.." kataku.
Kami mulai meninggalkan kossan. Langit cukup cerah, cahaya matahari mulai memancarkan hawa yang terasa hangat.
"Kapan-kapan mau nggak nemenin aku ke makam bapakku?" tanyaku.
"Boleh.. Bawa bunga juga?" tanya Astrid.
"Terserah aja, biasanya ke sana bersih-bersih di kuburan bapakku, dan cuma doain aja." kataku.
"Makamnya di mana?" tanya Astrid.
"Di Pakis, di desa Pakde waktu itu." kataku.
"Ohh yang waktu kita di suruh makan itu kan?" tanya Astrid.
"Iya.. Waktu kamu ngecas hp mu.." kataku, sambil melihat kaca spion sebelah kiri yang ku arahkan ke wajahnya.
"Masakan Bude kamu enak.." kata Astrid.
"Pas aku ngrasain bisa seenak itu.." tambahnya.
"Aku juga suka masakan Bude ku. Haha.." kataku.
"Ya udah besok kita ke sana makan lagi haha.." imbuhku.
"Haha.. Aku malu," kata Astrid.
"Kenapa malu? Anggap aja itu di rumahku." kataku.
"Kan belom kenal.." sahutnya.
__ADS_1
"Asal jangan di jual haha.."
Sampai di perempatan Kentungan aku memintanya untuk gantian yang bawa motor. Rasanya memang aneh kalau cowok di boncengin sama cewek. Tapi, ah yang penting aman.